Mengenal Permainan Tradisional yang Mulai Jarang Dimainkan
Laila - Saturday, 04 July 2026 | 10:40 AM


Nasib Permainan Tradisional: Antara Nostalgia, Tanah Berlumpur, dan Gempuran Algoritma
Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali telapak tangan kamu kotor gara-gara nempel di tanah, atau lutut lecet karena ngejar temen pas main petak umpet? Kalau kamu harus mikir lebih dari sepuluh detik buat jawabnya, fix, masa kecil kamu sudah lama berlalu dan mungkin kamu sudah masuk kategori kaum jompo yang hobi scrolling TikTok sambil rebahan.
Dulu, sekitar jam empat sore itu adalah waktu paling sakral. Tanpa perlu janjian lewat grup WhatsApp, anak-anak satu komplek atau satu gang bakal otomatis ngumpul di lapangan atau tanah kosong. Gak ada yang namanya "mabar" lewat layar HP. Yang ada adalah mabar dalam artian yang paling literal: main bareng, keringetan bareng, sampai bau matahari, dan baru pulang pas denger suara emak teriak manggil dari kejauhan atau pas adzan maghrib berkumandang.
Sayangnya, pemandangan kayak gitu sekarang sudah jadi barang langka. Lapangan tempat kita dulu main bola plastik sekarang sudah berubah jadi deretan ruko atau kontrakan. Anak-anak zaman sekarang lebih akrab sama kontroler game atau layar sentuh daripada tekstur biji sawo buat main dakon. Mari kita sedikit menoleh ke belakang, menengok beberapa permainan tradisional yang perlahan tapi pasti mulai hilang dari radar pergaulan bocah-bocah masa kini.
Gobak Sodor: Esports-nya Generasi 90-an
Kalau sekarang anak-anak bangga sama rank "Mythic" di Mobile Legends, dulu kita punya kasta tertinggi tersendiri kalau jago main Gobak Sodor. Ini bukan cuma soal lari-larian nggak jelas. Gobak Sodor itu adalah simulasi strategi tingkat tinggi. Kamu butuh kecepatan, kelincahan, dan kemampuan buat baca gerak-gerik lawan. Tim penjaga harus solid, gak boleh ada celah sedikit pun biar lawan nggak lolos ke garis belakang.
Jujur aja, adrenalin pas kita nyaris ketangkep tapi berhasil melesat lewat celah kecil itu rasanya lebih nagih daripada dapet "Savage" di game online. Ada interaksi fisik, ada tawa yang bener-bener lepas, dan tentu saja, ada drama kalau ada yang dianggap curang karena garisnya "diinjek". Sekarang? Jangankan main Gobak Sodor, nemu lahan yang cukup luas buat bikin garis kotaknya aja susahnya minta ampun.
Engklek dan Filosofi Kepemilikan Lahan
Siapa yang sangka kalau permainan Engklek atau yang di beberapa daerah disebut Telek-telekan itu sebenernya ngajarin kita soal investasi properti sejak dini? Kita harus lempar "gaco" (biasanya pecahan genteng atau batu pipih) ke kotak-kotak tertentu, lalu lompat pake satu kaki. Kalau berhasil sampai puncak dan balik lagi, kita berhak milih satu kotak buat jadi "sawah" atau rumah kita. Lawan gak boleh injak kotak itu, sementara kita boleh dua kaki di sana.
Permainan ini butuh keseimbangan yang prima. Kalau kakimu gemeteran dikit dan nyentuh garis, ya wassalam, ganti pemain. Di sini kita belajar soal kerja keras: buat dapet satu "kotak rumah" aja perjuangannya sampai keringetan. Bandingin sama zaman sekarang, di mana beli aset digital atau "tanah" di metaverse tinggal klik-klik aja tanpa perlu keringetan sama sekali. Rasanya ada sesuatu yang hilang: kepuasan fisik saat berhasil menaklukkan tantangan.
Gasing dan Ethek-Ethekan: Mainan yang Butuh Skill, Bukan Top-up
Dulu, punya gasing kayu yang puterannya paling lama itu adalah sebuah prestise. Kita nggak butuh beli skin mahal-mahal buat pamer. Kita cuma butuh tali yang kuat dan teknik lemparan yang pas. Suara dengungan gasing yang beradu di tanah itu punya kepuasan tersendiri. Begitu juga sama Ethek-ethekan atau Latto-latto yang sempet viral lagi beberapa waktu lalu. Meskipun suaranya bikin tetangga darting (darah tinggi), ada koordinasi motorik yang dilatih di situ.
Tapi ya gitu, tren mainan fisik kayak gini biasanya cuma musiman. Begitu ada game baru di Play Store yang lebih "warna-warni" dan instan, mainan kayu yang dibuat pakai tangan ini langsung masuk gudang atau berakhir jadi kayu bakar. Miris sih, padahal kerajinan tangan dalam membuat gasing itu adalah warisan budaya yang gak main-main detailnya.
Kenapa Mereka Mulai Menghilang?
Banyak yang nyalahin gadget sebagai biang kerok utamanya. Ya, itu nggak sepenuhnya salah, tapi nggak bener 100 persen juga. Masalahnya lebih kompleks dari sekadar HP. Coba liat lingkungan sekitar kita. Lahan terbuka hijau makin dikit. Anak-anak sekarang kalau mau main lari-larian harus ke taman kota yang jaraknya mungkin berkilo-kilo dari rumah. Belum lagi soal kekhawatiran orang tua. Dulu kita jatuh sampai berdarah, lukanya cuma dikasih ludah (jangan ditiru ya!) atau obat merah terus main lagi. Sekarang, orang tua lebih protektif. Takut anaknya kena kuman, takut diculik, atau takut kena debu.
Selain itu, sistem pendidikan kita juga makin padat. Anak SD sekarang pulangnya sore, lanjut les ini-itu sampai malem. Waktu buat "eksplorasi nggak jelas" di lapangan jadi makin kegerus. Padahal, dari permainan tradisional inilah kita belajar soal negosiasi, sportivitas, dan cara menghadapi kekalahan tanpa harus ngetik kata-kata kasar di kolom chat.
Harapan yang Tersisa
Mungkin kita nggak bisa maksa anak-anak zaman sekarang buat ninggalin Roblox atau Minecraft sepenuhnya. Itu zamannya mereka. Tapi, nggak ada salahnya kalau sesekali kita ngenalin lagi permainan-permainan ini. Bukan cuma lewat buku sejarah, tapi langsung dipraktekkin. Beberapa komunitas sekarang sudah mulai rutin ngadain festival permainan tradisional. Tujuannya simpel: biar memori kolektif bangsa ini nggak hilang ditelan algoritma.
Permainan tradisional itu adalah identitas. Di situ ada tawa, ada kerja sama, dan ada hubungan antarmanusia yang bener-bener nyata. Jadi, buat kamu yang mungkin nanti sudah punya anak atau punya keponakan, sesekali ajaklah mereka kotor-kotoran di luar. Biarin mereka tahu rasanya seneng pas berhasil lompatin tali karet yang setinggi kepala, atau serunya sembunyi di balik pohon pas main petak umpet. Karena pada akhirnya, kenangan yang paling nempel itu bukan soal skor tertinggi di game, tapi soal siapa yang lari bareng kita pas hujan turun di sore hari.
Next News

Mengenal Rumput Laut, Organisme Laut yang Banyak Dimanfaatkan Manusia
in 7 hours

Fakta Menarik Tentang Terumbu Karang yang Dijuluki "Hutan Hujan Laut"
in 7 hours

Fakta Menarik Tentang Kelelawar, Satu-Satunya Mamalia yang Bisa Terbang
in 6 hours

Fakta Unik Tentang Jamur yang Bukan Termasuk Tumbuhan, Ini Penjelasan Ilmiahnya
in 6 hours

Mengapa Panda Hanya Memakan Bambu? Ternyata Ini Alasan Ilmiahnya
in 6 hours

Mitos atau Fakta: Unta Menyimpan Air di Punuknya? Ini Penjelasan Sebenarnya
in 6 hours

Mengapa Pohon Bisa Hidup Hingga Ribuan Tahun? Ini Rahasia Umurnya yang Sangat Panjang
in 6 hours

Mitos atau Fakta: Semua Ular Berbisa? Ini Penjelasan yang Perlu Anda Ketahui
in 6 hours

Fenomena Embun Pagi, Bagaimana Proses Terbentuknya? Ini Penjelasan Ilmiahnya
in 6 hours

Bolehkah Minum Kopi Susu Setiap Hari? Ini Manfaat dan Hal yang Perlu Diperhatikan
in 6 hours





