Erupsi kembali Terjadi, Status Gunung Anak Krakatau Bertahan di Level Siaga
Laila - Saturday, 05 September 2026 | 08:36 PM


JAKARTA – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi secara menerus sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9/2026).
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, erupsi tersebut disertai suara gemuruh. Dentuman dan getaran yang dilaporkan dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi yang berlangsung pada waktu bersamaan.
Menurut Lana, erupsi yang berlangsung selama beberapa jam dan disertai semburan seperti air mancur lava merupakan fenomena yang dapat terjadi dalam aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Suara gemuruh akibat aktivitas erupsi juga terdengar hingga Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten. Berdasarkan pengamatan visual, terlihat semburan berwarna merah menyala yang berlangsung secara terus-menerus.
Semburan Mirip Lava Fountain
Badan Geologi menyebut tinggi kolom erupsi masih belum dapat dipastikan. Namun, karakter semburan yang terlihat menyerupai lava fountain atau air mancur lava, yaitu semburan material vulkanik yang dapat disertai keluarnya aliran lava.
Lana mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, khususnya mengenai isu potensi tsunami.
Berdasarkan evaluasi Badan Geologi, bagian tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali terbentuk setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Status Gunung Anak Krakatau Level III
Saat ini, aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga, yang telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026.
Dengan status tersebut, masyarakat perlu mewaspadai sejumlah potensi bahaya erupsi, seperti aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, serta hujan abu vulkanik. Abu vulkanik juga dapat mengganggu jarak pandang dan berdampak terhadap kesehatan.
Jika terjadi hujan abu, masyarakat di wilayah yang terdampak diimbau menggunakan pelindung pernapasan serta mengikuti arahan resmi dari Badan Geologi, PVMBG, dan BPBD setempat.
Radius 3 Kilometer Harus Dikosongkan
Untuk menjaga keselamatan, masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pembatasan tersebut diberlakukan karena masih terdapat potensi aliran lava dan lontaran material pijar.
Sementara itu, masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap menjalankan aktivitas dengan memperhatikan perkembangan informasi resmi dari pemerintah.
Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi agar tidak menimbulkan kepanikan maupun kesalahpahaman.
Kementerian ESDM melalui PVMBG terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Informasi terbaru dapat dipantau melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, Kementerian ESDM, serta aplikasi MAGMA Indonesia.
Next News

Aktivitas Gunung Sinabung Masih Fluktuatif, Status Tetap Siaga Level III
in 5 hours

Jajaran Bulog se-Indonesia Turun Serentak ke Pasar, Pastikan Pasokan dan Harga Beras Terkendali
in 5 hours

Polri telah tetapkan 113 orang sebagai tersangka kasus karhutla
in 5 hours

Gubernur Sumut resmikan Jembatan Bailey dampak bencana di Tapteng
in 5 hours

Wapres Gibran Tinjau Huntap dan Progres Pemulihan Pascabencana di Batangtoru, Bupati Tapsel Paparkan Sejumlah Perkembangan
4 hours ago

Prakiraan Cuaca di Sumatera Utara Sabtu 5 September 2026: Cerah, Hujan Ringan, Berawan Mendominasi
6 hours ago

Job Fair Madina 2026 Buka Ratusan Lowongan, 13 Perusahaan Siap Rekrut Tenaga Kerja
18 hours ago

Wapres RI Tiba di Tapteng dan Bertolak ke Barus
2 days ago

Prakiraan Cuaca Sumatera Utara Jumat 4 September: Hujan Ringan dan Berawan Mendominasi, Suhu 17–34°C
a day ago

Di Padang Lawas, 4.446 Orang Penerima Bansos Terindikasi Judol Dinonaktifkan
2 days ago


