Senin, 13 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengenal Congklak dan Manfaatnya untuk Anak

Laila - Saturday, 04 July 2026 | 11:35 AM

Background
Mengenal Congklak dan Manfaatnya untuk Anak

Nostalgia Suara Tek-Tek-Tek: Mengapa Congklak Tetap Juara buat Tumbuh Kembang Anak

Coba deh tarik napas dalam-dalam dan ingat kembali masa kecil kalian. Ingat nggak suara khas "tek-tek-tek" yang beradu saat biji kerang atau biji sawo jatuh satu per satu ke dalam lubang kayu? Kalau memori itu muncul, selamat, masa kecil kalian kemungkinan besar jauh dari paparan radiasi layar ponsel yang berlebihan. Ya, kita bicara soal congklak, permainan legendaris yang sekarang nasibnya mulai tergeser oleh riuhnya suara Mobile Legends atau Roblox di ruang tamu.

Di era yang serba sat-set ini, congklak mungkin kelihatan seperti relik masa lalu yang membosankan. Cuma papan kayu panjang dengan lubang-lubang, terus kita cuma mindahin biji. Gitu doang? Eits, jangan salah. Di balik kesederhanaannya, congklak itu sebenarnya adalah "game strategi OG" yang punya segudang manfaat buat anak-anak—manfaat yang nggak bakal didapat cuma dari geser-geser layar touchscreen.

Bukan Sekadar Main, Ini Soal Filosofi dan Strategi

Sebelum kita bahas soal manfaatnya, mari kita sepakati dulu kalau congklak itu punya banyak nama. Ada yang manggil Dakon di Jawa, Moka di Sulawesi, atau Congkak di Sumatera. Ternyata, permainan ini nggak cuma milik Indonesia, tapi tersebar dari Afrika sampai Asia. Intinya, manusia dari zaman dulu sudah sepakat kalau memindahkan biji dari satu lubang ke lubang lain itu seru banget.

Main congklak itu sebenernya melatih insting "investasi" sejak dini. Kita punya modal biji, kita harus muter otak gimana caranya biji itu muter terus dan berakhir di lubang besar milik kita sendiri (lubang induk). Ada hitung-hitungannya, lho. Kalau salah langkah, mati di tengah jalan, dan giliran lawan yang ambil alih. Ini tuh semacam catur versi lebih santai tapi tetap bikin mikir keras.

"Gym" Buat Jari dan Motorik Halus

Zaman sekarang, banyak anak kecil yang jago banget "swipe" sana-sini, tapi kalau disuruh pegang pensil atau kancing baju sendiri malah kagok. Nah, di sinilah congklak ambil peran. Gerakan menjumput biji satu per satu dengan jempol dan telunjuk itu adalah latihan motorik halus yang luar biasa.



Bayangin aja, anak harus mengambil segenggam biji, lalu menjatuhkannya tepat satu per satu ke setiap lubang. Kedengarannya gampang buat kita yang sudah dewasa, tapi buat anak kecil, ini butuh koordinasi mata dan tangan yang presisi. Ini adalah latihan otot-otot kecil di tangan yang nantinya bakal sangat berguna saat mereka mulai belajar menulis atau melakukan hobi kreatif lainnya. Jadi, daripada kasih gadget terus, mending kasih papan congklak biar jemarinya makin lincah.

Belajar Matematika Tanpa Perlu Kerutkan Dahi

Banyak anak yang alergi sama matematika karena bayangannya adalah angka-angka rumit di papan tulis. Padahal, congklak itu matematika dalam bentuk yang paling fun. Saat bermain, anak secara otomatis belajar berhitung (counting), belajar soal pembagian sederhana, sampai belajar logika peluang.

"Kalau aku ambil tujuh biji di lubang ini, bakal sampai nggak ya ke lubang induk?" Pertanyaan-pertanyaan logis kayak gitu muncul secara natural di kepala mereka. Mereka belajar memprediksi hasil dari sebuah tindakan. Ini namanya pemikiran strategis. Tanpa mereka sadari, mereka lagi ngerjain soal matematika tingkat dasar sambil ketawa-ketiwi. Keren, kan?

Melatih Kejujuran di Tengah Godaan "Curang"

Ini nih yang paling penting: pendidikan karakter. Main congklak itu butuh kejujuran tingkat tinggi. Kenapa? Karena saat kita muterin biji, lawan nggak selalu bisa mantau dengan detail apakah kita beneran masukin satu biji ke setiap lubang atau malah "selip" dua biji biar cepet sampai lubang induk.

Di sinilah integritas anak diuji. Apakah mereka bakal main bersih atau main curang demi menang? Lewat congklak, kita bisa ngajarin kalau kemenangan yang diraih dengan cara nggak jujur itu nggak ada rasanya. Plus, congklak melatih kesabaran. Nggak ada tombol "skip ad" atau "fast forward" di congklak. Kamu harus nunggu lawan selesai main, kamu harus sabar dengerin bunyi biji jatuh satu per satu. Di dunia yang pengennya serba instan, belajar sabar itu adalah skill langka, lho.



Interaksi Sosial yang "Real", Bukan Virtual

Main game online emang bisa mabar (main bareng), tapi rasanya beda banget sama duduk berhadapan langsung. Saat main congklak, ada kontak mata, ada obrolan receh, ada saling ejek yang sehat, dan ada tawa yang beneran kedengeran di telinga, bukan cuma deretan emoji "wkwkwk" di layar chat.

Interaksi sosial secara fisik ini penting banget buat perkembangan emosi anak. Mereka belajar membaca ekspresi lawan, belajar berempati, dan belajar gimana caranya menang tanpa sombong atau kalah tanpa harus banting HP. Congklak menciptakan ruang buat bonding antara orang tua dan anak atau antar teman sebaya yang kualitasnya nggak bisa digantikan oleh algoritma manapun.

Penutup: Mari Hidupkan Kembali Papan Kayu Itu

Mungkin sudah saatnya kita bongkar lagi gudang atau mampir ke pasar tradisional buat beli papan congklak. Nggak perlu yang mahal dari kayu jati ukiran, yang plastik warna-warni pun nggak masalah. Yang penting adalah esensinya.

Mengenalkan congklak ke anak bukan berarti kita anti teknologi, tapi kita pengen mereka punya keseimbangan. Kita pengen mereka tahu kalau ada kebahagiaan yang sederhana, yang bunyinya cuma "tek-tek-tek", tapi manfaatnya bakal membekas sampai mereka dewasa nanti. Jadi, gimana? Siap tanding congklak sore ini sama si kecil? Hati-hati ya, jangan sampai kalah strategi sama mereka!