Rabu, 25 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Berpikir Positif Saat Stres Ibarat Senyum Pas Lagi Sariawan

Tata - Wednesday, 25 March 2026 | 08:05 PM

Background
Berpikir Positif Saat Stres Ibarat Senyum Pas Lagi Sariawan

Seni Tetap Waras: Menjaga Pikiran Positif Tanpa Harus Jadi Motivator Palsu

Pernah nggak sih lo bangun pagi, niatnya mau produktif, tapi pas baru buka mata yang kepikiran malah cicilan, kerjaan yang numpuk, atau chat dari mantan yang tiba-tiba nongol di notifikasi? Rasanya kayak baru mulai level satu di video game, tapi darah lo udah sisa tinggal satu bar. Di titik ini, kata-kata "ayo berpikir positif" seringkali terdengar kayak ejekan daripada motivasi. Kayak disuruh senyum pas lagi sariawan, perihnya minta ampun.

Kita hidup di era di mana informasi masuk secepat kilat. Scrolling media sosial lima menit aja udah cukup buat bikin kita merasa jadi manusia paling gagal sedunia karena ngelihat temen SMA udah beli rumah atau lagi liburan ke Iceland. Fenomena ini bikin "pikiran positif" jadi barang mahal. Masalahnya, banyak orang salah kaprah. Berpikir positif itu bukan berarti kita harus jadi orang yang "denial" atau pura-pura bahagia saat dunia lagi kacau. Itu namanya toxic positivity, dan jujur aja, itu melelahkan banget.

Menjaga pikiran positif itu sebenarnya lebih ke arah gimana kita mengelola "filter" di kepala kita. Bayangkan pikiran lo itu kayak sebuah kafe. Lo nggak bisa melarang orang buat lewat di depan kafe lo, tapi lo punya hak penuh buat nentuin siapa yang boleh masuk dan duduk di kursi VIP. Kalau lo biarin semua sampah visual dan komentar jahat netizen masuk ke "kafe" pikiran lo, ya jangan heran kalau suasananya jadi pengap dan nggak nyaman.

Bukan Sekadar Senyum, Tapi Soal Perspektif

Gue sering denger orang bilang, "Ah, gue mah realistis aja, nggak usah muluk-muluk positif-positifan." Padahal, jadi positif dan realistis itu bisa jalan barengan. Misalnya gini, lo lagi kejebak macet total pas mau ke kantor. Orang yang pesimis bakal ngomel, nyumpah-nyumpahin pemerintah, dan akhirnya mood-nya rusak seharian. Orang yang berpikir positif (dan realistis) bakal mikir, "Oke, ini macet parah dan gue nggak bisa ngapa-ngapain. Daripada gue emosi dan tensi naik, mending gue dengerin podcast atau audiobook yang selama ini nggak sempet gue dengerin."

Intinya adalah kontrol. Kita nggak bisa ngatur macet, kita nggak bisa ngatur omongan orang, tapi kita punya remote control buat reaksi kita sendiri. Memang kedengarannya klise, tapi kalau lo udah mulai latihan buat "pause" sebentar sebelum marah-marah, lo bakal ngerasa punya kekuatan super yang nggak dimiliki banyak orang: ketenangan.



Diet Informasi: Karena Otak Juga Butuh Makanan Bergizi

Kalau kita makan gorengan tiap hari, badan kita bakal protes. Begitu juga sama pikiran. Kalau asupan lo tiap hari adalah berita gosip, perdebatan politik yang nggak ada ujungnya, atau konten-konten flexing yang bikin minder, ya jangan harap pikiran lo bisa positif. Kita butuh yang namanya "diet informasi".

Coba deh sesekali kurangi durasi scrolling yang nggak jelas tujuannya (doomscrolling). Mulai pilih akun-akun yang emang ngasih lo ilmu atau minimal bikin lo ketawa sehat, bukan malah bikin lo ngerasa kurang terus. Pikiran yang jernih biasanya datang dari lingkungan yang bersih, termasuk lingkungan digital kita. Kadang-kadang, tombol "unfollow" atau "mute" adalah sahabat terbaik untuk kesehatan mental kita.

Gratitude yang Nggak Cringey

Sekarang lagi tren istilah "gratitude journal" atau jurnal syukur. Buat sebagian orang, nulis "hari ini gue bersyukur bisa minum kopi" itu rasanya geli atau cringey. Tapi secara sains, melatih otak buat nyari hal-hal kecil yang bagus itu beneran ngubah struktur saraf kita. Otak kita itu secara alami lebih gampang inget hal buruk (survival mode). Nah, dengan sengaja nyari hal baik, kita lagi ngelatih otot otak supaya nggak terus-terusan fokus ke hal negatif.

Nggak perlu puitis-puitis amat. Cukup akui kalau hari ini cuacanya enak, atau lo dapet parkir yang deket sama pintu masuk mall, atau sesederhana nasi goreng yang lo beli rasanya pas. Hal-hal receh kayak gitu kalau dikumpulin bisa jadi tameng pas hari lo lagi bener-bener berantakan.

Temenan Sama Diri Sendiri

Coba deh dengerin suara di dalam kepala lo. Biasanya kita jauh lebih jahat sama diri sendiri daripada sama orang lain. Kalau temen lo gagal, lo pasti bakal bilang, "Nggak apa-apa, besok coba lagi." Tapi kalau lo yang gagal, suara di kepala lo mungkin bakal bilang, "Tuh kan, lo emang bego, nggak bakal bisa sukses."



Menjaga pikiran positif itu berarti mulai belajar jadi temen buat diri sendiri. Stop kasih label buruk ke diri lo. Kalau lagi capek, ya bilang capek. Kalau lagi sedih, ya nangis aja. Menghargai perasaan negatif itu justru langkah awal buat mencapai pikiran positif yang autentik. Jangan dipaksa buat selalu "on", karena kita ini manusia, bukan lampu jalanan.

Kesimpulan: Perjalanan, Bukan Tujuan

Pada akhirnya, menjaga pikiran positif itu adalah perjalanan seumur hidup. Nggak ada tombol saklar yang kalau sekali dipencet langsung bikin kita jadi orang paling optimis sedunia selamanya. Bakal ada hari-hari di mana lo ngerasa gagal total, dan itu manusiawi banget. Yang penting adalah gimana lo bangkit lagi setelah "jatuh" ke lubang overthinking itu.

Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Dunia udah cukup keras, jadi setidaknya di dalam pikiran lo sendiri, buatlah suasana yang sedikit lebih ramah. Mulai dengan satu pikiran baik hari ini, dan lihat ke mana hal itu bakal bawa lo. Stay sane, stay positive, dan jangan lupa buat napas yang lega. Karena kadang-kadang, bisa napas tenang tanpa beban pikiran aja udah sebuah kemenangan besar.