Pantauan Satelit Deteksi 36 Titik Panas Karhutla di Papua Barat
Laila - Saturday, 29 August 2026 | 08:40 PM


JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 36 titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Provinsi Papua Barat. Data tersebut diperoleh melalui pemantauan satelit NASA-Terra/Aqua, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20 hingga pukul 19.00 WIB pada 28 Agustus 2026.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan dari 36 titik panas tersebut, satu titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 31 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang, sedangkan empat titik lainnya memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Selain titik panas, data SIPONGI Kementerian Kehutanan menunjukkan luas indikatif lahan yang terbakar di Papua Barat hingga 27 Agustus 2026 mencapai 2.496,39 hektare.
BNPB bersama BPBD dan berbagai unsur terkait terus melakukan pemantauan serta penanganan karhutla secara terpadu. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran api, melindungi masyarakat dan lingkungan, sekaligus memastikan dukungan penanganan diberikan sesuai kondisi di lapangan.
Penanganan Karhutla di Teluk Bintuni
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kabupaten Teluk Bintuni. BNPB memperkuat upaya pemadaman dengan mengerahkan helikopter water bombing jenis AS350B3e PK-DBM.
Helikopter tersebut secara kumulatif telah melakukan 69 kali penyiraman air dengan total sekitar 69 ribu liter untuk membantu pemadaman di sekitar kawasan Tangguh LNG.
Karhutla di Teluk Bintuni diketahui mulai terpantau sejak 22 Agustus 2026. Lokasi kebakaran berada di kawasan dengan vegetasi cukup rapat, pepohonan tinggi, dan hutan yang lebat.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pemadaman melalui udara. Air yang dijatuhkan dari helikopter tidak selalu dapat langsung mencapai permukaan tanah atau bagian vegetasi yang masih terbakar di bawah tutupan hutan.
Meski demikian, penyiraman dari udara diharapkan dapat membasahi kawasan yang terbakar sekaligus membantu memutus jalur penyebaran api.
Pemadaman juga dilakukan secara bertahap dengan pemantauan rutin. Tim menggunakan drone thermal untuk menemukan titik panas dan bara yang masih tersisa sehingga lokasi yang membutuhkan penanganan dapat ditentukan dengan lebih tepat.
Berdasarkan pemantauan drone thermal milik BP Berau Ltd. pada Jumat (28/8), ditemukan 14 titik panas di sekitar kawasan Tangguh LNG. Titik-titik tersebut tersebar dalam empat klaster.
Sebanyak empat titik berada di klaster 2, empat titik di klaster 3, dan enam titik berada di klaster 4. Sementara itu, pada klaster 1 tidak ditemukan titik panas dalam pemantauan tersebut.
Operasi Water Bombing Terus Dilakukan
Pada Jumat (28/8), operasi water bombing dilaksanakan dalam dua sortie. Operasi pertama dilakukan di klaster 3 dengan 26 kali penyiraman atau sekitar 26 ribu liter air untuk menangani area seluas kurang lebih empat hektare.
Operasi kedua berlangsung di klaster 1 dengan 28 kali water bombing atau sekitar 28 ribu liter air pada area sekitar tiga hektare.
Hasil pemadaman menunjukkan tidak lagi terlihat kobaran api di kedua lokasi tersebut. Namun, tim masih menemukan kepulan asap tipis yang mengindikasikan kemungkinan adanya panas atau bara di bawah lapisan vegetasi.
Karena itu, pemantauan dan pemadaman secara berulang masih diperlukan untuk mencegah munculnya kembali kobaran api.
Karhutla Juga Dipantau di Wilayah Lain
Penanganan karhutla di Papua Barat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi setiap wilayah. Selain Teluk Bintuni, titik kebakaran juga terpantau di Kabupaten Fakfak, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak.
Menurut laporan BPBD Papua Barat, Teluk Bintuni termasuk salah satu wilayah dengan luasan lahan terbakar yang cukup besar dan menempati posisi kedua tertinggi di tingkat provinsi.
Pertimbangan dalam memberikan dukungan penanganan mencakup perkembangan titik panas, luas wilayah terdampak, akses menuju lokasi, kondisi medan, serta kebutuhan pemadaman dari udara.
BNPB juga mempertimbangkan aspek teknis dan keselamatan dalam mengerahkan helikopter. Setiap penugasan disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kemampuan armada untuk mencapai lokasi sasaran.
Saat ini, satu helikopter Super Puma milik BP Berau Ltd. telah tiba di lokasi dan siap membantu operasi water bombing. Selain itu, satu helikopter Kamov juga dijadwalkan datang untuk memperkuat kemampuan pemadaman udara.
Penambahan armada tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas penanganan karhutla. Sementara itu, penggunaan helikopter BNPB PK-DBM akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan dan kebutuhan wilayah lainnya.
Evaluasi juga mempertimbangkan kondisi operasional helikopter, jarak menuju lokasi, akses dari pangkalan terdekat, ketersediaan sumber air, serta karakteristik medan.
Hingga Jumat (28/8), kondisi karhutla di sekitar kawasan operasi Tangguh LNG secara umum masih terkendali. Meski demikian, sejumlah titik panas dan asap tipis masih terpantau sehingga proses pemantauan dan penanganan tetap dilanjutkan.
Next News

Hujan picu banjir, perjalanan Kakek-Nenek keliling dunia menuju Boten terkendala
in 4 hours

Wali Kota Padangsidimpuan Lantik Sejumlah Pejabat, Tekankan Profesionalisme dan Orientasi Pelayanan
12 hours ago

Pemerintah Keluarkan Aturan Operator Dilarang Hapus Sisa Kuota Internet, Wajib Sediakan Pilihan Layanan
12 hours ago

Deli Serdang Teken Kesepakatan Bersama Turunkan Stunting
12 hours ago

Bupati Palas Tinjau Proyek Hotmix Berbiaya Rp4,8 Milyar di Ujung Batu I
12 hours ago

Bupati Padanglawas Tegaskan Larangan Bakar Lahan dan Garap Tanah Negara
a day ago

Prakiraan Cuaca Sumut 29–30 Agustus 2026: Berawan, Kabut, hingga Suhu 37 Derajat Celsius
21 hours ago

Banpres Rp3 Juta Disiapkan untuk Bantu UMKM Terdampak Bencana di 3 Provinsi
2 days ago

Bulog Sumut Siapkan Tambahan 36.000 Ton Beras untuk Perkuat Stok Pangan
2 days ago

Wabup Jafar Dorong ASN Tapsel Siapkan Masa Pensiun melalui Kredit Mapan Bank Sumut
2 days ago





