Kamis, 4 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Musik

Mengenal Sosok Rhoma Irama, Sang Raja Dangdut Lintas Zaman

Liaa - Thursday, 04 June 2026 | 03:00 PM

Background
Mengenal Sosok Rhoma Irama, Sang Raja Dangdut Lintas Zaman

Rhoma Irama: Bukan Sekadar Raja, Tapi Arsitek Peradaban Dangdut Kita

Kalau kita bicara soal musik Indonesia, ada satu nama yang kalau disebut, auranya langsung berasa sampai ke tulang sumsum. Bukan, ini bukan soal musisi indie yang main di kafe remang-remang Jakarta Selatan, tapi soal sosok legendaris yang identik dengan gitar buntung, jambang ikonik, dan suara bariton yang bisa bikin emak-emak sampai anak skena zaman sekarang ikutan goyang. Siapa lagi kalau bukan sang Raja Dangdut, Rhoma Irama.

Membicarakan Bang Haji—begitu beliau akrab disapa—itu ibarat mengupas bawang. Lapisannya banyak banget. Dia bukan cuma penyanyi yang kebetulan terkenal, tapi dia adalah seorang revolusioner. Bayangkan saja, di era 70-an, ketika musik Melayu masih dianggap musik kampungan yang hanya terdengar di pinggiran kota, Rhoma datang dengan ide gila. Dia mencampurkan unsur rock ala Led Zeppelin atau Deep Purple ke dalam struktur musik Melayu. Hasilnya? Lahirlah Dangdut yang kita kenal sekarang. Sebuah genre yang awalnya dihina sebagai "musik tahi anjing" oleh beberapa kalangan elit, tapi akhirnya malah jadi identitas nasional.

Evolusi dari Musisi Rock Menjadi Satria Bergitar

Banyak anak muda sekarang yang mungkin cuma tahu Rhoma dari meme "Ter-la-lu" atau potongan film jadul yang dramatis di TikTok. Padahal, sejarahnya lebih dari itu. Sebelum membentuk Soneta Group pada 11 Desember 1970, Rhoma adalah seorang rocker. Dia terbiasa dengan distorsi gitar dan aksi panggung yang enerjik. Namun, dia sadar bahwa musik harus punya akar. Maka, dia membawa elemen hard rock itu ke dalam gendang dan suling.

Salah satu yang bikin Rhoma beda dari musisi lain adalah visinya soal grup musik. Bersama Soneta, dia mencanangkan semboyan "Voice of Moslem". Ini adalah titik balik di mana dangdut bukan lagi sekadar soal asmara atau penderitaan orang miskin, tapi juga soal dakwah. Lirik-liriknya mulai bicara soal judi, minuman keras, sampai hak asasi manusia. Nah, di sinilah letak keunikan Bang Haji. Dia bisa bikin orang berjoget sambil merenungi dosa-dosanya. Sebuah kombinasi yang mungkin terdengar kontradiktif, tapi nyatanya berhasil menyihir jutaan orang.

Gaya bicaranya yang tertata, intonasi yang tegas, dan karisma yang meluap-luap membuat dia nggak cuma jadi penyanyi, tapi juga aktor. Siapa sih yang nggak pernah dengar dialog ikonik antara Rhoma dan Ani? Film-filmnya seperti "Satria Bergitar" atau "Gitar Tua" mungkin terasa sangat melodramatis buat standar sinema zaman sekarang, tapi buat publik era itu, film Rhoma adalah hiburan kelas satu yang menyajikan paket lengkap: musik, aksi, dan pesan moral.



Kontroversi dan Keteguhan Prinsip

Hidup sang Raja tentu nggak lepas dari drama. Namanya juga raja, pasti ada saja yang mencoba menggoyang takhtanya. Ingat nggak sekitar awal 2000-an ketika muncul fenomena Inul Daratista dengan goyang ngebornya? Rhoma berdiri di barisan paling depan untuk melayangkan protes. Banyak yang bilang dia konservatif, kolot, atau takut tersaingi. Tapi kalau kita lihat dari sudut pandang beliau, itu adalah bentuk konsistensi menjaga marwah dangdut yang sudah dia bangun dengan citra religius selama puluhan tahun.

Terlepas dari setuju atau tidaknya kita dengan pendapat beliau saat itu, satu hal yang harus diakui: Rhoma adalah orang yang sangat teguh pada prinsip. Dia nggak takut jadi musuh publik demi apa yang dia yakini benar. Beliau juga pernah mengalami masa-masa sulit dengan rezim Orde Baru karena lirik-lirik lagunya yang dianggap terlalu kritis terhadap pemerintah. Lagunya sempat dicekal, tapi ya namanya juga legenda, makin ditekan malah makin berkibar.

Kenapa Generasi Z Masih Perlu Mendengar Rhoma?

Mungkin kalian bertanya, "Kenapa sih kita harus peduli sama Bang Haji di tahun 2024?" Jawabannya simpel: orisinalitas. Di tengah gempuran musik pop yang seragam atau lagu-lagu viral yang hanya bertahan dua minggu di algoritma, karya Rhoma Irama punya ketahanan yang luar biasa. Coba perhatikan aransemen lagu "Begadang" atau "Judi". Itu musik yang diproduksi dengan serius. Soneta itu salah satu band dengan manajemen paling rapi dan disiplin tinggi. Sound gitarnya, brass section-nya, sampai harmonisasi vokalnya itu bukan kaleng-kaleng.

Selain itu, Rhoma adalah contoh nyata bagaimana seorang seniman bisa memiliki pengaruh sosial-politik yang masif. Dia membuktikan bahwa musik bisa jadi alat penggerak massa yang lebih efektif daripada orasi politik biasa. Kalau hari ini kita melihat banyak band indie yang mulai memasukkan unsur dangdut ke dalam musik mereka, itu adalah bukti bahwa warisan Rhoma Irama sudah merasuk ke dalam DNA musik Indonesia, lintas genre dan lintas generasi.

Mari kita jujur, sekeren apa pun selera musik kamu, entah kamu dengerin Arctic Monkeys atau Tame Impala, pasti ada satu momen di hajatan tetangga atau di acara karaoke bareng teman, di mana kamu nggak tahan buat nggak ikut nyanyi pas bagian "Begadang jangan begadang... kalau tiada artinya". Itu adalah kekuatan magis dari sang Raja Dangdut.



Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu

Hingga usianya yang sudah kepala tujuh, Rhoma Irama masih terlihat gagah di atas panggung. Staminanya luar biasa, suaranya belum banyak berubah, dan kharismanya masih tetap mematikan. Dia bukan cuma peninggalan masa lalu, tapi monumen hidup yang terus bernapas. Rhoma telah menunjukkan bahwa menjadi relevan itu bukan soal mengikuti tren, tapi soal menciptakan standar.

Sebagai penutup, mungkin ada baiknya kita sedikit merenung. Kita punya sosok yang diakui dunia sebagai salah satu pionir musik dunia (dangdut sering disebut sebagai salah satu bentuk musik pop paling unik di Asia). Menghargai Rhoma Irama bukan berarti kita harus jadi penggemar berat dangdut koplo, tapi lebih ke menghargai proses kreatif dan keberanian seorang anak bangsa dalam menciptakan identitas budaya. Jadi, buat kalian yang masih suka malu-malu dengerin dangdut, ingat kata Bang Haji: "Ter-la-lu!"

  • Rhoma Irama adalah pelopor penggabungan rock dan melayu yang melahirkan dangdut modern.
  • Soneta Group bukan sekadar band, tapi media dakwah dan kritik sosial.
  • Karya-karyanya seperti "Begadang" dan "Begadang 2" telah menjadi bagian dari sejarah budaya pop Indonesia.
  • Eksistensinya selama lebih dari lima dekade membuktikan kualitas dan konsistensi yang jarang dimiliki musisi lain.

Jadi, sudahkah Anda mendengarkan lagu Bang Haji hari ini? Kalau belum, cobalah dengarkan "Mirasantika" dan rasakan bagaimana liriknya yang lugas berpadu dengan aransemen yang megah. Anda akan sadar bahwa gelar Raja Dangdut memang hanya pantas disandang oleh satu orang saja.