Selasa, 10 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Religi

Perbandingan Doa Buka Puasa: Allahumma Laka Shumtu vs Dzahabaz-zhama'u

Fajar - Thursday, 05 February 2026 | 10:00 PM

Background
Perbandingan Doa Buka Puasa: Allahumma Laka Shumtu vs Dzahabaz-zhama'u

Dalam praktik ibadah sehari-hari di bulan Ramadan, umat muslim sering kali dihadapkan pada dua pilihan bacaan doa saat berbuka. Di satu sisi, ada doa "Allahumma laka shumtu" yang sudah mendarah daging sejak masa kanak-kanak. Di sisi lain, muncul anjuran untuk menggunakan doa "Dzahabaz-zhama'u" yang dinilai memiliki landasan riwayat lebih kuat.

Memahami perbedaan keduanya bukan sekadar mencari mana yang benar atau salah, melainkan untuk memperdalam pemahaman teknis kita terhadap sunah Nabi Muhammad SAW. Dengan mengetahui latar belakang sejarah dan kekuatan sanad (rantai perawi) masing-masing doa, kita dapat menjalankan ibadah dengan lebih mantap dan berlandaskan ilmu.

Analisis Riwayat: Kekuatan Sanad

Secara teknis, perbedaan utama dari kedua doa ini terletak pada derajat keshahihan hadis yang meriwayatkannya. Berikut adalah ringkasan informasinya:

  • Doa "Allahumma Laka Shumtu": Doa ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya. Namun, para pakar hadis mencatat bahwa riwayat ini bersifat mursal, yaitu hadis yang sanadnya terputus di tingkat tabiin (generasi setelah sahabat) ke Nabi. Meskipun demikian, banyak ulama terkemuka, termasuk Imam Nawawi, tetap mengizinkan penggunaan doa ini dalam konteks fadhailul a'mal (keutamaan amal) karena maknanya yang baik.
  • Doa "Dzahabaz-zhama'u": Doa ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, namun memiliki kedudukan yang berbeda. Banyak ahli hadis, termasuk Al-Hakim, Ad-Daruquthni, dan Al-Albani, mengategorikan hadis ini sebagai hadis hasan hingga shahih. Karena memiliki derajat riwayat yang lebih kuat dan tidak terputus, banyak penuntut ilmu dan ulama menyarankan doa ini sebagai bacaan utama.

Perbedaan Makna dan Kandungan Spiritual

Selain dari sisi riwayat, kedua doa ini menawarkan perspektif syukur yang berbeda melalui kata-kata yang dipilih.

Makna Kepasrahan dalam "Allahumma Laka Shumtu"

Doa ini berfokus pada pengakuan seorang hamba atas niat dan rezeki. Kalimat "Untuk-Mu aku berpuasa" adalah bentuk penegasan ikhlas, sementara "Dengan rezeki-Mu aku berbuka" adalah bentuk pengakuan bahwa kekuatan untuk bertahan seharian penuh berasal dari pemberian Allah SWT. Doa ini sangat tepat dibaca saat seseorang merasa butuh memperbarui niat ikhlasnya tepat di penghujung hari.

Makna Fakta Syukur dalam "Dzahabaz-zhama'u"

Berbeda dengan yang pertama, doa ini memiliki diksi yang lebih puitis namun faktual. "Telah hilang rasa haus dan telah basah urat-urat" menggambarkan kondisi fisik yang langsung berubah setelah setetes air masuk. Ini adalah bentuk syukur yang sangat jujur atas nikmat fisik yang baru saja diterima. Kata "Telah tetap pahala, insya Allah" di akhir doa merupakan bentuk harapan (raja') agar jerih payah menahan nafsu diterima oleh Sang Pencipta.

Mana yang Lebih Utama untuk Dibaca?

Secara teknis hukum Islam, tidak ada larangan untuk membaca salah satu atau bahkan menggabungkan keduanya. Namun, jika prioritas Anda adalah mengikuti sunah yang memiliki dasar riwayat paling kuat, maka Dzahabaz-zhama'u adalah pilihan utama.

Beberapa ulama menyarankan metode penggabungan untuk mendapatkan keutamaan keduanya:

  1. Membaca Basmalah sebelum minum.
  2. Meminum air atau memakan kurma.
  3. Membaca Dzahabaz-zhama'u sesaat setelah kerongkongan terasa basah.
  4. Menambahkan doa Allahumma laka shumtu atau doa-doa pribadi lainnya setelahnya.

Kesimpulan

Perbedaan antara kedua doa buka puasa ini sebenarnya memperkaya khazanah ibadah umat muslim. Memilih doa yang lebih shahih seperti "Dzahabaz-zhama'u" menunjukkan kesungguhan dalam mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW secara akurat. Namun, kelapangan hati untuk menerima doa "Allahumma laka shumtu" sebagai bagian dari tradisi yang baik juga mencerminkan sikap bijaksana.

Hal terpenting adalah esensi dari doa itu sendiri: yakni rasa syukur dan pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Sang Pemberi Rezeki. Untuk memastikan ibadah Anda tetap maksimal dari sisi jasmani, jangan lupa menyimak panduan Tata Cara Berbuka Puasa yang Sehat dan Sesuai Tuntunan Syariat agar tubuh tetap bugar untuk melanjutkan ibadah di malam hari.