Minggu, 13 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bisnis Viral: Ledakan Singkat atau Peluang Jangka Panjang?

Laila - Saturday, 12 September 2026 | 08:00 PM

Background
Bisnis Viral: Ledakan Singkat atau Peluang Jangka Panjang?

Bisnis Viral: Cuma Numpang Lewat atau Bisa Buat Masa Depan?

Pernah nggak sih kalian lagi asyik scrolling TikTok atau Instagram, terus tiba-tiba muncul video orang antre panjang cuma demi satu jenis makanan? Entah itu Cromboloni yang lumer-lumer, Seblak Coet yang pedasnya minta ampun, sampai kopi-kopi estetik yang harganya kadang nggak masuk akal buat kantong tanggal tua. Fenomena ini bukan hal baru, tapi belakangan rasanya makin "gila" karena algoritma media sosial yang bisa bikin sesuatu meledak dalam hitungan jam.

Masalahnya, fenomena bisnis viral ini ibarat kembang api di malam tahun baru: meledak cantik, bikin semua orang nengok ke langit sambil bilang "wah", tapi beberapa menit kemudian ilang entah ke mana, cuma nyisain asap dan bau mesiu. Pertanyaannya, apakah terjun ke bisnis viral itu murni sebuah peluang emas jangka panjang, atau jangan-jangan kita cuma lagi beli tiket buat naik roller coaster yang bakal turun curam sebentar lagi?

Magnet FOMO: Kenapa Kita Doyan Antre?

Sebelum kita ngomongin untung rugi, kita harus paham kenapa bisnis viral itu bisa laku keras di awal. Jawabannya cuma satu kata: FOMO atau Fear of Missing Out. Manusia itu makhluk sosial yang secara nggak sadar punya ketakutan kalau nggak tahu apa yang lagi rame. Ada gengsi tersendiri pas kita bisa upload foto makanan yang lagi viral ke Instagram Story dengan caption "Akhirnya dapet juga!".

Efek FOMO inilah yang dimanfaatin habis-habisan sama para pelaku bisnis. Begitu satu produk meledak, semua orang mau ngerasain. Tapi ya itu tadi, sifat dasar FOMO adalah cepat bosan. Begitu ada hal baru yang lebih "berisik" di media sosial, kerumunan orang tadi bakal pindah lapak secepat mereka pindah aplikasi. Inilah yang bikin bisnis viral sering dicap sebagai bisnis musiman atau seasonal business.

Belajar dari Kuburan Tren: Es Kepal Milo dan Kawan-kawan

Kalau kita mau napak tilas, coba inget-inget lagi ke mana perginya Es Kepal Milo yang dulu ada di tiap pengkolan jalan? Atau ke mana rimbanya Cappuccino Cincau dan Odading Mang Oleh yang sempat bikin heboh se-Indonesia? Kebanyakan dari mereka sekarang tinggal kenangan, atau kalaupun masih ada, jumlahnya nggak sebanyak pas lagi puncak-puncaknya.



Kesalahan fatal dari banyak pelaku bisnis viral adalah mereka terlalu fokus pada "keramaian" tapi lupa sama "fondasi". Banyak yang buka gerai cuma modal ikut-ikutan tanpa mikirin kualitas rasa jangka panjang atau strategi inovasi. Begitu trennya redup, mereka kaget karena omzet terjun bebas, sementara biaya sewa ruko dan gaji karyawan tetap jalan. Akhirnya? Ya gulung tikar dengan menyisakan tumpukan peralatan bekas yang dijual murah di grup Facebook.

Bisnis Viral yang Bisa Bertahan: Apa Rahasianya?

Tapi, jangan skeptis dulu. Nggak semua yang viral itu bakal mati cepat. Ada kok beberapa bisnis yang awalnya meledak lewat jalur viral tapi sampai sekarang masih kokoh berdiri. Sebut saja beberapa brand kopi susu lokal atau mie pedas berlevel yang gerainya makin menjamur. Bedanya apa?

Kuncinya ada di tiga hal: Produk, Konsistensi, dan Branding. Bisnis yang bertahan lama biasanya punya produk yang emang enak, bukan cuma "menang di kamera". Mereka nggak cuma jual visual yang estetik buat bahan konten, tapi juga jual rasa yang bikin orang pengen balik lagi meskipun trennya udah nggak ada. Viral itu cuma pintu masuknya, tapi kualitas adalah alasan kenapa orang betah di dalam rumah tersebut.

Selain itu, mereka pinter beradaptasi. Begitu satu menu mulai basi, mereka keluarin inovasi baru. Mereka nggak terjebak dalam satu hype doang. Mereka sadar kalau viralitas itu cuma bonus, bukan rencana bisnis utama.

Jebakan Batman bagi Pebisnis Pemula

Buat temen-temen yang baru mau mulai usaha, hati-hati sama jebakan "ingin cepat kaya" lewat jalur viral. Banyak orang yang rela keluarin modal gede, pinjam sana-sini buat buka franchise yang lagi viral, tanpa sadar kalau masa puncak tren itu mungkin cuma tinggal dua atau tiga bulan lagi. Pas gerai baru dibuka dan karyawan baru direkrut, eh, trennya udah ganti ke makanan lain. Rasanya kayak lagi ngejar angkot yang udah mau sampe terminal, capeknya dapet, naiknya nggak.



Idealnya, kalau mau masuk ke bisnis yang lagi viral, masuklah di awal gelombang, bukan di ujung ombak. Dan yang paling penting, siapkan rencana cadangan. Tanya ke diri sendiri: "Kalau orang udah nggak bicarain produk ini di sosmed, apa mereka masih mau beli dagangan gue?" Kalau jawabannya ragu-ragu, mending pikir ulang deh.

Viralitas Sebagai Alat, Bukan Tujuan

Jujur aja, di zaman sekarang, viral itu penting banget buat marketing. Biaya promosi lewat jalur organik (viral) jauh lebih murah dan efektif dibanding pasang iklan konvensional. Tapi ya itu, jadikan viralitas sebagai "bensin" buat mempercepat laju kendaraan, bukan sebagai mesin utamanya.

Membangun bisnis itu maraton, bukan lari sprint 100 meter. Bisnis yang cuma ngejar viral biasanya nafasnya pendek. Sedangkan bisnis yang punya visi jangka panjang bakal fokus ngebangun komunitas dan menjaga kepercayaan pelanggan. Mereka nggak masalah nggak terlalu berisik di media sosial setiap hari, asalkan tiap hari ada pelanggan setia yang datang.

Kesimpulan: Jadi, Gimana?

Bisnis viral itu bisa jadi peluang jangka panjang kalau dikelola dengan otak dingin, bukan cuma semangat yang meledak-ledak karena liat antrean orang. Jangan sampai kita cuma jadi pengikut tren yang akhirnya malah rugi bandar. Inovasi, rasa, dan pelayanan tetap jadi raja di atas segala algoritma.

Jadi, buat kalian yang lagi liat peluang bisnis yang lagi viral sekarang, coba tarik nafas dalam-dalam dulu. Lihat apakah produk itu punya "nyawa" buat bertahan 5 sampai 10 tahun ke depan, atau cuma bakal jadi sampah plastik yang numpuk di tempat sampah sejarah kuliner Indonesia. Pilihan ada di tangan kalian, mau jadi bintang yang bersinar lama, atau cuma jadi meteor yang lewat sekilas terus hilang?



Tags