Senin, 29 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Perbedaan Susu Full Cream dan Low Fat

Laila - Friday, 26 June 2026 | 01:05 PM

Background
Perbedaan Susu Full Cream dan Low Fat

Susu Full Cream vs Low Fat: Dilema Klasik di Depan Kulkas Supermarket

Pernah nggak sih kamu berdiri mematung di depan rak susu minimarket selama lima menit cuma buat mikirin satu hal: "Ambil yang biru tua atau yang biru muda ya?" Di satu sisi, hati nurani bilang kalau kesehatan adalah investasi masa depan, makanya tangan gatal mau ambil susu low fat. Tapi di sisi lain, lidah nggak bisa bohong kalau susu full cream itu rasanya jauh lebih "nendang" dan bikin bahagia. Dilema ini sebenernya receh, tapi kalau dipikir-pikir, sering banget bikin kita overthinking sebelum bayar di kasir.

Dunia persusuan memang sedari dulu sudah terbagi menjadi dua kubu besar. Kubu pertama adalah pecinta rasa original alias full cream, dan kubu kedua adalah mereka yang sedang berjuang—atau setidaknya merasa berjuang—untuk hidup lebih sehat dengan memilih low fat. Tapi, apa sih sebenarnya bedanya selain tulisan di kemasannya? Apakah low fat benar-benar sesehat itu, atau jangan-jangan itu cuma strategi marketing biar kita nggak merasa berdosa setelah makan gorengan lima biji?

Si Gurih yang Tak Tergantikan: Susu Full Cream

Susu full cream, atau sering juga disebut whole milk, adalah susu yang diproses tanpa membuang kandungan lemak alaminya. Jadi, apa yang keluar dari sapi, ya itulah yang kamu minum setelah melewati proses pasteurasi atau UHT. Kandungan lemaknya biasanya berkisar di angka 3,25 persen. Kedengarannya dikit ya? Tapi angka segitu udah cukup buat bikin tekstur susu jadi kental, creamy, dan punya rasa gurih yang bikin ketagihan.

Masalahnya, banyak orang yang sudah kadung "fobia" sama yang namanya lemak. Padahal, lemak dalam susu full cream itu nggak jahat-jahat amat kok. Lemak ini justru berfungsi sebagai pengangkut vitamin A, D, E, dan K yang sifatnya larut dalam lemak. Jadi, kalau kamu minum susu full cream, tubuh kamu lebih gampang menyerap nutrisi-nutrisi tadi. Belum lagi soal rasa. Buat kalian para pecinta kopi, bikin latte atau cappuccino pakai susu full cream itu hukumnya wajib. Kenapa? Karena microfoam yang dihasilkan jauh lebih stabil dan rasanya nge-blend sempurna sama pahitnya kafein. Pakai susu low fat buat kopi? Duh, rasanya kayak ada yang kurang, hambar-hambar gimana gitu.

Susu Low Fat: Solusi atau Sekadar Sugesti?

Nah, sekarang kita geser ke susu low fat. Susu ini dibuat dengan cara memutar susu segar dalam mesin sentrifugal buat memisahkan lemaknya. Hasilnya, kandungan lemaknya biasanya cuma tersisa sekitar 1 sampai 2 persen saja. Kalau lemaknya dibuang total sampai di bawah 0,5 persen, namanya berubah lagi jadi skim milk atau susu non-fat yang encernya minta ampun.



Banyak orang memilih low fat karena pengen memangkas kalori. Secara logika sih benar. Kalau lemaknya dikurangi, otomatis kalorinya turun. Ini jadi pilihan populer buat mereka yang lagi dalam program diet ketat atau punya kondisi medis tertentu seperti kolesterol tinggi. Tapi ada satu rahasia umum yang sering dilupakan: saat lemak dibuang, rasa gurihnya juga ikut hilang. Untuk mengakali rasa yang jadi hambar ini, beberapa produsen kadang-kadang menambahkan gula atau perasa tambahan supaya tetap enak diminum. Jadi, kalau kamu beli susu low fat tapi kadar gulanya lebih tinggi, ya sama aja bohong, kan?

Nutrisi dan Vitamin: Mana yang Lebih Unggul?

Kalau kita bicara soal kalsium dan protein, sebenarnya kedua jenis susu ini nggak beda jauh. Kamu tetap bakal dapat asupan protein yang cukup buat otot dan kalsium buat tulang, mau itu dari full cream maupun low fat. Bedanya cuma di urusan energi alias kalori dan vitamin larut lemak tadi.

Di susu low fat, produsen biasanya harus melakukan fortifikasi atau menambahkan kembali vitamin-vitamin yang hilang saat proses pembuangan lemak. Jadi, kalau kamu baca tabel nutrisi di belakang kemasan, vitaminnya mungkin terlihat lengkap karena memang sengaja ditambahin lagi secara sintetis. Sementara di susu full cream, vitamin-vitamin itu sudah ada di sana secara alami bareng lemaknya. Memang benar kata pepatah, yang alami emang lebih asyik.

Jadi, Pilih yang Mana?

Memilih antara full cream dan low fat itu sebenarnya soal preferensi dan kebutuhan gaya hidup masing-masing. Nggak ada yang benar-benar "salah". Kalau kamu adalah tipe orang yang aktif, sering olahraga, dan nggak punya masalah berat badan, susu full cream bisa jadi pilihan yang sangat menyenangkan. Rasanya lebih memuaskan dan bikin kenyang lebih lama karena kandungan lemaknya.

Tapi kalau kamu memang lagi hitung-hitungan kalori banget karena pengen nurunin berat badan dalam waktu singkat, atau mungkin kamu punya riwayat penyakit jantung di keluarga, beralih ke low fat adalah langkah bijak. Tapi ingat, pastikan kamu cek labelnya juga. Jangan sampai "rendah lemak" tapi "tinggi gula". Itu mah namanya keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya.



Secara subjektif, saya sendiri tim full cream garis keras. Alasannya simpel: hidup sudah cukup berat, masa minum susu aja harus hambar? Lagian, beda kalori antara segelas susu full cream dan low fat itu biasanya nggak sampai drastis banget, sekitar 40-50 kalori saja. Itu setara dengan lari selama lima menit atau jalan kaki santai ke depan kompleks. Jadi ya, mending minum yang enak sekalian terus nanti pulangnya jalan kaki agak muter dikit, ya nggak?

Kesimpulannya, jangan terlalu stres urusan memilih susu. Yang paling penting adalah kamu tetap rutin minum susu untuk menjaga kesehatan tulang dan otot. Entah itu kental dan gurihnya full cream atau ringannya low fat, yang penting jangan lupa bersyukur masih bisa beli susu di tengah gempuran harga kebutuhan pokok yang makin naik. Cheers!