Si Tank Baja Penunggu Selokan: Menguak Fenomena Ikan Sapu-Sapu yang Nggak Ada Matinya
RAU - Monday, 20 April 2026 | 10:25 AM


Si Tank Baja Penunggu Selokan: Menguak Fenomena Ikan Sapu-Sapu yang Nggak Ada Matinya
Pernah nggak sih lo lagi iseng bengong di pinggir kali atau selokan besar di Jakarta, terus melihat sesosok makhluk hitam, bersisik keras, dan bentuknya lebih mirip fosil hidup daripada ikan hias? Kalau iya, selamat, lo baru saja berpapasan dengan sang legenda urban perairan Indonesia: ikan sapu-sapu. Ikan ini bukan cuma sekadar penghuni sungai yang budiman, tapi sudah jadi fenomena sosial dan ekologi yang bikin kita geleng-geleng kepala.
Ikan sapu-sapu, atau yang di dunia internasional kerennya dipanggil Plecostomus, sebenarnya adalah "perantau" jauh. Aslinya mereka berasal dari sungai-sungai di Amerika Selatan, kayak Amazon. Tapi entah gimana ceritanya—biasanya sih gara-gara hobiis akuarium yang bosan karena ikannya tumbuh kegedean terus dibuang ke kali—ikan ini malah merasa Indonesia adalah rumah kedua yang sangat nyaman. Bahkan mungkin lebih nyaman daripada di Amazon sana karena di sini mereka hampir nggak punya musuh alami.
Kenapa Mereka Begitu Sakti?
Gue sering mikir, kalau ada kiamat kecil di sungai-sungai kita yang warnanya sudah mirip kopi susu kental manis itu, mungkin cuma ikan sapu-sapu yang bakal bertahan hidup bareng kecoa. Mereka itu ibarat "tank baja" di dunia air. Tubuhnya nggak ditutupi sisik biasa, melainkan pelat-pelat keras yang kalau lo pegang rasanya kayak megang batu karang. Nggak heran kalau ikan predator lain, kayak gabus atau lele, mikir dua kali buat nyaplok mereka. Bisa-bisa malah sariawan tuh predator.
Selain badannya yang keras, sistem pernapasannya juga gokil. Mereka punya kemampuan buat mengambil oksigen langsung dari udara kalau kondisi air lagi buruk-buruknya. Jadi, mau airnya minim oksigen atau penuh limbah detergen sekalipun, si sapu-sapu ini tetap santai kayak lagi di spa. Inilah alasan kenapa di sungai yang paling tercemar sekalipun, lo bakal tetap melihat moncong mereka nempel di tembok sungai, asyik menyedot lumut atau sisa-sisa organik lainnya.
Mitos Siomay dan Ketakutan Kolektif Kita
Nah, ini nih bagian yang selalu jadi bumbu penyedap kalau kita ngomongin ikan sapu-sapu. Ada sebuah urban legend yang saking kuatnya sampai bikin orang parno makan siomay atau batagor di pinggir jalan. Gosipnya, karena daging ikan sapu-sapu itu melimpah dan murah (bahkan gratis tinggal serok), banyak oknum pedagang nakal yang memakainya sebagai bahan campuran siomay.
Secara logika ekonomi, mungkin masuk akal. Tapi secara kesehatan? Ini yang bahaya banget. Ikan sapu-sapu itu penyerap polutan yang sangat efisien. Mereka menyedot logam berat kayak merkuri, timbal, dan kadmium yang mengendap di dasar sungai. Kalau kita makan ikan yang sudah "terkontaminasi" limbah industri itu, ya sama saja kita lagi menabung penyakit di dalam tubuh. Meskipun dagingnya katanya putih dan teksturnya mirip ikan laut, mendingan kita cari aman aja deh. Nggak usah menantang maut demi penghematan beberapa ribu rupiah.
Sisi Gelap: Sang Penjajah yang Tak Terhentikan
Meskipun keliatannya pasif dan cuma "bersih-bersih" lumut, ikan sapu-sapu ini sebenarnya adalah spesies invasif yang cukup merusak. Di beberapa daerah, keberadaan mereka sudah sangat mendominasi sampai-sampai ikan lokal kayak mujair atau ikan nila jadi tersisih. Mereka itu rakus dalam hal ruang dan sumber daya. Belum lagi kebiasaan mereka yang suka melubangi tebing-tebing sungai buat bikin sarang. Kalau jumlahnya ribuan, lubang-lubang ini bisa bikin struktur pinggiran sungai jadi rapuh dan gampang longsor.
Yang bikin makin pusing, populasinya itu meledak cepat banget. Di sungai-sungai besar seperti Ciliwung atau sungai di wilayah Tangerang, lo bisa dengan mudah menemukan ribuan ekor ikan ini dalam satu area kecil. Para pemancing sering banget ngeluh, niatnya mau dapat ikan mas, yang nyangkut malah ikan sapu-sapu lagi, sapu-sapu lagi. Dilepas lagi salah, dibuang ke darat juga kasihan, dimakan ya ngeri. Akhirnya, mereka jadi "penguasa tanpa mahkota" yang nggak diinginkan siapapun.
Harus Gimana Kita Sama Mereka?
Fenomena ikan sapu-sapu ini sebenarnya jadi cermin buat kita semua tentang gimana rusaknya ekosistem sungai kita. Kalau sungai kita bersih, mungkin ikan-ikan lokal yang lebih "elok" bakal balik lagi. Tapi selama sungai masih jadi tempat sampah raksasa, ya cuma si tank baja ini yang kuat bertahan.
Beberapa komunitas kreatif sebenarnya sudah mencoba memanfaatkan ikan ini secara positif, misalnya kulitnya dijadikan bahan kerajinan tangan atau pupuk organik setelah melalui proses pengolahan tertentu. Ini langkah yang keren banget daripada cuma dibiarin jadi hama.
Akhir kata, ikan sapu-sapu adalah pengingat bahwa alam punya caranya sendiri buat beradaptasi dengan kekacauan yang dibuat manusia. Mereka nggak salah, mereka cuma mencoba bertahan hidup di tempat yang seharusnya bukan rumah mereka. Jadi, kalau nanti lo jalan-jalan di jembatan penyeberangan terus melihat mereka lagi "nongkrong" di permukaan air, kasih sedikit rasa hormat buat si penyintas tangguh ini. Tapi ingat ya, jangan sekali-kali kepikiran buat menjadikannya menu makan malam lo!
Next News

Mengenal Paus Orca: Fakta Kecerdasan Paus Pembunuh dan Mitos Predator Puncak
in 5 hours

Mengapa Ikan Sapu-Sapu Berbahaya? Ini Alasan Ilmiah di Balik Pemusnahannya
in 5 hours

7 Hewan yang Sering Digunakan dalam Eksperimen Sains dan Kontroversinya
in 5 hours

Kenali 5 Jenis Sale Pisang, Camilan Tradisional Favorit Banyak Orang
in 4 hours

Sering Makan Ikan? Kenali Jenis yang Mengandung Merkuri Tinggi Ini
in 4 hours

Asma Bukan Sekadar Sesak Napas Yuk Pahami Dengan Baik
8 hours ago

Apa Alat Rumah Tangga yang Paling Boros Listrik?
8 hours ago

Mengetahui Jenis-Jenis Lensa Kacamata, Jangan Salah Pilih
9 hours ago

Biar Nggak Kena Tipu Abang Warteg: Panduan Bedain Tuna, Tongkol, dan Cakalang Biar Nggak Malu-maluin
in 6 minutes

Kenapa Jari Tangan Kanan dan Kiri Kita Ukurannya Nggak Pernah Akur?
19 minutes ago





