Minggu, 22 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Serba Serbi Ramadhan

Buka Puasa Pakai Es Batu: Antara Surga Dunia dan Protes Perut yang Kaget

Liaa - Sunday, 22 February 2026 | 10:10 PM

Background
Buka Puasa Pakai Es Batu: Antara Surga Dunia dan Protes Perut yang Kaget

Buka Puasa Pakai Es Batu: Antara Surga Dunia dan Protes Perut yang Kaget

Bayangkan situasinya: Matahari sudah hampir terbenam, tenggorokan rasanya sudah sekering gurun Sahara, dan di depan mata ada segelas es teh manis dengan butiran embun yang mengalir di pinggiran gelasnya. Bunyi denting es batu yang beradu dengan kaca itu rasanya lebih merdu daripada lagu cinta mana pun di Spotify. Begitu adzan Maghrib berkumandang, godaan untuk langsung meneguk cairan dingin itu seolah nggak terbendung lagi. Seger banget, nyes sampai ke ubun-ubun!

Tapi, di balik kenikmatan yang haqiqi itu, sering kali terselip suara kecil di belakang kepala—atau mungkin suara ibu kita yang sering mengingatkan, "Jangan langsung minum es, nanti perutnya kaget!" Pertanyaannya, apakah peringatan itu cuma sekadar mitos orang tua zaman dulu agar kita nggak boros es batu, atau memang ada penjelasan medis yang masuk akal di baliknya? Mari kita bedah pelan-pelan sambil menunggu waktu berbuka tiba.

Kenapa Perut Bisa "Shock Therapy"?

Mari kita bicara jujur. Selama kurang lebih 13 jam, perut kita itu dalam kondisi kosong melompong dan suhu tubuh cenderung stabil namun sensitif. Saat kita berpuasa, sistem pencernaan kita sedang dalam mode "istirahat" atau hibernasi singkat. Begitu kita langsung mengguyurnya dengan air es atau minuman yang penuh dengan es batu, yang terjadi adalah sebuah kejutan suhu yang drastis.

Secara biologis, air dingin atau es batu bisa menyebabkan pembuluh darah di sekitar lambung mengerut (vasokonstriksi). Ibaratnya, kamu lagi enak-enak tidur di bawah selimut hangat, tiba-tiba ada orang yang menyirammu dengan seember air kutub. Kaget, kan? Nah, perut juga begitu. Pengerutan pembuluh darah ini bisa menghambat proses pencernaan yang seharusnya mulai bekerja mengolah makanan yang masuk. Alhasil, bukannya merasa nyaman setelah berbuka, banyak orang malah merasa perutnya begah, kembung, atau malah mulas nggak karuan.

Es Batu dan Mitos Radang Tenggorokan

Banyak yang bilang kalau buka pakai es batu itu bikin langsung sakit tenggorokan atau flu. Sebenernya, es batu atau air dingin itu sendiri bukan penyebab utama virus flu, tapi suhu dingin yang ekstrem bisa menurunkan sistem imun di area tenggorokan secara sementara. Hal ini bikin bakteri atau virus yang kebetulan lagi "nongkrong" di sana jadi lebih mudah menyerang.



Apalagi kalau es batu yang kita konsumsi adalah es batu "curah" yang kebersihannya nggak terjamin. Alih-alih dapet seger, malah dapet bonus batuk-batuk seminggu. Jadi, kalau memang bersikeras mau pakai es, pastikan es batunya dibikin dari air matang yang bersih, bukan es balok yang biasanya dipakai buat mendinginkan ikan di pasar.

Dilema "Es Teh Manis" di Warung Takjil

Fenomena "War Takjil" yang belakangan viral membuktikan betapa cintanya orang Indonesia sama minuman dingin nan manis. Mulai dari es campur, es buah, es pisang ijo, sampai es teh manis plastik yang harganya lima ribuan. Masalahnya bukan cuma di es batunya saja, tapi kadar gulanya.

Minuman es yang terlalu manis saat berbuka bisa bikin kadar gula darah melonjak drastis (spike). Setelah lonjakan itu, biasanya tubuh akan merasa lemas atau mengantuk yang luar biasa setelah shalat Maghrib. Pernah merasa "teler" setelah buka puasa? Bisa jadi itu karena kombinasi suhu dingin yang bikin lambung kaget dan serangan gula yang bikin hormon insulin kerja lembur seketika.

Lalu, Apakah Kita Harus Musuhan Sama Es Batu?

Nggak juga, kok. Hidup ini sudah keras, jangan ditambah lagi dengan larangan minum es yang bikin menderita. Kuncinya sebenarnya bukan pada "tidak boleh", tapi pada "urutan" dan "porsi".

Para ahli kesehatan biasanya menyarankan agar kita melakukan pemanasan dulu. Mulailah dengan segelas air putih suhu ruang atau air hangat. Air hangat membantu mengaktifkan kembali saraf-saraf pencernaan tanpa bikin mereka syok. Setelah perut terasa lebih stabil dan sudah terisi sedikit makanan ringan seperti kurma, barulah kamu boleh mencicipi minuman es batu andalanmu.



Istilahnya, kasih mukadimah dulu buat perut sebelum masuk ke menu utama yang dingin-dingin. Beri jeda sekitar 5 sampai 10 menit. Dengan begitu, suhu di dalam lambung nggak langsung anjlok drastis dan kamu tetap bisa menikmati sensasi dingin yang menyegarkan tanpa harus berakhir dengan perut melilit.

Kesimpulan: Nikmat Boleh, Kalap Jangan

Buka puasa pakai es batu itu ibarat hubungan toxic; terasa nikmat banget di awal, tapi kalau nggak hati-hati bisa bikin sakit hati (dan sakit perut) di akhir. Menikmati es batu saat berbuka puasa itu nggak dosa, apalagi di tengah cuaca Indonesia yang lagi panas-panasnya kayak simulasi musim kemarau panjang.

Tapi ya itu tadi, jadilah konsumen yang cerdas buat tubuh sendiri. Jangan biarkan nafsu sesaat saat melihat es buah menghancurkan kenyamanan ibadahmu di malam hari. Minum air hangat dulu, makan kurma, baru deh hajar es batunya dengan bijak. Ingat, tujuan buka puasa itu untuk mengembalikan energi, bukan buat bikin tubuh masuk UGD karena kram perut. Jadi, selamat berburu takjil, tetap jaga kesehatan, dan jangan lupa: es batu yang paling enak adalah yang dinikmati bareng orang tersayang, bukan diminum sendirian sambil meratapi nasib jomblo di pojokan kamar.

Tags