Mengapa Thrifting Begitu Populer? Dari Stigma Menuju Tren Fashion
Tata - Monday, 20 April 2026 | 06:15 PM


Dari Gengsi Jadi Obsesi: Kenapa Thrifting dan Monza Sekarang Jadi Primadona?
Kalau kita tarik mundur waktu sekitar sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, memakai baju bekas mungkin bukan sesuatu yang bisa dibanggakan di depan tongkrongan. Ada semacam stigma yang menempel: kalau nggak karena nggak punya duit, ya karena terpaksa. Istilahnya pun masih sangat mentah, yakni "baju rombeng" atau "baju loak". Tapi coba lihat sekarang. Istilahnya sudah naik kelas jadi thrifting, atau buat kawan-kawan di wilayah Sumatera Utara, mereka punya istilah legendaris sendiri: Monza alias Mongonsidi Plaza.
Fenomena ini bukan sekadar tren musiman yang numpang lewat seperti es kepal milo. Thrifting sudah jadi gaya hidup, sebuah subkultur yang merambah dari anak sekolah, mahasiswa, sampai pekerja kantoran yang kalau akhir pekan rela berjibaku dengan debu di pasar-pasar barang bekas. Pertanyaannya, kenapa sih orang sekarang lebih doyan berburu baju monza daripada masuk ke gerai ritel mentereng di mall yang ber-AC dingin itu?
Sensasi Berburu Harta Karun di Tumpukan Kain
Jujurly, ada kepuasan adrenalin tersendiri saat kita berhasil menemukan satu kemeja flanel vintage atau jaket racing orisinal di tengah gunungan baju yang baunya khas karbol itu. Ini yang nggak akan didapatkan kalau kita belanja di mall. Di mall, semuanya sudah tersaji rapi, ukurannya lengkap, tapi ya gitu, pilihannya template. Kamu beli satu baju, eh pas keluar mall, ada tiga orang lain yang pakai baju yang sama persis. Rasanya kayak lagi pakai seragam organisasi tanpa disengaja.
Nah, di dunia thrifting, prinsipnya adalah one of a kind. Kemungkinan kamu ketemu orang dengan baju yang sama persis itu tipis banget, nyaris nol. Sensasi "hunting" ini yang bikin nagih. Kita seperti detektif yang sedang mencari harta karun tersembunyi. Bayangkan, dengan modal lima puluh ribu perak, kalau lagi beruntung kamu bisa bawa pulang kemeja brand Jepang atau bahkan kaos band vintage yang kalau di eBay harganya bisa jutaan. Keberhasilan mendapatkan barang bagus dengan harga miring ini memberikan dopamin yang luar biasa buat kaum mendang-mending.
Melawan Arus Fast Fashion yang Melelahkan
Alasan kedua kenapa monza makin dicintai adalah kesadaran akan isu lingkungan. Anak muda zaman sekarang, terutama Gen Z dan milenial akhir, makin kritis sama yang namanya fast fashion. Industri fashion besar itu dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Belum lagi isu soal upah buruh yang nggak manusiawi di pabrik-pabrik tekstil raksasa.
Dengan membeli baju bekas, secara nggak langsung kita ikut memperpanjang usia pakai sebuah pakaian. Daripada berakhir di tempat pembuangan akhir dan jadi polusi, lebih baik kita selamatkan dan kita pakai lagi dengan gaya yang lebih kece. Membeli baju bekas adalah bentuk protes kecil nan gaya terhadap konsumerisme gila-gilaan. Jadi, selain kelihatan keren secara visual, ada rasa tenang di hati karena merasa sudah melakukan langkah kecil untuk bumi. Istilah kerennya, sustainable fashion, meski pas lagi milih bajunya kita harus bersin-bersin karena debu.
Kualitas "Ordal" yang Lebih Badak
Pernah nggak kamu beli kaos di toko branded baru, tapi setelah tiga kali cuci, kerahnya sudah melar kayak adonan donat? Nah, ini dia rahasia umum para pecinta monza. Baju-baju thrift, terutama yang barang impor lama alias vintage, biasanya punya kualitas bahan dan jahitan yang jauh lebih solid. Baju-baju era 90-an atau awal 2000-an itu dibuat untuk bertahan lama, bukan sekadar untuk tren dua minggu lalu dibuang.
Banyak orang lebih memilih kemeja bekas tapi bahannya tebal dan jahitannya rapi daripada beli baru tapi bahannya tipis menerawang. Belum lagi urusan detail. Baju monza seringkali punya desain yang unik, kancing yang estetik, sampai potongan yang nggak pasaran. Untuk urusan gaya "skena" atau vintage, baju-baju thrift adalah kunci utamanya. Nggak heran kalau banyak fashion influencer yang bangga banget pamer hasil buruan mereka di TikTok atau Instagram dengan caption "Cuma 20 ribu dapet Coach original!"
Ekonomi Pas-pasan, Gaya Tetap Maksimal
Kita nggak bisa menutup mata dari faktor ekonomi. Di tengah harga kebutuhan pokok yang makin mencekik, mengalokasikan budget jutaan rupiah untuk baju baru tentu terasa berat bagi sebagian orang. Thrifting hadir sebagai solusi demokratis bagi siapa saja yang ingin tampil gaya tanpa harus menguras tabungan atau pinjol.
Dulu, ada anggapan kalau mau keren harus mahal. Sekarang, pakem itu sudah basi. Keren itu soal bagaimana kamu memadu-padankan pakaian (mix and match). Kamu bisa pakai celana dari pasar monza seharga tiga puluh ribu, dipadukan dengan kaos thrift sepuluh ribuan, tapi kalau pinter milihnya, tampilannya bisa kayak model-model di majalah fashion luar negeri. Istilahnya, gaya kelas atas, harga kelas bawah.
Selain itu, thrifting juga membuka peluang bisnis baru. Sekarang banyak bermunculan "curated thrift shop" di media sosial. Mereka yang malas kotor-kotoran ke pasar bisa beli lewat mereka dengan harga yang tentu sudah dinaikkan karena sudah dicuci bersih, disetrika, dan difoto dengan estetik. Ini membuktikan bahwa ekosistem baju bekas sudah jadi industri yang serius dan punya pangsa pasar yang sangat loyal.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Baju Bekas
Pada akhirnya, kenapa orang lebih suka baju thrift atau monza bukan cuma soal harga murah. Ini adalah perpaduan antara seni mencari keunikan, kepedulian terhadap lingkungan, dan keinginan untuk lepas dari standar fashion yang seragam. Memakai baju monza adalah cara kita merayakan ketidaksempurnaan yang punya cerita. Ada sejarah di setiap serat kainnya, ada perjuangan saat menemukannya di bawah tumpukan, dan ada rasa bangga saat memakainya.
Jadi, buat kamu yang masih ragu buat mulai thrifting karena takut kotor atau gengsi, percayalah, sekali kamu dapet "harta karun" yang pas di badan dan pas di hati, jalan pulang menuju mall bakal terasa makin jauh. Selamat berburu, dan jangan lupa cuci bersih bajunya dengan air panas sebelum dipakai, ya!
Next News

Benarkah Potong Bulu Mata Bayi Bikin Lentik? Cek Penjelasannya
in 7 hours

Mitos atau Fakta: Wortel Bikin Mata Tajam Bak Elang?
in 5 hours

Cara Pilih Kacamata Sesuai Bentuk Wajah Agar Makin Estetik
in 4 hours

Bukan Faktor Penuaan, Ini Pemicu Uban Muncul di Usia Remaja
in 4 hours

Bukan Sekadar Metaverse, Inilah Alasan aespa Sukses Besar
in 4 hours

Mengenal Paus Orca: Fakta Kecerdasan Paus Pembunuh dan Mitos Predator Puncak
in 2 hours

Mengapa Ikan Sapu-Sapu Berbahaya? Ini Alasan Ilmiah di Balik Pemusnahannya
in 2 hours

7 Hewan yang Sering Digunakan dalam Eksperimen Sains dan Kontroversinya
in 2 hours

Kenali 5 Jenis Sale Pisang, Camilan Tradisional Favorit Banyak Orang
in an hour

Sering Makan Ikan? Kenali Jenis yang Mengandung Merkuri Tinggi Ini
in an hour





