Jengkol Punya Aroma Khas, Tapi Mengapa Begitu Banyak Penggemarnya?
Laila - Tuesday, 01 September 2026 | 12:00 PM


Jengkol: Bau Naga yang Dirindukan, Kenapa Sih Kita Begitu Terobsesi?
Bayangkan kamu sedang bertamu ke rumah calon mertua. Suasananya canggung, udara dingin karena AC, dan kamu berusaha tampil sesempurna mungkin. Tiba-tiba, dari arah dapur, tercium aroma tajam yang menusuk hidung, menembus sekat-sekat ruangan, dan mendominasi segala wewangian mahal yang ada di sana. Ya, itu bau jengkol. Bagi sebagian orang, bau ini adalah alarm bahaya, tapi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, itu adalah undangan untuk segera mengambil piring dan nasi hangat.
Jengkol atau Archidendron pauciflorum memang punya reputasi yang unik. Dia adalah diva di dunia kuliner nusantara: kontroversial, berisik (lewat aromanya), tapi penggemarnya militan. Kalau di media sosial ada istilah "hate-love relationship," maka jengkol adalah definisi nyata dari istilah tersebut. Tapi, pernah nggak sih kamu mikir, kenapa makanan yang baunya bikin "seisi kompleks tahu kalau kita lagi makan" ini tetap jadi primadona? Kenapa kita rela menanggung risiko bau mulut dan bau kamar mandi demi beberapa keping biji ajaib ini?
Sains di Balik Aroma "Naga"
Sebelum kita bicara soal rasa yang bikin nagih, kita bedah dulu kenapa jengkol baunya minta ampun. Secara ilmiah, jengkol mengandung asam jengkolat (djenkolic acid) yang mengandung belerang atau sulfur. Zat inilah yang bertanggung jawab atas aroma khas yang bertahan lama, bahkan setelah jengkol tersebut dicerna dan dikeluarkan lewat urin. Itulah kenapa, kalau kamu habis makan jengkol, kamar mandi bisa jadi "zona terlarang" selama beberapa jam.
Tapi herannya, aroma yang bagi orang asing dianggap aneh ini justru menjadi pemicu nafsu makan bagi kita. Ada semacam memori sensorik yang terbangun. Bau jengkol goreng yang diaduk dengan sambal terasi atau semur jengkol yang kental dengan kecap seringkali diasosiasikan dengan masakan rumah, kehangatan keluarga, dan kenikmatan yang hakiki (hqq). Kadang, justru bau itulah yang memanggil-manggil jiwa yang sedang lapar.
Tekstur yang Melawan Logika
Kalau kita bicara rasa, jengkol sebenarnya punya karakter yang mirip kacang-kacangan atau kentang, tapi dengan tingkat "creamy" dan kepadatan yang lebih tinggi. Di sinilah letak magisnya. Jengkol yang dimasak dengan benar—biasanya direbus lama dengan daun salam atau kopi untuk mengurangi baunya—bakal punya tekstur yang empuk, legit, dan sedikit kenyal. Orang Sunda menyebutnya "pulen."
Sensasi saat gigi kamu tenggelam ke dalam sekeping jengkol rendang yang bumbunya meresap sampai ke serat terdalam itu sulit digantikan oleh bahan makanan lain. Ada rasa sedikit pahit di ujung lidah (aftertaste) yang justru membuat orang ketagihan. Bagi para pemuja jengkol, rasa pahit tipis ini adalah seni. Mirip seperti pecinta kopi hitam atau dark chocolate, ada kenikmatan dalam "ketidaknyamanan" rasa tersebut.
Bukan Sekadar Makanan, Tapi Simbol Sosial
Dulu, jengkol sering dianggap sebagai makanan kelas bawah atau "makanan ndeso." Kalau kamu makan jengkol, mungkin orang bakal menganggap kamu nggak elit. Tapi zaman sudah berubah, bray. Sekarang jengkol sudah naik kelas. Kamu bisa menemukan menu jengkol di kafe-kafe hits Jakarta, bahkan harganya kadang lebih mahal daripada ayam potong kalau lagi musim langka.
Jengkol kini menjadi semacam simbol keberanian kuliner. Menjadi penggemar jengkol menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang jujur pada lidah sendiri, nggak peduli pada stigma atau bau yang menyengat. Ada rasa bangga tersendiri ketika seseorang dengan lantang berkata, "Gue suka jengkol, emang kenapa?" Ini adalah bentuk apresiasi terhadap kekayaan agrikultur lokal yang nggak kalah dari truffle atau caviar dari luar negeri.
Manfaat Kesehatan yang Tersembunyi (Asal Nggak Lebay)
Selain soal rasa, jengkol ternyata menyimpan nutrisi yang lumayan oke. Dia mengandung protein, kalsium, fosfor, dan zat besi yang cukup tinggi. Bahkan, kandungan antioksidannya dipercaya baik untuk menangkal radikal bebas. Beberapa penelitian juga menyebutkan jengkol punya manfaat untuk mencegah diabetes dan menjaga kesehatan jantung.
Tapi ingat, kuncinya adalah jangan berlebihan. Terlalu banyak makan jengkol bisa bikin kamu terkena "jengkolan" atau gagal ginjal akut karena kristal asam jengkolat yang mengendap di saluran kencing. Jadi, ya, nikmati secukupnya aja. Sesuatu yang indah memang biasanya berbahaya kalau dikonsumsi ugal-ugalan, kan?
Ritual Pembersihan Pasca-Makan
Bagian paling seru dari menjadi penggemar jengkol adalah ritual "menghapus jejak." Kita semua tahu risikonya, tapi kita selalu punya cara untuk mengakalinya. Dari mulai ngunyah beras mentah, minum kopi pahit, sampai sikat gigi berkali-kali pakai pasta gigi ekstra mint. Ada semacam adrenalin tersendiri saat mencoba menyembunyikan bau jengkol sebelum berangkat nongkrong atau kerja.
Lucunya, meskipun sudah dibersihkan sedemikian rupa, aroma itu seringkali tetap menang. Teman kantormu mungkin bakal bilang, "Habis makan jengkol ya?" dengan nada bercanda. Dan di saat itu, biasanya kita cuma bisa nyengir sambil membalas, "Iya nih, enak banget soalnya, mau?"
Kesimpulan: Jengkol adalah Warisan Budaya
Pada akhirnya, jengkol bukan cuma soal bau atau rasa. Ia adalah tentang memori kolektif kita sebagai orang Indonesia. Ia adalah tentang makan siang di warteg pinggir jalan saat tanggal tua, tentang masakan nenek di kampung halaman, dan tentang keberanian untuk merayakan perbedaan selera. Jengkol mengajarkan kita bahwa sesuatu yang tampak nggak menarik dari luar (dan baunya), bisa jadi menyimpan kelezatan luar biasa di dalamnya.
Jadi, kalau besok kamu melihat sepiring jengkol balado yang merah merona di meja makan, jangan menutup hidung dulu. Cobalah satu gigitan kecil. Siapa tahu, kamu yang awalnya benci malah berbalik arah jadi ketua komunitas pecinta jengkol di lingkunganmu. Karena seperti kata pepatah lama (yang saya buat sendiri): jangan ngaku orang Indonesia kalau belum pernah "berantem" sama bau jengkol!
Next News

Sinabung Resmi Siaga! Badan Geologi Naikkan Status Usai Semburan Abu 3,5 Km
in 3 hours

BMKG: Jarak Pandang di Kaltara 500-4.000 Meter akibat Asap Karhutla
in 3 hours

Bupati Madina Mutasi Pejabat Eselon II, Camat Batang Natal Jadi Sekwan
in 3 hours

Harga BBM Non-Subsidi Naik Mulai 1 September 2026, Pertamax Turbo hingga Pertamina Dex Ikut Disesuaikan
in 3 hours

Erupsi Gunung Sinabung Ganggu Penerbangan di Kualanamu, Sejumlah Pesawat Delay hingga Batal
in 3 hours

Prakiraan Cuaca Sumatera Utara Selasa 1 September 2026, Mayoritas Wilayah Berpotensi Hujan Ringan
in 30 minutes

Kapolri Ganti Sejumlah Kapolres di Sumut, Ini Daftar Namanya
12 hours ago

Ketua Tim Pembina Posyandu Tapsel Ny. Murni Gus Irawan Sosialisasikan Transformasi Posyandu 6 SPM
13 hours ago

Bupati Gus Irawan Pasaribu Ikuti Rakor DBH Pajak, Tapsel Dapat Pagu PBBKB 2026 Rp11,174 Miliar
13 hours ago

The Kaldera Festival 2026 Digelar di Toba, Hadirkan Seni, Budaya hingga UMKM
a day ago





