Si Daun Emas yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi: Sebuah Cerita Tentang Tembakau
Liaa - Friday, 27 February 2026 | 12:30 PM


Si Daun Emas yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi: Sebuah Cerita Tentang Tembakau
Kalau kita bicara soal tembakau, pikiran orang biasanya bakal langsung meluncur ke dua hal: asap rokok atau peringatan kesehatan di bagian belakang bungkusnya. Tapi, bagi banyak orang di pelosok Nusantara, tembakau itu jauh lebih sakral dari sekadar urusan paru-paru. Mereka menyebutnya "Si Daun Emas". Sebuah julukan yang nggak main-main, karena dari selembar daun hijau yang kalau kena getahnya bikin gatal ini, ribuan dapur bisa ngebul dan ribuan anak bisa sekolah sampai sarjana.
Ngomongin tembakau di Indonesia itu kayak ngomongin mantan yang paling berkesan. Penuh drama, sering didebatkan, tapi tetap saja dicari. Tembakau bukan cuma urusan industri, tapi sudah masuk ke sumsum kebudayaan kita. Dari ritual adat di lereng Gunung Sumbing sampai obrolan santai di angkringan pojok jalan, aroma tembakau selalu punya tempat tersendiri.
Perjalanan Panjang Si Daun Ajaib
Tembakau sebenarnya bukan tanaman asli tanah Jawa atau Madura. Dia ini pendatang, "imigran" dari Benua Amerika yang dibawa oleh bangsa Portugis dan Spanyol sekitar abad ke-16. Bayangkan, tanaman yang dulunya dipakai suku Maya untuk berkomunikasi dengan roh leluhur ini, malah menemukan "rumah" sejatinya di tanah vulkanik kita yang subur.
Di tangan petani lokal, tembakau nggak cuma tumbuh, tapi berevolusi. Tanah Indonesia yang kaya mineral bikin rasa tembakau kita punya karakter yang nggak ada tandingannya di dunia. Ada tembakau Srinthil dari Temanggung yang harganya bisa bikin mata melotot, atau tembakau Madura yang aromanya gurih-gurih sedap. Setiap daerah punya "signature" sendiri, mirip-mirip kayak kopi yang punya catatan rasa buah atau cokelat. Bedanya, tembakau punya catatan rasa yang lebih personal: rasa kerja keras dan aroma tanah setelah hujan.
Tren Tingwe: Saat yang Klasik Kembali Bersemi
Beberapa tahun belakangan, ada fenomena menarik yang muncul di kalangan anak muda. Kalau dulu ngerokok tembakau linting sendiri alias "tingwe" itu identik sama orang tua atau simbah-simbah di desa, sekarang ceritanya beda. Di kafe-kafe hits Jakarta atau Jogja, mulai banyak anak muda yang dengan santainya mengeluarkan dompet kulit berisi tembakau iris, kertas papir, dan cengkih.
Kenapa bisa begitu? Ya, selain karena harga rokok pabrikan yang makin mencekik kantong mahasiswa, ada semacam "ritme" yang dicari. Menanamkan cengkih, menata tembakau di atas papir, lalu melintingnya dengan sabar adalah sebuah terapi kecil di tengah dunia yang serba cepat. Ada seni di sana. Ada apresiasi terhadap rasa yang lebih jujur tanpa banyak bahan kimia tambahan. Tingwe sudah jadi gaya hidup, sebuah cara untuk tetap keren tanpa harus menguras saldo ATM secara brutal.
Tembakau dan Dilema yang Tak Kunjung Usai
Tentu saja, kita nggak bisa menutup mata dari sisi gelapnya. Tembakau memang mengandung nikotin yang bikin nagih dan punya dampak kesehatan yang serius. Ini yang bikin tembakau selalu jadi bulan-bulanan kebijakan pemerintah dan aktivis kesehatan. Pajak naik tiap tahun, gambar seram di bungkus rokok makin besar, tapi apakah industrinya mati? Ternyata nggak semudah itu, Ferguso.
Bagi petani tembakau, mereka sering merasa seperti anak tiri. Saat panen bagus, harga kadang dipermainkan tengkulak. Saat cuaca ekstrem seperti El Nino datang, daun tembakau bisa rusak dan harapan mereka pupus. Padahal, kontribusi cukai tembakau ke kas negara itu triliunan rupiah. Sebuah ironi yang terus berulang: tembakau dimusuhi secara narasi kesehatan, tapi dicintai secara ekonomi makro. Ini yang saya sebut sebagai hubungan "toxic" yang sulit dilepaskan.
Namun, di luar perdebatan medis dan ekonomi, tembakau adalah penyambung silaturahmi. Pernah nggak kamu merasa kalau obrolan jadi lebih "ngalir" saat ada asap tembakau di tengah-tengah? Entah kenapa, tembakau punya kemampuan magis untuk meruntuhkan dinding kecanggungan. Di tongkrongan, berbagi tembakau itu levelnya sudah kayak berbagi solidaritas. "Eh, nyicip tembakau lo dong," adalah kalimat pembuka paling ampuh untuk memulai pertemanan baru.
Melihat Masa Depan si Hijau
Ke depan, tantangan buat tanaman tembakau bakal makin berat. Bukan cuma soal regulasi yang makin ketat, tapi juga soal perubahan iklim yang bikin pola tanam jadi kacau. Tapi saya pribadi percaya, selama masih ada orang yang butuh ketenangan lewat tiap isapannya, dan selama masih ada petani yang setia merawat ladangnya di lereng gunung, tembakau nggak akan pernah benar-benar pergi.
Mungkin suatu saat nanti, penggunaan tembakau bakal bergeser. Sekarang saja sudah banyak riset yang mencoba memanfaatkan tembakau untuk kebutuhan medis non-hisap, atau bahkan sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Siapa tahu, kan? Si daun emas ini memang punya seribu nyawa.
Akhir kata, mau kamu penikmat tembakau atau orang yang sangat anti dengan asapnya, satu hal yang harus kita sepakati: tanaman ini sudah menjadi bagian dari sejarah besar bangsa ini. Dia adalah saksi bisu perjuangan ekonomi rakyat kecil dan simbol perlawanan terhadap standar global yang kadang nggak nyambung sama kearifan lokal. Jadi, lain kali kamu lewat di depan warung dan mencium aroma tembakau yang khas, ingatlah bahwa ada cerita panjang, keringat petani, dan sejuta filosofi di balik setiap helai daunnya.
Next News

Busui Ingin Puasa? Perhatikan Hal Ini Agar Tubuh Tetap Fit
in 7 hours

Lebih Dahsyat Dari Kopi Begini Kekuatan Musik Bagi Otak
in 6 hours

Daun Sirih China, Bukan Sembarang Rumput Liar
in 4 hours

Efek Samping Terlalu Banyak Mengonsumsi Garam
in 4 hours

5 Kebiasaan Anak Muda yang Diam-diam Merusak Fungsi Ginjal
in 2 hours

Trik Jitu Biar Sendal Karet yang Kamu Beli Online Gak Kegedean
in an hour

Kenapa Kaki Sering Kram Saat Tidur?
a day ago

Kenapa Mata Bisa Berkedut Sendiri?
a day ago

Kenapa Tangan Cepat Keriput Saat Lama di Air?
a day ago

Benarkah Madu Tidak Pernah Kedaluwarsa?
a day ago





