Minggu, 13 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Fenomena FOMO yang Terus Menghantui Generasi Digital

Laila - Saturday, 12 September 2026 | 08:00 PM

Background
Fenomena FOMO yang Terus Menghantui Generasi Digital

FOMO: Penjara Digital yang Bikin Kita Lupa Cara Bahagia

Pernah nggak sih lo lagi rebahan santai di kasur, niatnya cuma mau ngecek jam atau bales satu chat WhatsApp, eh malah kebablasan scrolling Instagram Stories sampai satu jam? Terus, tiba-tiba perasaan lo jadi nggak enak. Lo lihat temen SMA lo lagi liburan di Labuan Bajo, temen kantor lagi makan di restoran fine dining yang harganya setara cicilan motor, atau si selebgram favorit yang baru aja unboxing gadget terbaru. Seketika, kamar kos lo yang ukurannya tiga kali tiga meter itu berasa makin sempit, dan hidup lo mendadak kelihatan hambar banget.

Selamat, lo baru aja kena serangan FOMO alias Fear of Missing Out. Sebuah fenomena yang sebenarnya sudah lama ada, tapi di era digital ini, kadarnya udah sampai ke tahap yang mengkhawatirkan. FOMO bukan cuma sekadar istilah keren anak Jaksel, tapi sudah jadi "hantu" yang beneran menghantui kesehatan mental, dompet, sampai cara kita memandang diri sendiri.

Kenapa Kita Selalu Merasa "Ketinggalan Kereta"?

Secara harfiah, FOMO adalah kecemasan kalau orang lain mungkin mengalami peristiwa menyenangkan, menjalani hidup yang lebih baik, atau mengetahui hal-hal keren yang nggak kita tahu. Dulu, sebelum ada internet, kalau temen-temen lo lagi nongkrong tapi lo nggak diajak, lo paling baru tahu besoknya pas di sekolah atau kantor. Sakit hatinya telat. Sekarang? Lo bisa lihat keseruan mereka secara real-time melalui layar 6 inci di tangan lo. Lo bisa lihat tawa mereka, makanan mereka, sampai filter cantik yang mereka pakai.

Masalah utamanya adalah media sosial itu isinya "highlight reel" atau kumpulan momen-momen terbaik doang. Nggak ada orang yang mau nge-post foto pas lagi pusing bayar tagihan listrik atau pas lagi nangis karena diputusin pacar sambil makan mie instan di pojokan kamar. Tapi otak kita seringkali lupa soal itu. Kita membandingkan "behind the scenes" hidup kita yang berantakan dengan "trailer film" hidup orang lain yang sudah diedit sedemikian rupa.

Gue sering banget ngelihat orang yang bela-belain antre berjam-jam demi sebuah minuman viral yang sebenernya rasanya biasa aja. Atau mereka yang maksa beli tiket konser artis internasional pakai uang tabungan darurat, cuma karena nggak mau kalah eksis sama temen-temen di feed. Pertanyaannya, lo beneran suka artisnya, atau lo cuma takut nggak bisa posting foto dengan caption "Finally seeing my favorite!"?



Validasi Digital yang Bikin Haus

Kita hidup di zaman di mana eksistensi kita seringkali diukur dari berapa banyak "like", "view", dan "reply" yang kita dapet. Ini yang bikin FOMO makin parah. Kita ngerasa kalau nggak ikut tren, kita bakal dianggap nggak asyik, kuper, atau lebih parahnya lagi: nggak relevan. Budaya sat-set dan serba instan ini bikin kita selalu dalam mode "standby". Kita takut kalau naruh HP sebentar aja, kita bakal ketinggalan berita terbaru, meme yang lagi viral, atau drama Twitter yang lagi panas.

Coba deh perhatiin, sekarang kalau lagi kumpul sama temen, berapa lama sih kita bener-bener ngobrol tanpa ada yang ngecek HP? Kadang kita lebih sibuk ngabadiin momennya daripada menikmati momen itu sendiri. Kita sibuk cari angle foto makanan yang pas sampai makanannya keburu dingin. Ujung-ujungnya, kepuasan kita bukan datang dari rasa makanannya, tapi dari notifikasi yang muncul setelah foto itu di-upload.

Dampak "Boncos" Karena Gengsi

Bukan cuma soal mental, FOMO ini jahat banget buat dompet. Fenomena "doom scrolling" yang berujung pada belanja impulsif itu nyata adanya. Lihat iklan barang estetik dikit, beli. Lihat temen pakai sepatu brand tertentu, langsung checkout di e-commerce. Kita jadi sering konsumtif bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan tren.

Banyak anak muda sekarang yang terjebak dalam gaya hidup "rich broke". Luarnya kelihatan mewah, sering nongkrong di kafe mahal, tapi dalemnya megap-megap karena cicilan kartu kredit atau pinjol numpuk. Semuanya demi apa? Demi konten. Demi supaya nggak dibilang ketinggalan zaman. Padahal, yang peduli sama postingan kita itu paling cuma segelintir orang, sisanya cuma scroll lewat sambil lalu.

Belajar Menikmati JOMO (Joy of Missing Out)

Terus, gimana caranya supaya kita nggak terus-terusan dihantui sama FOMO? Jawabannya ada pada JOMO atau Joy of Missing Out. Ini adalah kondisi di mana lo merasa bodo amat dan justru senang karena nggak ikut-ikutan tren yang nggak perlu. JOMO itu ketika lo lebih milih baca buku di rumah atau sekadar tidur lebih awal daripada harus maksain pergi ke acara yang sebenernya lo nggak pengen-pengen amat cuma demi formalitas.



Kita harus sadar kalau hidup itu bukan perlombaan lari marathon di media sosial. Setiap orang punya garis start dan finish-nya masing-masing. Nggak masalah kalau lo nggak tahu berita artis yang lagi cerai, nggak masalah kalau lo nggak punya gadget seri terbaru, dan nggak masalah banget kalau malam minggu lo cuma dihabisin dengan nonton Netflix sendirian sambil pakai daster atau kaos oblong bolong.

Intinya, lo harus mulai belajar untuk memvalidasi diri lo sendiri tanpa bantuan angka-angka di layar HP. Dunia nggak bakal kiamat cuma karena lo nggak update Story selama 24 jam. Kadang, momen-momen terbaik dalam hidup justru adalah momen yang nggak sempat kita rekam, karena kita terlalu sibuk menikmatinya dengan seluruh panca indera kita.

Jadi, mulai sekarang, coba deh sesekali taruh HP lo. Tarik napas dalem-dalem, dan lihat sekeliling. Hidup yang sebenernya itu ada di depan mata lo, bukan di dalam layar yang penuh dengan filter dan kepalsuan itu. Lo nggak harus ada di mana-mana, lo nggak harus tahu segalanya. Be present, and just enjoy your own pace.

Tags