Rahasia Pakkat Mandailing, Pucuk Rotan Pahit yang Justru Diburu Saat Ramadan
Nanda - Wednesday, 04 March 2026 | 04:38 PM


Kenapa pakkat sangat di gemari dan diserbu untuk berbuka puasa?
Bagi sebagian orang, rasa pahit dalam makanan mungkin dihindari. Namun, bagi masyarakat Mandailing di Sumatera Utara, Ramadan terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Pakkat. Kuliner unik berbahan dasar pucuk rotan muda ini menjadi primadona yang selalu diburu menjelang waktu berbuka puasa. Meski lidah harus bersentuhan dengan rasa getir, nyatanya antrean pembeli di pinggir jalan selalu mengular.
Tradisi Membakar Rotan di Tepian Jalan
Pemandangan asap mengepul dari batang-batang rotan yang dibakar menjadi ciri khas tersendiri di bulan suci. Pakkat bukanlah rotan keras yang biasa dijadikan kursi, melainkan pucuk rotan muda (daun muda) yang masih lunak.
Proses pengolahannya sangat autentik. Batang-batang rotan sepanjang satu meter diletakkan di atas bara api hingga kulit luarnya menghitam dan pecah. Setelah matang, kulit luar yang keras dikupas untuk mengambil bagian dalamnya yang berwarna putih bersih dan bertekstur lembut.
Mengapa Rasa Pahit Begitu Dicari?
Fenomena larisnya Pakkat setiap Ramadan memicu pertanyaan: Kenapa makanan pahit justru laku keras?
Penambah nafsu makan
Secara tradisional, masyarakat Mandailing meyakini bahwa rasa pahit dari Pakkat dapat merangsang nafsu makan setelah seharian berpuasa.
Khasiat Kesehatan
Pakkat dipercaya baik untuk pencernaan dan mampu menjaga kebugaran tubuh selama menjalankan ibadah puasa.
Kombinasi Sempurna
Pakkat jarang dimakan sendirian. Keajaibannya muncul saat dipadukan dengan Sambal Tuk-tuk (sambal khas Mandailing) atau dijadikan lalapan bersama gulai ikan sale. Rasa pahit yang berpadu dengan gurihnya santan dan pedasnya sambal menciptakan harmoni rasa yang nagih.
Peluang Ekonomi Musiman
Tak hanya soal tradisi, Pakkat juga menjadi berkah bagi para pedagang musiman. Di kota-kota seperti Medan atau Padangsidimpuan, omzet penjual Pakkat bisa meningkat drastis selama Ramadan. Kesederhanaan cara penyajian dan harganya yang terjangkau membuat kuliner ini bisa dinikmati oleh semua kalangan, dari masyarakat biasa hingga pejabat.
Pakkat adalah bukti bahwa kuliner tradisional memiliki daya tahan yang luar biasa di tengah gempuran makanan modern. Ia bukan sekadar menu berbuka, melainkan simbol kerinduan akan kampung halaman dan identitas budaya Mandailing yang tetap terjaga kelestariannya.
Next News

Resep Martabak Telor Gurih ala Rumahan: Solusi War Takjil Tanpa Harus Antre Panjang
3 hours ago

Mengapa Ramadhan Menjadi Waktu Paling Tepat untuk Melatih Diri
9 hours ago

Sahkah Puasa Jika Tidur Terus Sepanjang Hari? Cek Faktanya
9 hours ago

Kenapa Orang Indonesia Suka Gorengan Saat Buka Puasa?
2 days ago

Kenapa Tidur Setelah Sahur Tidak Disarankan? Ini Penjelasan Ilmiahnya
3 days ago

Masjid Al-Osmani Medan: Jejak Sejarah Islam & Kebudayaan Melayu yang Tegak Lebih dari 170 Tahun
4 days ago

Labu kuning ,superfood lokal untuk menu buka puasa sehat dan praktis
4 days ago

Kenapa Harus Ganjil? Menguak Misteri dan Fakta Unik di Balik Kebiasaan Makan Kurma Saat Berbuka
3 days ago

Menu Buka Puasa Ternyata Berpengaruh pada Kesehatan Kulit, Dosen IPB Bagikan Tips Agar Tetap Lembap Selama Ramadan
4 days ago

Aroma Menggoda: Mengapa Takjil Gula Merah Tak Pernah Tergantikan
5 days ago





