Jumat, 11 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Kita Bisa Tiba-Tiba Bad Mood? Ternyata Ada Banyak Pemicu di Baliknya

Laila - Friday, 11 September 2026 | 09:30 PM

Background
Kenapa Kita Bisa Tiba-Tiba Bad Mood? Ternyata Ada Banyak Pemicu di Baliknya

Kenapa Kita Bisa Tiba-Tiba Bad Mood? Ternyata Ada Banyak Pemicu di Baliknya

Pernah nggak sih lo bangun pagi, matahari bersinar cerah, kopi sudah tersaji hangat di meja, tapi rasanya pengen banget marah sama dunia? Atau mungkin di tengah-tengah jam kerja yang sebenarnya santai, tiba-tiba perasaan lo mendung seolah-olah ada beban berat yang hinggap di pundak tanpa alasan yang jelas. Tenang, lo nggak sendirian. Fenomena tiba-tiba bad mood ini adalah hal yang sangat manusiawi, meskipun jujur saja, rasanya nyebelin banget.

Dunia medis dan psikologi punya banyak penjelasan soal kenapa emosi kita bisa naik turun kayak roller coaster di Dufan. Masalahnya, kita sering kali nggak sadar kalau pemicunya bukan cuma masalah besar kayak putus cinta atau tagihan kartu kredit yang membengkak. Kadang, hal-hal sepele yang bahkan nggak masuk radar logika kita bisa jadi dalang di balik rusaknya suasana hati. Mari kita bedah satu per satu kenapa si bad mood ini hobi banget datang bertamu tanpa diundang.

Lapar yang Menjelma Jadi Amarah (Hangry)

Istilah "hangry" alias hungry-angry itu nyata adanya, bukan sekadar bumbu iklan cokelat di televisi. Secara biologis, ketika kita telat makan, kadar glukosa dalam darah bakal merosot tajam. Nah, glukosa ini adalah bahan bakar utama otak buat konsentrasi dan mengontrol emosi. Begitu stoknya menipis, otak bakal kesulitan buat menahan impuls negatif. Hasilnya? Hal sekecil kabel charger yang kusut bisa bikin lo pengen banting HP.

Opini gue sih, perut itu sebenarnya bos besar di tubuh kita. Kalau dia nggak happy, satu kantor (alias organ tubuh lainnya) bakal kena imbasnya. Jadi, sebelum lo menyalahkan takdir atau ngerasa depresi nggak jelas, coba tanya diri sendiri: "Gue udah makan belum ya?" Kadang-kadang, satu porsi mi ayam atau sepotong cokelat sudah cukup buat mengusir awan mendung di kepala.

Kurang Tidur Adalah Musuh Utama

Anak muda zaman sekarang sering banget membanggakan budaya begadang atau "hustle culture" sampai lupa waktu istirahat. Padahal, kurang tidur itu adalah resep paling manjur buat jadi orang paling galak sedunia keesokan harinya. Saat kita kurang tidur, bagian otak yang bernama amigdala—si pusat emosi—jadi lebih reaktif. Di sisi lain, bagian otak yang berfungsi mengontrol logika malah jadi lelet.



Jadinya, lo bakal kehilangan kemampuan buat menyaring perasaan. Hal-hal yang biasanya bisa lo maklumi, tiba-tiba terasa seperti serangan personal. Jadi, kalau semalam lo habiskan waktu buat scrolling TikTok sampai jam 3 pagi, jangan heran kalau jam 10 pagi lo mendadak ngerasa dunia ini sangat tidak adil. Tidur itu bukan kemalasan, tidur itu investasi supaya lo nggak berubah jadi reog di siang bolong.

Overstimulasi dan Polusi Suara

Kadang kita nggak sadar kalau lingkungan sekitar kita itu berisik banget. Bunyi notifikasi WhatsApp yang nggak berhenti, suara knalpot motor di jalanan, sampai lampu kantor yang terlalu terang bisa memicu stres sensorik. Istilah kerennya adalah sensory overload. Otak kita dipaksa memproses terlalu banyak informasi dalam satu waktu, dan lama-lama sistemnya "panas."

Coba deh perhatikan, kalau lo lagi di mal yang super ramai atau terjebak macet total, mood lo pasti gampang banget kegeser ke arah negatif. Ini refleks alami tubuh buat proteksi diri. Kita butuh jeda, butuh sunyi. Itulah kenapa banyak orang merasa jauh lebih tenang setelah pakai noise-cancelling earphone atau sekadar mojok di toilet sebentar buat tarik napas. Suasana hening itu mahal harganya di era yang serba bising ini.

Perangkap Media Sosial dan Perbandingan Tak Kasat Mata

Kita sering bilang cuma pengen "refreshing" dengan buka Instagram atau Twitter, tapi yang terjadi seringnya malah sebaliknya. Begitu melihat teman seangkatan sudah beli rumah, atau selebgram yang badannya tetap slay padahal makan banyak, alam bawah sadar kita mulai melakukan perbandingan. "Kok hidup gue gini-gini aja ya?"

Perasaan "insecure" yang muncul tipis-tipis ini sering kali nggak kita sadari sebagai penyebab bad mood. Padahal, apa yang kita lihat di layar itu cuma 10 persen dari kenyataan hidup mereka yang sebenarnya. Rasa iri atau merasa tertinggal (FOMO) adalah racun buat suasana hati. Jadi, kalau tiba-tiba ngerasa bete setelah main HP, mendingan letakkan perangkat itu, lalu lihat ke arah jendela. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau karena mungkin mereka pakai filter yang pas.



Perubahan Hormon yang Memang Menyebalkan

Buat para perempuan, urusan PMS (Pre-Menstrual Syndrome) sudah pasti jadi tersangka utama. Tapi jangan salah, laki-laki juga punya fluktuasi hormon yang bisa memengaruhi mood. Hormon kortisol (si hormon stres) yang terlalu tinggi karena tekanan kerja, atau penurunan serotonin (si hormon bahagia) karena kurang kena sinar matahari, bisa bikin siapa saja jadi gampang tersinggung.

Hormon itu kayak penggerak layar di balik panggung. Kita nggak lihat mereka bekerja, tapi mereka yang menentukan skenario emosi kita hari itu. Menghadapi masalah hormonal memang menantang karena kita nggak bisa cuma bilang "jangan sedih" ke diri sendiri. Terkadang, solusinya cuma satu: bersabar dan biarkan badai hormon itu lewat dengan sendirinya sambil nonton film favorit atau dengerin lagu-lagu galau biar sekalian tuntas sedihnya.

Kesimpulan: It's Okay Not to Be Okay

Pada akhirnya, bad mood yang datang tiba-tiba itu sebenarnya adalah sinyal dari tubuh kita. Entah itu sinyal lo butuh istirahat, butuh makan, atau butuh menjauh sebentar dari hiruk-pikuk media sosial. Jangan terlalu keras sama diri sendiri ketika suasana hati lagi nggak sinkron sama rencana hari itu. Kita bukan robot yang bisa di-setting untuk selalu ceria dan produktif 24 jam sehari.

Yang paling penting adalah bagaimana kita meresponsnya. Kalau emang lagi bad mood, ya sudah, terima aja. Jangan dipaksa buat "positive vibes" terus-terusan karena itu malah bikin capek mental. Kasih ruang buat diri sendiri buat ngerasain emosi itu, cari tahu pemicunya, lalu pelan-pelan cari cara buat balik lagi. Ingat, satu hari yang buruk bukan berarti hidup lo buruk. Besok adalah hari yang baru, dan siapa tahu, besok pagi lo bakal bangun dengan perasaan paling bahagia sedunia tanpa alasan juga.

Tags