Jumat, 29 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Martabak Selalu Berhasil Jadi Comfort Food Terbaik?

Liaa - Wednesday, 27 May 2026 | 10:05 AM

Background
Kenapa Martabak Selalu Berhasil Jadi Comfort Food Terbaik?

Menakar Keagungan Martabak: Antara Sogokan Calon Mertua dan Dilema Kalori Tengah Malam

Kalau ada satu aroma yang paling berbahaya di telinga orang Indonesia saat jarum jam sudah melewati angka sembilan malam, itu bukan bau kemenyan atau melati, melainkan bunyi sutil yang beradu dengan loyang besi panas. Pletak, pletak, pletok. Bunyi itu adalah simfoni pengundang air liur yang berasal dari gerobak martabak di pinggir jalan. Entah siapa yang memulai, tapi martabak sudah sah menjadi "comfort food" nomor satu bagi kita semua, melampaui batas kelas sosial, usia, bahkan preferensi politik.

Bayangkan saja, Anda baru saja pulang kerja dengan energi yang sudah di titik nadir. Tiba-tiba di belokan kompleks, aroma mentega Wisman yang lumer bertemu dengan adonan tepung panas tercium sampai ke dalam helm. Seketika, diet yang sudah dijaga ketat sejak Senin pagi runtuh tak bersisa. Di Indonesia, martabak bukan sekadar camilan; ia adalah sebuah institusi budaya.

Perang Saudara: Tim Manis vs Tim Telur

Dunia permartabakan kita terbelah menjadi dua mazhab besar yang hidup berdampingan secara damai, namun tetap memiliki fanatisme masing-masing. Di satu sisi, ada Martabak Manis yang di Jawa Timur sering disebut Terang Bulan. Penamaan ini saja sudah cukup memicu perdebatan panjang di media sosial. Mau disebut apa pun, intinya adalah adonan ragi yang bersarang, tebal, dan bermandi margarin atau mentega mahal.

Martabak manis ini punya sejarah panjang dari masyarakat etnis Tionghoa Hakka di Bangka dengan nama Hok Lo Pan. Dulunya, pilihannya cuma satu: wijen, kacang, dan gula. Tapi lihat sekarang? Kita hidup di era di mana martabak sudah "disekolahkan" setinggi mungkin. Muncul varian Red Velvet dengan cream cheese, Oreo, KitKat Green Tea, sampai Lotus Biscoff yang harganya kadang bikin dompet menangis lirih. Tapi jujur saja, sekeren apa pun topping modern-nya, martabak klasik cokelat-kacang-keju tetap punya tempat spesial di hati yang nggak bisa diganggu gugat. Rasanya seperti pulang ke rumah setelah perjalanan jauh.

Di sisi lain, ada Martabak Telur. Ini adalah opsi bagi mereka yang lidahnya lebih condong ke arah gurih dan pedas. Menonton abang martabak telur beraksi itu sudah seperti menonton pertunjukan sirkus mini. Bagaimana adonan yang awalnya cuma segumpal kecil bisa ditarik, diputar, dan dibanting sampai melebar setipis kertas tanpa robek adalah sebuah sihir yang tak bisa dijelaskan oleh ilmu fisika biasa. Masukkan telur bebek (karena telur bebek adalah kunci kemewahan yang absolut), daun bawang melimpah, dan potongan daging sapi yang sudah dibumbui. Begitu dicelup ke kuah cuko yang asam-manis-pedas dengan acar timun yang segar, semua masalah hidup terasa sedikit lebih ringan.



Diplomasi Martabak: Senjata Ampuh Menaklukkan Mertua

Kita tidak bisa membicarakan martabak tanpa menyenggol statusnya sebagai "alat diplomasi". Ada semacam aturan tidak tertulis di kalangan pemuda-pemudi Indonesia: kalau mau bertamu ke rumah pacar untuk pertama kali, atau mau meminta izin membawa anaknya keluar malam, jangan pernah datang dengan tangan hampa. Dan "sogokan" yang paling aman, paling universal, dan paling efektif adalah martabak.

Membawa martabak manis spesial dengan keju yang melimpah seolah memberikan sinyal kepada calon mertua bahwa, "Pak, Bu, saya adalah calon menantu yang mapan dan tahu cara menyenangkan lidah orang tua." Martabak adalah pelumas obrolan yang kaku. Saat suasana mulai garing karena ditanya "Kapan lulus?" atau "Kerja di mana?", cukup potong satu slice martabak, tawarkan ke beliau, dan biarkan rasa manis itu mengalihkan perhatian dari pertanyaan-pertanyaan interogatif tersebut.

Estetika Kalori yang Tak Kenal Ampun

Namun, di balik kelezatannya, martabak adalah "musuh" bagi timbangan. Pernahkah Anda memperhatikan berapa banyak mentega atau margarin yang dioleskan si abang saat martabak baru diangkat? Itu bukan lagi dioles, tapi dimandikan. Belum lagi siraman susu kental manis yang alirannya sederas air terjun Niagaranya. Satu potong martabak manis diperkirakan mengandung sekitar 250 hingga 300 kalori. Dan siapa, sih, yang bisa berhenti hanya pada satu potong?

Tapi ya, itulah seninya. Ada kenikmatan berdosa (guilty pleasure) saat kita mengunyah bagian pinggir martabak manis yang krispi, atau saat merasakan tekstur kenyal adonannya yang menyerap mentega dengan sempurna. Kita semua tahu itu tidak sehat jika dimakan setiap hari, tapi di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang melelahkan, martabak adalah bentuk self-reward paling jujur. Kita rela menukar joging dua jam besok pagi demi kenikmatan martabak malam ini.

Martabak dan Perubahan Zaman

Sekarang, martabak sudah naik kelas. Jika dulu kita harus antre di pinggir jalan sambil digigit nyamuk, sekarang tinggal "klik" di aplikasi ojek online, dan martabak akan sampai di depan pintu rumah dengan kotak karton yang estetik. Inovasi terus bermunculan. Ada martabak tipis kering (tipker) bagi mereka yang suka sensasi kruncy, hingga martabak telur isi mozarella yang ditarik-tarik ala makanan kekinian.



Meskipun begitu, esensi martabak tetap sama: ia adalah makanan pemersatu. Ia adalah alasan bagi sebuah keluarga untuk berkumpul di meja makan sambil berebut potongan terakhir. Ia adalah teman setia saat nonton bola atau maraton drakor sampai subuh. Martabak tidak butuh validasi dari chef bintang Michelin untuk diakui kehebatannya. Cukup dengan bau harum yang tercium dari kejauhan dan antrean pembeli yang rela menunggu lama, kita tahu bahwa martabak adalah raja jalanan yang sesungguhnya.

Jadi, nanti malam tim mana Anda? Tim manis yang legit atau tim telur yang gurihnya nendang? Apa pun pilihannya, pastikan saja si abang tidak pelit kasih topping keju, karena hidup ini sudah cukup pahit untuk dilewati tanpa martabak yang ekstra keju.