Kamis, 28 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

7 Fakta Budaya China yang Lebih Seru dari Film Kung Fu

Liaa - Thursday, 28 May 2026 | 08:45 AM

Background
7 Fakta Budaya China yang Lebih Seru dari Film Kung Fu

Bukan Cuma Soal Cuan dan Tembok Besar: Sisi Unik Budaya China yang Bikin Geleng-Geleng Kepala

Kalau kita ngomongin soal China, apa sih yang pertama kali muncul di kepala lo? Mungkin sebagian besar bakal jawab "Made in China", Tembok Besar yang legendaris, atau mungkin film-film Kung Fu yang sering kita tonton pas liburan sekolah. Tapi sebenernya, negara yang dapet julukan Negeri Tirai Bambu ini punya segudang budaya unik yang kalau dipikir-pikir, absurd tapi seru banget buat dibahas. Bukan cuma soal kemajuan teknologi yang ngeri-ngeri sedap, tapi soal gimana kebiasaan sehari-hari orang sana yang sering bikin turis asing melongo.

China itu semacam perpaduan antara masa depan yang super canggih sama tradisi ribuan tahun yang masih dipegang teguh. Nah, buat lo yang penasaran kenapa orang China suka banget bawa termos atau kenapa angka tertentu bisa bikin mereka parno, mending kita bedah satu-satu fakta uniknya di sini. Anggap aja ini pemanasan sebelum lo beneran mutusin buat traveling ke sana.

Air Hangat: Obat Segala Penyakit (Versi Orang China)

Pernah nggak lo lagi makan di restoran China terus minta es teh manis, tapi malah dikasih air putih hangat? Jangan emosi dulu, itu bukan karena mereka pelit es batu. Di China, air hangat itu udah kayak "ramuan ajaib" yang bisa nyembuhin segalanya. Mulai dari flu, sakit perut, sampai patah hati (oke, yang terakhir ini mungkin bercanda), solusi utamanya adalah minum air hangat.

Secara medis tradisional, mereka percaya kalau suhu tubuh itu harus dijaga keseimbangannya. Minum air es dianggap bisa ngerusak aliran energi atau Qi dalam tubuh. Makanya, jangan heran kalau lo liat anak muda di sana pun tetep nenteng termos isi air hangat ke mana-mana, bahkan pas lagi musim panas yang suhunya lagi gila-gilaan. Kalau lo lagi nggak enak badan terus curhat sama temen orang China, kalimat pertama yang bakal lo denger pasti: "Duo he re shui" (Banyak-banyak minum air hangat ya!).

Pasar Jodoh: Tempat Orang Tua Jualan CV Anak

Kalau di Indonesia kita punya Tinder atau aplikasi dating lainnya, di China ada cara yang jauh lebih "manual" dan melibatkan campur tangan orang tua secara frontal. Di beberapa kota besar kayak Shanghai, ada yang namanya Marriage Market atau Pasar Jodoh di taman kota. Tapi jangan bayangin anak-anak mudanya yang nongkrong di sana ya.



Yang ada justru barisan orang tua yang duduk manis sambil bawa payung. Di atas payung itu ditempel kertas berisi "biodata" anak mereka. Isinya lengkap banget, mulai dari tinggi badan, gaji bulanan, kepemilikan apartemen, sampai zodiak. Jadi, para orang tua ini bakal saling "nego" buat jodohin anak mereka yang biasanya terlalu sibuk kerja sampai nggak sempet cari pacar. Rasanya agak aneh sih, ngebayangin nasib percintaan kita ditentuin lewat seleksi berkas di pinggir taman, tapi buat mereka, ini adalah bentuk kasih sayang orang tua biar anaknya nggak jadi "Sheng Nu" atau perawan tua.

Ketakutan Sama Angka 4 yang Bikin Merinding

Lo mungkin pernah masuk ke dalem lift di gedung tinggi terus bingung kok nggak ada lantai 4, 14, atau 24? Nah, ini namanya Tetraphobia. Di budaya China, angka 4 itu dianggap sial banget. Kenapa? Karena dalam bahasa Mandarin, pengucapan angka empat (si) itu mirip banget sama kata "mati" (si), cuma beda nada doang.

Ketakutan ini nggak main-main, lho. Harga apartemen di lantai 4 biasanya lebih murah, atau nomor telepon yang banyak angka 4-nya bakal dihindarin banget. Kebalikannya, mereka cinta mati sama angka 8. Angka 8 (ba) bunyinya mirip sama "fa" yang artinya kemakmuran atau dapet cuan. Jadi jangan kaget kalau ada orang yang rela bayar mahal banget cuma buat dapet plat nomor mobil yang isinya angka 8 semua. Bener-bener definisi "angka membawa keberuntungan" itu nyata di sana.

Facekini: Tren Skincare Ekstrem di Pinggir Pantai

Kalau lo main ke pantai di daerah Qingdao saat musim panas, jangan kaget kalau liat ibu-ibu di sana pake topeng ala superhero atau malah mirip perampok bank. Tenang, mereka nggak lagi mau tawuran kok. Itu namanya Facekini.

Orang China, terutama generasi yang lebih tua, punya standar kecantikan kalau kulit putih itu adalah simbol kemewahan dan status sosial yang tinggi. Kulit gelap dianggap identik dengan pekerja kasar di ladang. Nah, demi menjaga wajah tetep glowing dan nggak kena sinar matahari (plus biar nggak kena sengatan ubur-ubur), mereka pake topeng kain elastis ini. Emang sih keliatannya agak serem kalau tiba-tiba muncul dari dalem air, tapi ya begitulah cara mereka totalitas dalam menjaga kulit.



Nggak Boleh Berbagi Buah Pir

Ini satu lagi fakta unik soal bahasa. Di China, lo jangan sesekali nawarin temen lo buat bagi dua buah pir yang lagi lo makan. Kenapa? Karena kata "berbagi pir" (fen li) punya pelafalan yang sama persis dengan kata "perpisahan". Jadi, berbagi pir dianggap sebagai pertanda kalau hubungan lo sama orang itu bakal berakhir atau bakal pisah dalam waktu deket. Kalau mau makan pir, ya makan sendiri-sendiri aja, daripada nanti malah jadi berantem gara-gara takhayul bahasa, kan?

Budaya Tidur Siang di Mana Saja

Orang China itu terkenal kerja kerasnya luar biasa. Ada istilah "996" (kerja dari jam 9 pagi sampai 9 malem, 6 hari seminggu). Karena saking capeknya, mereka punya kemampuan super: bisa tidur di mana aja. Lo bakal sering nemuin orang tidur di atas motor yang lagi parkir, di tangga mal, atau bahkan di display kasur IKEA. Uniknya, pihak toko kayak IKEA di China malah bolehin pengunjung buat nyobain tidur beneran di sana. Kayaknya mereka paham banget kalau rakyatnya butuh istirahat sejenak dari tekanan hidup yang makin kenceng.

Gimana? China emang sekacau dan seunik itu, kan? Di balik kemajuan teknologinya yang bisa bikin kereta jalan secepat kilat, mereka tetep punya sisi manusiawi yang kadang lucu, kadang nggak masuk akal, tapi selalu menarik buat dipelajarin. Budaya mereka ngajarin kita kalau modernitas itu nggak harus selalu ninggalin akar tradisi, meski tradisinya kadang bikin kita garuk-garuk kepala.