Rabu, 11 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Media Sosial dan Standar Kecantikan: Pengaruhnya terhadap Psikologis Perempuan

Tata - Wednesday, 11 February 2026 | 01:19 AM

Background
Media Sosial dan Standar Kecantikan: Pengaruhnya terhadap Psikologis Perempuan

Di era digital, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook bukan hanya sarana berbagi momen, tetapi juga menjadi ruang terbentuknya standar kecantikan modern. Sayangnya, standar kecantikan yang ditampilkan sering kali tidak realistis dan dapat memengaruhi kondisi psikologis perempuan.

Melalui foto dan video yang telah diedit dengan filter serta teknologi penyempurna wajah, media sosial menampilkan gambaran fisik yang terlihat sempurna. Kulit mulus tanpa noda, tubuh ideal, wajah simetris, hingga gaya hidup glamor menjadi gambaran yang terus-menerus dikonsumsi pengguna. Paparan berulang terhadap konten semacam ini dapat memicu perbandingan sosial, di mana seseorang mulai membandingkan dirinya dengan apa yang dilihat di layar.

Perbandingan sosial yang berlebihan dapat berdampak pada menurunnya rasa percaya diri. Banyak perempuan merasa tidak cukup cantik, tidak cukup langsing, atau tidak sesuai dengan tren kecantikan yang sedang populer. Kondisi ini dapat menimbulkan ketidakpuasan terhadap tubuh (body dissatisfaction) yang berujung pada gangguan citra diri.

Tidak hanya itu, tekanan untuk tampil sempurna juga dapat memicu kecemasan dan stres. Keinginan untuk mendapatkan validasi melalui jumlah "like", komentar positif, atau pengikut yang banyak bisa menjadi beban psikologis tersendiri. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, seseorang bisa merasa gagal atau tidak berharga.

Dalam beberapa kasus, dampak yang lebih serius dapat muncul, seperti gangguan makan, depresi, hingga isolasi sosial. Standar kecantikan yang sempit dan cenderung homogen juga dapat membuat perempuan merasa harus mengubah penampilan secara drastis, termasuk melalui prosedur kosmetik yang belum tentu aman.

Meski demikian, media sosial tidak sepenuhnya berdampak negatif. Banyak juga gerakan positif yang mendorong penerimaan diri (self-acceptance) dan keberagaman bentuk tubuh. Kampanye body positivity dan self-love menjadi langkah penting untuk melawan standar kecantikan yang tidak realistis.

Untuk menjaga kesehatan mental, penting bagi perempuan untuk membangun kesadaran bahwa apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan. Membatasi waktu penggunaan media sosial, mengikuti akun yang memberikan energi positif, serta memperkuat rasa syukur terhadap diri sendiri dapat membantu menjaga keseimbangan emosional.

Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Standar kecantikan seharusnya tidak menjadi tekanan yang merusak kepercayaan diri. Setiap individu memiliki keunikan dan nilai yang tidak ditentukan oleh tampilan luar semata.