Minggu, 5 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Sejarah Gedung Sate Bandung dari Kantor Kolonial hingga Ikon Jawa Barat

Nanda - Thursday, 02 April 2026 | 09:39 AM

Background
Sejarah Gedung Sate Bandung dari Kantor Kolonial hingga Ikon Jawa Barat

Awal Pembangunan di Masa Hindia Belanda

Gedung Sate mulai dibangun pada tahun 1920, ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda berencana memindahkan pusat administrasi dari Batavia ke Bandung. Kota ini saat itu diproyeksikan sebagai calon ibu kota baru karena letaknya yang lebih tinggi dan dianggap lebih nyaman secara iklim.

Perancang bangunan ini adalah arsitek Belanda J. Gerber. Ia memadukan gaya arsitektur Eropa dengan unsur lokal Nusantara. Proses pembangunan melibatkan sekitar 2.000 pekerja, termasuk tukang dari berbagai daerah di Jawa yang dikenal memiliki keahlian tinggi dalam konstruksi batu.

Gedung ini awalnya dinamakan Gouvernements Bedrijven, dan direncanakan sebagai kantor Departemen Lalu Lintas dan Pekerjaan Umum Hindia Belanda.

Asal Usul Nama Gedung Sate

Nama Gedung Sate muncul dari ciri khas ornamen di puncak menaranya. Di bagian atas terdapat hiasan berbentuk tusuk sate dengan enam bulatan. Enam bulatan tersebut dipercaya melambangkan enam juta gulden, yaitu perkiraan biaya pembangunan gedung ini pada masa itu.

Bentuk ornamen yang unik itu membuat masyarakat Bandung menyebutnya sebagai "Gedung Sate", nama yang kemudian melekat hingga sekarang.



Peristiwa Bersejarah Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, Gedung Sate menjadi lokasi penting dalam sejarah perjuangan. Pada 3 Desember 1945 terjadi peristiwa pertempuran antara pemuda Indonesia dan tentara Sekutu yang dikenal sebagai Peristiwa Gedung Sate. Tujuh pegawai Departemen Pekerjaan Umum gugur dalam insiden tersebut. Untuk mengenang mereka, didirikan monumen di halaman depan gedung.

Sejak saat itu, Gedung Sate berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat dan kini menjadi kantor Gubernur Jawa Barat.

Ciri Arsitektur yang Unik

Gedung Sate sering disebut sebagai contoh arsitektur Indo-Eropa. Desainnya memadukan gaya Renaissance Italia dengan unsur tradisional Indonesia, seperti atap bertingkat yang terinspirasi dari bentuk meru pada bangunan Bali dan pagoda Asia.

Material utama bangunan ini menggunakan batu andesit yang membuatnya kokoh dan tetap berdiri megah lebih dari satu abad. Tata ruangnya dirancang simetris, mencerminkan karakter bangunan pemerintahan pada masa kolonial.

Gedung Sate di Era Modern

Kini Gedung Sate tidak hanya menjadi kantor pemerintahan, tetapi juga objek wisata sejarah. Sejak 2017, di dalam kompleksnya dibuka Museum Gedung Sate yang menampilkan sejarah pembangunan, dokumentasi arsitektur, serta perjalanan pemerintahan Jawa Barat dari masa ke masa.



Lokasinya yang berada di pusat Kota Bandung menjadikan Gedung Sate sebagai salah satu landmark paling difoto. Selain nilai historisnya, kawasan di sekitarnya juga menjadi ruang publik yang ramai dikunjungi warga.

Gedung Sate adalah contoh bagaimana bangunan kolonial dapat bertransformasi menjadi simbol identitas daerah. Ia bukan hanya saksi masa lalu, tetapi juga bagian aktif dari dinamika pemerintahan dan kehidupan masyarakat Jawa Barat hingga hari ini.