Minggu, 8 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Serba Serbi Ramadhan

Rahasia Pakkat Mandailing, Pucuk Rotan Pahit yang Justru Diburu Saat Ramadan

Nanda - Wednesday, 04 March 2026 | 04:38 PM

Background
Rahasia Pakkat Mandailing, Pucuk Rotan Pahit yang Justru Diburu Saat Ramadan

Kenapa pakkat sangat di gemari dan diserbu untuk berbuka puasa?

Bagi sebagian orang, rasa pahit dalam makanan mungkin dihindari. Namun, bagi masyarakat Mandailing di Sumatera Utara, Ramadan terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Pakkat. Kuliner unik berbahan dasar pucuk rotan muda ini menjadi primadona yang selalu diburu menjelang waktu berbuka puasa. Meski lidah harus bersentuhan dengan rasa getir, nyatanya antrean pembeli di pinggir jalan selalu mengular.

Tradisi Membakar Rotan di Tepian Jalan

Pemandangan asap mengepul dari batang-batang rotan yang dibakar menjadi ciri khas tersendiri di bulan suci. Pakkat bukanlah rotan keras yang biasa dijadikan kursi, melainkan pucuk rotan muda (daun muda) yang masih lunak.

Proses pengolahannya sangat autentik. Batang-batang rotan sepanjang satu meter diletakkan di atas bara api hingga kulit luarnya menghitam dan pecah. Setelah matang, kulit luar yang keras dikupas untuk mengambil bagian dalamnya yang berwarna putih bersih dan bertekstur lembut.



Mengapa Rasa Pahit Begitu Dicari?

Fenomena larisnya Pakkat setiap Ramadan memicu pertanyaan: Kenapa makanan pahit justru laku keras?

Penambah nafsu makan

Secara tradisional, masyarakat Mandailing meyakini bahwa rasa pahit dari Pakkat dapat merangsang nafsu makan setelah seharian berpuasa.

Khasiat Kesehatan



Pakkat dipercaya baik untuk pencernaan dan mampu menjaga kebugaran tubuh selama menjalankan ibadah puasa.

Kombinasi Sempurna

Pakkat jarang dimakan sendirian. Keajaibannya muncul saat dipadukan dengan Sambal Tuk-tuk (sambal khas Mandailing) atau dijadikan lalapan bersama gulai ikan sale. Rasa pahit yang berpadu dengan gurihnya santan dan pedasnya sambal menciptakan harmoni rasa yang nagih.

Peluang Ekonomi Musiman

Tak hanya soal tradisi, Pakkat juga menjadi berkah bagi para pedagang musiman. Di kota-kota seperti Medan atau Padangsidimpuan, omzet penjual Pakkat bisa meningkat drastis selama Ramadan. Kesederhanaan cara penyajian dan harganya yang terjangkau membuat kuliner ini bisa dinikmati oleh semua kalangan, dari masyarakat biasa hingga pejabat.



Pakkat adalah bukti bahwa kuliner tradisional memiliki daya tahan yang luar biasa di tengah gempuran makanan modern. Ia bukan sekadar menu berbuka, melainkan simbol kerinduan akan kampung halaman dan identitas budaya Mandailing yang tetap terjaga kelestariannya.