Jumat, 29 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Lelah Ikuti Tren Fashion? Simak Tips Biar Tetap Stylish

RAU - Wednesday, 27 May 2026 | 04:25 PM

Background
Lelah Ikuti Tren Fashion? Simak Tips Biar Tetap Stylish

Menjadi Keren Itu Capek: Evolusi Gaya dari Thrifting Sampai Gorpcore yang Bikin Dompet Menangis

Pernah nggak sih kamu berdiri di depan lemari pakaian yang penuhnya minta ampun, tapi merasa nggak punya baju sama sekali buat dipakai pergi? Padahal, tumpukan baju itu sudah hampir tumpah keluar. Kalau iya, selamat, kamu sedang mengalami krisis eksistensial ala manusia modern yang terjebak dalam pusaran tren fashion yang mutarnya lebih cepat daripada baling-baling bambu Doraemon. Jujurly, mengikuti perkembangan fashion zaman sekarang itu rasanya kayak lari maraton tapi garis finish-nya selalu dipindah-pindahin tiap minggu.

Dulu, urusan berpakaian itu sederhana. Asal bersih, rapi, dan nggak bau matahari, ya sudah cukup. Tapi sekarang? Wah, standarnya beda lagi. Kita masuk ke era di mana identitas seseorang seringkali dinilai dari apa yang menempel di badannya. Ada istilah "skena", ada "gorpcore", ada "vintage vibes", sampai "minimalis aesthetic" yang kalau dilihat-lihat kok malah bikin kita harus beli lebih banyak barang demi terlihat minimalis. Ironis, kan?

Thrifting: Dari Kebutuhan Jadi Gengsi

Mari kita bicara soal fenomena thrifting. Beberapa tahun lalu, beli baju bekas di Pasar Senen atau Pasar Baru mungkin dianggap sebagai pilihan bagi mereka yang budget-nya lagi cekak. Tapi lihat sekarang, thrifting sudah naik kelas. Mencari baju bekas sudah jadi hobi bergengsi yang namanya kerenan dikit: hunting vintage. Bayangkan, ada orang yang rela panas-panasan, udek-udek tumpukan kain yang baunya khas karbol, demi mendapatkan satu kaos oblong tahun 90-an yang gambarnya sudah agak retak-retak. Harganya? Bisa lebih mahal daripada kaos baru di mall!

Lucunya, sekarang muncul istilah "curated thrift shop". Ini adalah tempat di mana baju bekas sudah dicuci wangi, difoto estetik pakai kamera analog, lalu dijual dengan harga yang bikin dompet menangis. Kita bukan cuma beli baju, tapi kita beli narasi "kelangkaan" dan "selera". Ada kepuasan tersendiri saat teman bertanya, "Beli di mana?" dan kita bisa menjawab dengan santai, "Oh, ini dapet pas lagi digging di pasar kaget, cuma ada satu di dunia." Rasanya kayak baru saja memenangkan lotre, padahal ya itu baju sudah pernah dipakai orang lain berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Gorpcore: Jaket Gunung di Tengah Polusi Jakarta

Setelah tren baju bekas, muncul lagi tren yang nggak kalah unik: Gorpcore. Kalau kamu sering lihat anak muda nongkrong di kafe di daerah Jakarta Selatan pakai sepatu gunung merek Salomon atau jaket waterproof Arc'teryx padahal langit lagi cerah-cerahnya, itulah penganut aliran ini. Secara harafiah, mereka berpakaian seolah-olah siap mendaki Gunung Everest, padahal tujuan aslinya cuma mau pesan es kopi susu gula aren di ruangan ber-AC.



Fenomena ini menarik karena menunjukkan bagaimana fungsi pakaian sudah bergeser jauh dari kegunaan aslinya. Dulu, orang pakai jaket windbreaker karena mau naik gunung biar nggak kena hipotermia. Sekarang, orang pakai jaket itu karena tekstur kainnya kelihatan bagus kalau difoto buat feed Instagram. Fashion memang seringkali nggak logis, tapi ya itulah seninya. Kita rela gerah-gerahan demi sebuah estetika yang disebut "outdoor chic". Lucu memang, tapi ya gimana, keren itu butuh pengorbanan, minimal pengorbanan menahan keringat yang mengucur deras di balik jaket gore-tex.

Skena dan Seragam yang Katanya "Beda"

Lalu ada lagi yang namanya gaya anak skena. Biasanya identik dengan kaos band oversized, celana cargo atau corduroy lebar, dan sepatu kets yang kalau bisa warnanya sudah agak kusam biar kelihatan "bercerita". Tujuannya sih mau tampil beda dan anti-mainstream. Tapi saking banyaknya yang ikut-ikutan, ujung-ujungnya malah jadi seragam baru. Kalau kamu pergi ke konser musik indie, isinya hampir semua begitu. Jadi, apakah kita benar-benar mengekspresikan diri, atau kita cuma sedang berusaha keras untuk masuk ke dalam satu kotak kelompok sosial tertentu?

Ini adalah paradoks fashion anak muda zaman sekarang. Kita ingin terlihat unik, tapi di saat yang sama, kita takut kalau nggak ikut tren yang lagi viral di TikTok. Kita takut dibilang ketinggalan zaman atau nggak "valid". Padahal kalau dipikir-pikir lagi, fashion itu harusnya jadi ruang bermain yang bebas, bukan malah jadi beban pikiran yang bikin kita merasa kurang terus.

Antara Fast Fashion dan Rasa Bersalah

Di balik semua keglamoran tren ini, ada satu gajah besar di dalam ruangan yang sering kita abaikan: dampak lingkungan. Industri fast fashion itu jahatnya minta ampun buat bumi. Kita beli baju murah, dipakai tiga kali, lalu dibuang karena modelnya sudah dianggap kuno. Limbah tekstil menumpuk, sungai tercemar, dan pekerja garmen dibayar dengan upah yang sangat tidak layak.

Makanya, mulai muncul gerakan "slow fashion" atau "sustainable fashion". Tapi ya itu tadi, barang-barang yang ramah lingkungan biasanya harganya selangit. Akhirnya, banyak dari kita terjebak di tengah-tengah. Mau beli yang ramah lingkungan nggak sanggup, mau beli fast fashion merasa bersalah. Solusi paling masuk akal ya sebenarnya simpel: pakai baju yang ada sampai rusak. Tapi ya namanya manusia, godaan diskon di e-commerce itu godaannya lebih berat daripada godaan mantan yang tiba-tiba chat "P".



Kesimpulan: Jadilah Diri Sendiri (Asal Nyaman)

Pada akhirnya, fashion itu soal bagaimana kita merasa nyaman dengan kulit kita sendiri. Mau kamu pakai baju bekas yang harganya sepuluh ribu dapat tiga, atau pakai brand high-end yang harganya seharga motor matic, kalau kamunya nggak percaya diri, ya bakal kelihatan aneh juga. Fashion bukan cuma soal apa yang kamu pakai, tapi soal bagaimana kamu membawakannya.

Jangan sampai kita diperbudak oleh tren yang datang dan pergi secepat kilat. Nggak ada salahnya kok kalau kamu masih suka pakai kaos oblong polos dan celana jeans yang itu-itu saja selama bertahun-tahun. Itu bukan berarti kamu nggak modis, mungkin kamu memang sudah menemukan "signature style" kamu sendiri. Jadi, besok kalau mau pergi, nggak usah terlalu pusing sama apa kata orang atau apa yang lagi trending. Pakai apa yang bikin kamu merasa paling jadi "manusia". Karena pada tingkat paling dasar, pakaian itu tujuannya cuma dua: melindungi tubuh dan menunjukkan siapa kita, tanpa perlu banyak bicara.

  • Tips biar nggak boros: Sebelum checkout baju baru, coba bongkar lagi lemari paling bawah, siapa tahu ada harta karun yang terlupakan.
  • Tips biar kelihatan keren: Percaya diri adalah kunci. Bahkan daster atau sarung pun bisa kelihatan high-fashion kalau kamu jalannya kayak di catwalk.
  • Tips buat bumi: Kurangi beli baju cuma karena lapar mata. Pikirkan apakah baju itu bakal tetap kamu suka dua tahun lagi atau nggak.

Jadi, gaya fashion mana yang hari ini bakal kamu pilih? Apakah hari ini kamu mau jadi pendaki gunung palsu, atau mau jadi anak indie yang hobi ngomongin senja? Apapun itu, pastikan kamu nggak lupa pakai parfum, ya!