Senin, 20 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Musik

Lirik Lagu Sesi Potret – Enau feat. Ari Lesmana, Kisah Anak Rantau yang Terlambat Pulang

Liaa - Thursday, 16 April 2026 | 01:22 PM

Background
Lirik Lagu Sesi Potret – Enau feat. Ari Lesmana, Kisah Anak Rantau yang Terlambat Pulang

Lagu Sesi Potret menjadi kolaborasi emosional antara Enau (Putra Permana) dan Ari Lesmana yang resmi dirilis pada 30 Januari 2026. Karya ini lahir dari kejujuran perasaan tentang proses menerima diri sendiri sekaligus belajar berdamai dengan kehilangan.

Secara makna, lagu ini menggambarkan penyesalan seorang anak rantau yang terlalu lama menunda kepulangan. Ketika akhirnya berhasil pulang dengan membawa hasil jerih payah, sosok yang paling dirindukan justru telah lebih dahulu "pulang" ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Istilah "rumah baru" dalam lagu ini menjadi metafora yang menyentuh, merujuk pada makam orang tercinta. Momen sesi foto keluarga yang sebelumnya terasa biasa saja kini berubah menjadi kenangan yang menyakitkan karena satu posisi tak lagi terisi.

Melalui balutan musik akustik yang sederhana, Enau menyelipkan metafora mendalam di setiap liriknya. Lagu ini bukan sekadar tentang duka, tetapi juga tentang gengsi, rasa bersalah, serta ketidakmampuan seseorang dalam belajar ikhlas.

Lirik Lagu Sesi Potret – Enau feat. Ari Lesmana

Tahun lalu berjuta alasanku



Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan

Kali ini sudah lumayan

Berkat doamu diijabah Sang Maha Kaya

Dan tahun ini, kubisa pulang

Oleh-oleh sudah di tangan



Tapi anehnya, bukan kau yang menyambutku

Ohh ternyata, kau yang lebih dulu pulang...

[Reff]

Ku bertamu ke rumah barumu

Tak ada kamu



Hanya papan dan namamu

Mana ocehan, wewangian khasmu

Jarak ini terlalu jauh

Kalau rindu aku tak mampu

Soal ikhlas ternyata aku masih amatir



Gengsi menyelimutiku, manusia ini kehilanganmu

Sesi potret yang selalu kubenci

Aneh rasanya kau tak di sini

Susunan barisannya tak sama lagi

Ooh... Satu... dua... tiga...



Ini nyata, kau telah pergi...

[Reff]

Ku bertamu ke rumah barumu

Tak ada kamu

Hanya papan dan namamu



Mana ocehan, wewangian khasmu

Jarak ini terlalu jauh

Kalau rindu aku tak mampu

Sesal hatiku tak sempat temani kamu

Harusnya kubisikkan kata ajaib ke telingamu



Soal ikhlas ternyata aku masih amatir

Masih sangat amatir

Gengsi menyelimutiku

Manusia ini kehilanganmu

Kehilanganmu...