Minggu, 8 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Serba Serbi Ramadhan

Kenapa Harus Ganjil? Menguak Misteri dan Fakta Unik di Balik Kebiasaan Makan Kurma Saat Berbuka

Nanda - Wednesday, 04 March 2026 | 02:45 PM

Background
Kenapa Harus Ganjil? Menguak Misteri dan Fakta Unik di Balik Kebiasaan Makan Kurma Saat Berbuka

alasan kenapa makan kurma harus ganjil, tidak makan banyak dan genap aja?

Bayangkan suasananya: azan Maghrib baru saja berkumandang, perut sudah keroncongan minta ampun setelah seharian menahan lapar dan dahaga, dan di depan mata sudah tersaji berbagai macam takjil yang menggoda iman. Ada gorengan yang masih hangat, es buah yang warnanya segar banget, sampai kolak pisang yang aromanya bikin kalap. Tapi, buat sebagian besar umat Muslim, ada satu ritual "wajib" sebelum menyambar bakwan: makan kurma.

Bukan sekadar makan kurma, ada satu aturan tak tertulis yang seolah sudah mendarah daging, yaitu memakannya dalam jumlah ganjil. Entah itu satu, tiga, atau lima butir. Kalau kebetulan tangan nggak sengaja ngambil dua, biasanya ada suara di belakang yang nyeletuk, "Eh, ganjil dong! Sunnah lho." Fenomena ini bukan cuma soal kebiasaan turun-temurun, tapi punya latar belakang yang cukup dalam, mulai dari sisi spiritual sampai ulasan sains yang bikin kita mikir, "Oh, pantesan aja!"

Sunnah Rasul dan Filosofi Angka Ganjil

Secara historis dan religius, alasan utama kenapa kurma dimakan dalam jumlah ganjil adalah mengikuti sunnah atau kebiasaan Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai riwayat, Rasulullah memang kerap berbuka puasa dengan beberapa butir kurma basah (ruthab), atau kurma kering (tamr) jika tidak ada, dan jumlahnya ganjil. Ada sebuah ungkapan populer yang menyebutkan bahwa "Allah itu satu (ganjil) dan menyukai yang ganjil." Jadi, mengikuti hitungan ganjil ini dianggap sebagai bentuk ibadah sekaligus penghormatan terhadap Sang Pencipta.

Kalau kita tarik ke ranah yang lebih santai, angka ganjil ini seolah menjadi simbol kesederhanaan. Makan satu butir itu cukup untuk membatalkan puasa, tiga butir sudah bikin tenaga balik lagi, dan lima butir mungkin sudah batas maksimal sebelum kita benar-benar lanjut ke hidangan utama. Intinya, ganjil itu punya filosofi tentang keseimbangan yang nggak berlebihan. Nggak kayak kita kalau ketemu gorengan, yang maunya genap terus biar puasnya maksimal, eh tahu-tahu malah kolesterol yang naik.

Apa Kata Sains? Antara Energi dan Gula Darah

Nah, di sinilah bagian yang paling menarik dan sering jadi perdebatan seru di tongkrongan atau grup WhatsApp keluarga. Beberapa tahun belakangan, sempat viral ulasan yang menyebutkan bahwa ada perbedaan dampak kesehatan antara makan kurma dalam jumlah genap dan ganjil. Katanya sih, kalau makan ganjil, kurmanya bakal berubah jadi karbohidrat yang kasih kita energi instan. Tapi kalau genap, katanya malah jadi gula darah dan kalium yang kalau berlebihan nggak baik buat ginjal.



Mari kita bedah secara objektif tanpa harus jadi ahli kimia dadakan. Secara medis, kurma memang "superfood" yang isinya paket lengkap. Ada glukosa, fruktosa, serat, kalium, dan magnesium. Saat kita puasa belasan jam, kadar gula darah kita drop drastis. Tubuh butuh asupan yang cepat diserap tapi nggak bikin kaget. Kurma adalah jawabannya.

Soal jumlah ganjil ini, beberapa penelitian mandiri memang pernah mengamati metabolisme tubuh terhadap asupan gula kurma. Memakan tiga butir kurma dinilai memberikan lonjakan energi yang pas buat otak dan saraf untuk "bangun" kembali tanpa membuat pankreas bekerja terlalu keras. Secara psikologis, menghitung jumlah ganjil juga bikin kita lebih mindful atau sadar saat makan. Kita jadi nggak asal lahap, tapi menghitung dan menikmati setiap gigitannya. Ini adalah bentuk portion control alami yang jenius banget kalau dipikir-pikir.

Bukan Sekadar Mitos, Ini Soal Efisiensi Tubuh

Jujur saja, di zaman sekarang yang serba FOMO dan apa-apa harus viral, kadang kita lupa kalau tradisi kuno itu seringkali punya logika yang sangat maju. Coba deh perhatikan, setelah makan tiga butir kurma dan minum segelas air putih, biasanya rasa lapar yang "menggila" tadi perlahan mereda. Tubuh kita sudah merasa cukup mendapatkan bahan bakar sementara untuk melaksanakan salat Maghrib terlebih dahulu.

Bayangkan kalau kita nggak pakai aturan ganjil atau tanpa aturan sama sekali. Begitu azan, kita langsung sikat nasi padang atau mi instan double. Yang ada bukannya segar, kita malah ngantuk berat pas mau tarawih. Jadi, makan kurma dalam jumlah ganjil katakanlah tiga butir adalah cara paling efisien untuk me-restart sistem pencernaan yang sudah istirahat seharian. Ibarat manasin mobil, kita nggak langsung injak gas pol, tapi dipanasin pelan-pelan dulu biar mesinnya nggak jebol.

Perspektif Milenial: Lifestyle yang Masuk Akal

Buat anak muda zaman sekarang yang peduli sama kesehatan tapi ogah ribet, kebiasaan makan kurma ganjil ini sebenarnya bisa banget masuk kategori life hack kesehatan. Daripada pusing ngitung kalori dari boba atau kopi kekinian saat buka, mending balik ke cara klasik yang sudah terbukti. Kurma itu manisnya alami, bukan pemanis buatan yang bikin tenggorokan sakit.



Gue pribadi sih melihat fenomena "ganjil" ini sebagai pengingat supaya kita nggak serakah. Kadang kita kalau berbuka itu mata lapar banget, semua mau dibeli. Tapi dengan memulai lewat tiga butir kurma, kita seolah diajak untuk ngerem. Ada semacam disiplin diri di situ. Lagipula, makan kurma itu keren kok. Di luar negeri, kurma bahkan jadi cemilan mahal para atlet karena kemampuannya memulihkan energi dengan cepat.

Pada akhirnya, mau kamu makan kurma satu, tiga, lima, atau tujuh butir, yang paling penting adalah niat dan keberkahannya. Alasan kenapa harus ganjil memang berakar kuat pada tradisi agama, tapi ternyata didukung juga oleh logika kesehatan soal pengendalian porsi dan metabolisme energi. Ini adalah perpaduan yang cantik antara iman dan sains.

Jadi, nanti pas Maghrib, jangan lupa siapkan kurmanya. Pilih yang kualitasnya oke, bukan yang sudah "alumni" tahun lalu di dalam kulkas. Nikmati manisnya, hitung jumlahnya dalam ganjil, dan rasakan badannya jadi lebih enak buat lanjut ibadah. Selamat berbuka puasa, dan ingat, jangan biarkan piring gorengan mengalahkan niat dietmu di bulan yang suci ini!