Kenapa Bunga Lawang Berbentuk Bintang? Mengenal Asal, Aroma, dan Perjalanan Rempah Unik Ini
Tata - Wednesday, 16 September 2026 | 10:30 AM


Bunga Lawang: Si Rempah Estetik yang Nggak Cuma Modal Tampang, Tapi Punya Sejarah Panjang
Pernah nggak sih, lagi asik-asiknya nyeruput kuah soto atau gulai yang gurih banget, tiba-tiba sendok kamu malah ngangkat benda cokelat keras berbentuk bintang? Buat yang nggak tahu, mungkin bakal mikir, "Ini hiasan dari mana kok masuk ke panci?" Eits, jangan buru-buru dibuang. Benda kecil yang bentuknya mirip dekorasi rustic di kafe-kafe hipster itu namanya bunga lawang atau star anise. Walaupun sering kali berakhir dipinggirkan di tepi piring, bunga lawang ini sebenarnya adalah "selebritis" di dunia rempah-rempah dunia.
Jujur aja, kalau kita ngomongin rempah, biasanya bentuknya kalau nggak butiran kecil kayak merica, ya batang kayu kayak kayu manis, atau rimpang nggak beraturan kayak jahe. Tapi bunga lawang ini beda. Dia punya estetika yang niat banget. Bentuknya simetris, membentuk kelopak bintang yang biasanya berjumlah delapan. Tapi, di balik bentuknya yang instagenic itu, bunga lawang punya cerita asal-usul yang cukup jauh perjalanannya sampai bisa nangkring di dapur mama kita.
Bukan Bunga Sembarang Bunga: Asal-Usul dari Negeri Tirai Bambu
Meskipun namanya "bunga", sebenarnya yang kita pakai buat masak itu adalah buahnya yang sudah dikeringkan. Tanaman ini asalnya bukan dari kebun belakang rumah penduduk lokal di nusantara, melainkan dari wilayah Tiongkok bagian selatan dan Vietnam bagian utara. Nama latinnya keren banget, Illicium verum. Di tempat asalnya, bunga lawang sudah jadi primadona selama ribuan tahun.
Masyarakat Tiongkok kuno sudah menggunakan rempah ini bukan cuma buat penyedap rasa, tapi juga obat-obatan. Bayangin aja, sebelum ada obat sirup kemasan, nenek moyang di sana sudah tahu kalau seduhan "bintang" ini bisa meredakan perut kembung dan bikin napas lebih segar. Seiring dengan dibukanya jalur perdagangan sutra yang legendaris itu, bunga lawang mulai "go international". Dia dibawa oleh para pedagang melintasi samudera, singgah di pelabuhan-pelabuhan besar, hingga akhirnya sampai ke Eropa pada abad ke-16 dan tentu saja, mampir ke Indonesia.
Kenapa Namanya "Lawang"?
Nah, ini yang sering bikin penasaran. Di dunia internasional, dia dikenal sebagai star anise karena aromanya mirip banget sama adas (anise). Tapi kenapa di Indonesia kita panggil "Lawang"? Dalam bahasa Jawa, "Lawang" itu artinya pintu. Ada yang bilang ini karena bentuk kelopaknya yang terlihat seperti pintu-pintu kecil yang terbuka menuju biji di dalamnya. Tapi ada juga versi lain yang menyebutkan kalau penamaan ini lebih ke arah istilah lokal yang sudah melekat secara turun-temurun tanpa alasan teknis yang pasti.
Apapun alasannya, penyebutan bunga lawang terdengar jauh lebih puitis daripada sekadar "adas bintang". Di beberapa daerah di Indonesia, bunga lawang juga jadi komponen wajib dalam racikan bumbu dasar. Coba aja cek bumbu rendang atau opor, pasti ada jejak-jejak aroma manis nan segar dari si bintang cokelat ini.
Aroma yang "Bikin Nagih" tapi Penuh Rahasia
Kalau kamu iseng nyium aroma bunga lawang mentah, ada sensasi manis, hangat, sekaligus sedikit pedas yang langsung menusuk hidung. Ini karena kandungan anethole, senyawa yang juga ditemukan dalam tanaman adas. Makanya, bunga lawang sering banget dipakai buat menyeimbangkan rasa masakan yang berlemak atau punya aroma daging yang kuat (prengus). Itulah alasannya kenapa kuah sup kambing atau gulai sapi terasa lebih "sopan" di lidah kalau ada bunga lawangnya.
Uniknya, bunga lawang ini nggak cuma jago di masakan asin. Di beberapa negara Barat, bunga lawang sering dicemplungin ke dalam minuman hangat seperti teh, kopi, atau wine rempah (mulled wine). Bahkan, beberapa merk minuman keras terkenal menggunakan bunga lawang sebagai bahan utama aromatiknya. Jadi, si bintang ini emang serba bisa, ya istilahnya "multitalented" lah kalau di dunia hiburan.
Nggak Cuma Modal Tampang, Tapi Juga Penyelamat Saat Pandemi
Ini fakta yang mungkin jarang orang tahu. Bunga lawang itu bukan cuma pelengkap hiasan di mangkuk soto. Di dalam kelopaknya yang keras itu, terkandung asam sikimat (shikimic acid). Nah, asam sikimat ini adalah bahan baku utama untuk membuat oseltamivir, alias Tamiflu—obat antivirus yang sangat populer buat menangani flu burung dan berbagai jenis influenza lainnya.
Gila nggak tuh? Si kecil yang sering kita abaikan di piring ternyata punya peran besar dalam industri farmasi global. Bahkan, dulu sempat ada masa di mana harga bunga lawang melonjak drastis gara-gara perusahaan farmasi besar "borong" stok bunga lawang dunia buat produksi obat flu. Jadi, jangan remehkan kekuatan rempah yang satu ini. Di balik bentuknya yang lucu, dia punya kekuatan medis yang nggak main-main.
Cara Pakai yang Benar (Biar Masakan Nggak "Overpower")
Meskipun enak, bunga lawang ini sifatnya kayak teman yang ekstrovert banget: kalau kebanyakan, dia bisa mendominasi suasana. Pakai satu atau dua kuntum saja sudah cukup buat satu panci besar. Kalau kebanyakan, masakan kamu bukannya jadi gurih, malah rasanya bakal kayak minum obat batuk karena aroma anethole-nya terlalu kencang.
Saran saya, kalau masak masakan berkuah, masukkan bunga lawang di awal proses menumis bumbu atau saat air mulai mendidih. Dengan begitu, minyak esensialnya punya waktu buat keluar perlahan dan menyatu dengan kaldu. Dan satu lagi tips penting: kalau masakan sudah matang dan mau disajikan, nggak ada salahnya bunga lawangnya diambil dulu. Kasihan kan tamu atau pasangan kamu kalau tiba-tiba kegigit benda keras ini saat lagi asik makan romantis.
Kesimpulan
Bunga lawang adalah bukti kalau alam itu emang seniman yang jenius. Dia menciptakan sesuatu yang nggak cuma indah dipandang secara visual, tapi juga kaya manfaat bagi lidah dan kesehatan tubuh. Dari hutan-hutan di Tiongkok hingga ke dapur rumah kita di Indonesia, perjalanan bunga lawang adalah cerita tentang bagaimana rasa dan aroma bisa menyatukan dunia.
Jadi, lain kali kalau kamu ketemu bunga lawang di dalam masakan, jangan langsung dipinggirkan dengan rasa kesal. Lihat dulu bentuk bintangnya yang sempurna, bayangkan perjalanannya melintasi samudra beratus tahun lalu, dan hargai aroma "ajaib" yang dia berikan ke makananmu. Rempah ini kecil, tapi sejarah dan manfaatnya benar-benar sebesar bintang di langit.
Next News

Kenapa Makanan Ikan Berbau Amis dan Menyengat? Ternyata Ada Alasan di Baliknya
in 5 hours

Kenapa Pohon Kurma Bisa Hidup Puluhan Tahun di Tengah Gurun? Ini Rahasia Ketahanannya
in 5 hours

Oli Motor Sebenarnya Terbuat dari Apa? Mengintip Bahan dan Isi di Balik Botol Oli
in 5 hours

Kenapa Bibir Bisa Kering dan Pecah-Pecah? Ini Penyebab serta Cara Mengatasinya
in 5 hours

Kenapa Minum Kopi Bikin Langsung Ingin Buang Air Besar? Ini Alasannya
8 hours ago

Pisang Benarkah Efektif untuk Menurunkan Berat Badan? Ini Faktanya
8 hours ago

Jangan Bangunkan Anak di Jam Ini, Bisa Ganggu Produksi Hormon Pertumbuhan
8 hours ago

Daun Bidara Bisa untuk Penyakit Apa Saja? Ini 7 Manfaatnya bagi Kesehatan
8 hours ago

5 Daun yang Bisa Membantu Meredakan Sakit Gigi, Bahan Alami di Rumah
8 hours ago

Kayu Manis untuk Kesehatan Ginjal, Benarkah Punya Manfaat? Ini Faktanya
9 hours ago





