Jumat, 1 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Siapa Sih Pemegang IQ Tertinggi dan Terendah di Dunia? Yuk, Intip Biar Nggak Minder Banget

Laila - Friday, 01 May 2026 | 01:00 PM

Background
Siapa Sih Pemegang IQ Tertinggi dan Terendah di Dunia? Yuk, Intip Biar Nggak Minder Banget

Pernah nggak sih kamu lagi asyik nongkrong di kafe, terus tiba-tiba merasa bego banget cuma gara-gara nggak bisa buka tutup botol minum yang macet? Atau mungkin kamu tipe yang butuh waktu sepuluh menit cuma buat ngitung kembalian pas lagi belanja di minimarket? Tenang, kamu nggak sendirian. Kita semua pernah berada di titik itu. Tapi, di balik drama "lemot" kita sehari-hari, ternyata ada orang-orang yang otaknya bekerja layaknya superkomputer versi terbaru tanpa perlu di-update.

Ngomongin soal kecerdasan, biasanya patokan yang sering dipakai adalah IQ alias Intelligence Quotient. Meskipun sekarang banyak yang bilang kalau EQ atau kecerdasan emosional itu lebih penting, tetep aja angka IQ sering bikin orang penasaran sekaligus minder. Nah, kali ini kita bakal bahas siapa saja manusia-manusia "alien" dengan IQ selangit dan bagaimana ceritanya dengan mereka yang berada di spektrum sebaliknya.

Sang Legenda yang Terlupakan: William James Sidis

Kalau kamu pikir Albert Einstein adalah orang terpintar yang pernah hidup, kayaknya kamu harus kenalan sama William James Sidis. Bayangin aja, waktu umur 18 bulan, di saat kita mungkin masih sibuk belajar jalan atau masukin jempol kaki ke mulut, Sidis sudah bisa baca koran New York Times. Gila nggak tuh? IQ-nya diperkirakan mencapai angka 250 hingga 300. Sebagai perbandingan, rata-rata IQ manusia normal itu cuma di kisaran 90 sampai 110.

Sidis bukan cuma jago matematika atau bahasa. Di usia 8 tahun, dia sudah menguasai delapan bahasa secara otodidak dan bahkan menciptakan bahasanya sendiri yang diberi nama Vendergood. Tapi sayangnya, hidup Sidis nggak seindah angka IQ-nya. Dia sering merasa tertekan karena ekspektasi publik dan akhirnya memilih untuk hidup mengasingkan diri, kerja jadi juru ketik biasa, dan menjauh dari dunia akademis sampai akhir hayatnya. Ini jadi pengingat buat kita kalau jadi terlalu pinter itu kadang bisa jadi beban mental yang berat banget.

Raja Matematika Modern: Terence Tao

Geser ke era yang lebih modern, ada nama Terence Tao. Kalau kamu anak olimpiade matematika, nama ini pasti sudah jadi "Tuhan" di mata kamu. Pria berdarah Australia-Amerika ini punya IQ sekitar 230. Yang bikin Tao beda dari Sidis adalah dia bisa menyeimbangkan kecerdasannya dengan kehidupan sosial yang normal. Dia mulai belajar kalkulus di usia 7 tahun, dapet gelar doktor dari Princeton di usia 21, dan sekarang jadi profesor di UCLA.



Terence Tao membuktikan kalau punya otak encer itu nggak harus berakhir tragis atau jadi penyendiri di gua. Dia aktif banget berbagi ilmu dan tetap terlihat humble. Melihat pencapaiannya, rasanya otak kita kayak cuma pakai RAM 2GB sedangkan dia sudah pakai prosesor kuantum terbaru yang nggak pernah lag.

Marilyn vos Savant: Perempuan dengan Jawaban untuk Segalanya

Jangan lupakan juga kaum hawa. Ada Marilyn vos Savant yang sempat tercatat di Guinness World Records sebagai orang dengan IQ tertinggi di dunia (sekitar 228). Marilyn terkenal lewat kolom "Ask Marilyn" di majalah Parade, di mana pembaca dari seluruh dunia mengirimkan pertanyaan sulit mulai dari teka-teki logika sampai masalah eksistensial. Menariknya, Marilyn sering bilang kalau IQ itu cuma sekadar angka yang mengukur kapasitas mental, bukan ukuran kesuksesan seseorang secara keseluruhan. Bijak banget ya?

Bagaimana dengan IQ Terendah?

Nah, sekarang kita masuk ke pembahasan yang agak sensitif tapi penting buat diketahui. Secara medis, IQ di bawah 70 biasanya dikategorikan sebagai hambatan intelektual atau disabilitas kognitif. Namun, menyebutkan "siapa orang dengan IQ terendah di dunia" itu hampir mustahil dan nggak etis. Kenapa? Karena IQ rendah seringkali berhubungan dengan kondisi medis, genetik, atau kekurangan nutrisi yang parah saat masa pertumbuhan.

Alih-alih menunjuk satu orang, para ahli lebih suka melihat fenomena ini secara kolektif. Di beberapa daerah tertinggal, angka IQ rata-rata bisa turun karena faktor lingkungan, bukan karena "bawaan lahir". Hal ini menunjukkan kalau kecerdasan itu bukan cuma soal genetik, tapi juga soal akses ke pendidikan dan makanan bergizi. Jadi, kalau kamu merasa kurang pinter, mungkin kamu cuma kurang baca buku atau kebanyakan makan gorengan tanpa protein seimbang.

Apakah Angka IQ Itu Segalanya?

Jujur aja, kita sering banget terjebak dalam pemujaan angka. Punya IQ tinggi memang keren, bisa ngerjain soal fisika kuantum sambil kayang mungkin gampang buat mereka. Tapi realitanya, banyak orang dengan IQ "biasa-biasa saja" yang justru lebih sukses secara finansial dan bahagia secara emosional. Kenapa? Karena sukses itu butuh grit (ketekunan), relasi, dan keberuntungan.



IQ cuma modal awal, ibarat kamu punya mobil Ferrari tapi nggak tahu jalan atau nggak punya nyali buat injak gas, ya tetep aja bakal kalah sama orang yang naik motor bebek tapi tahu jalan tikus dan rajin narik gas. Selain itu, tes IQ sendiri sering dikritik karena dianggap bias budaya. Artinya, orang yang nggak pernah sekolah formal bisa jadi skor IQ-nya rendah, padahal mereka jago banget bertahan hidup di alam liar.

Kesimpulan: Jangan Minder, Tetaplah Upgrade Diri

Melihat deretan manusia dengan IQ tertinggi di atas memang bikin kita merasa butiran debu di tengah padang pasir. Tapi ya sudah, nggak perlu diambil pusing. Kecerdasan itu bentuknya macam-macam. Ada yang pinter ngomong, pinter musik, pinter masak, sampai pinter nyari celah diskonan di marketplace. Itu semua adalah bentuk kecerdasan yang nggak selalu bisa diukur lewat tes tertulis.

Yang paling penting bukan seberapa tinggi skor IQ kamu, tapi seberapa bermanfaat otak kamu buat orang lain dan diri sendiri. Jadi, nggak usah stres kalau kamu masih sering salah pakai sendal kanan-kiri. Selama kamu masih mau belajar dan nggak berhenti berusaha, kamu tetap punya tempat di dunia ini. Lagipula, kalau semua orang di dunia ini IQ-nya 250, siapa yang mau diajak seru-seruan bahas meme receh di Twitter? Tetap semangat, ya!