Kenapa Kebakaran Hutan dan Lahan Lebih Sering Terjadi Saat Kemarau? Ini Faktor Penyebabnya
Tata - Wednesday, 09 September 2026 | 09:45 AM


Kenapa Sih Kemarau Selalu Akrab sama Kebakaran? Bukan Cuma Gara-gara Matahari Lagi Galak
Bayangkan kamu lagi asyik nongkrong di sore hari, niatnya mau nyari angin segar, tapi yang terhirup malah bau sangit. Pas nengok ke arah cakrawala, langit yang harusnya biru cerah malah berubah jadi abu-abu butek. Fenomena ini bukan hal baru buat kita yang tinggal di Indonesia, apalagi kalau kalender sudah menunjukkan masuknya musim kemarau. Rasanya, kebakaran hutan dan lahan itu sudah kayak tamu nggak diundang yang rutin datang tiap tahun.
Banyak orang yang langsung menyalahkan matahari. "Wah, mataharinya lagi galak banget nih, makanya kebakar." Padahal, matahari ya gitu-gitu aja jaraknya. Nggak tiba-tiba dia turun ke bumi terus bawa korek api. Masalahnya jauh lebih kompleks dari sekadar suhu panas yang bikin kulit keling. Ada kombinasi antara sains, kondisi alam yang unik di Indonesia, dan tentu saja, bumbu-bumbu kelakuan manusia yang kadang kurang waspada.
Rumput Kering yang Menjelma Jadi Kerupuk
Mari kita bicara soal logika paling dasar. Di musim kemarau, curah hujan turun drastis, bahkan kadang nggak ada sama sekali selama berbulan-bulan. Hal ini bikin kelembapan tanah dan tanaman jadi merosot tajam. Pohon-pohon, semak belukar, sampai rumput liar kehilangan cadangan airnya. Dalam kondisi ini, vegetasi yang tadinya hijau segar berubah jadi cokelat, kering, dan rapuh. Istilah kerennya, mereka jadi bahan bakar potensial.
Bayangkan rumput kering itu kayak kerupuk yang baru matang. Sedikit saja kena percikan, langsung "krek" dan api merambat secepat gosip di grup WhatsApp keluarga. Tanaman yang kering ini punya kadar air yang sangat rendah, sehingga energi yang dibutuhkan untuk membakarnya jadi kecil banget. Kalau di musim hujan mereka susah dibakar karena basah, di musim kemarau mereka seolah-olah sudah "siap tempur" untuk terbakar.
Gambut: Api yang Sembunyi di Bawah Karpet
Satu hal yang bikin Indonesia beda dari negara lain soal kebakaran lahan adalah keberadaan lahan gambut. Ini nih "biang kerok" yang bikin petugas pemadam kebakaran sering pusing tujuh keliling. Lahan gambut itu sebenarnya tumpukan sisa-sisa tanaman yang belum membusuk sempurna selama ribuan tahun. Di musim hujan, gambut ini kayak spons yang nyerap banyak air. Tapi kalau kemarau panjang, airnya surut dan yang tersisa adalah tumpukan bahan organik kering yang sangat tebal.
Masalahnya, kebakaran di lahan gambut itu licik. Apinya nggak cuma di permukaan yang kelihatan berkobar-kobar, tapi merembet ke bawah tanah. Kamu mungkin lihat di atas cuma asap tipis, tapi di bawah sana, apinya lagi pesta pora membakar lapisan gambut yang dalamnya bisa bermeter-meter. Ibaratnya kayak kamu nyalain rokok di dalam kasur busa; apinya nggak kelihatan tapi panasnya ada di mana-mana. Inilah alasan kenapa kebakaran lahan di Indonesia susah banget dipadamkan dan bisa bikin kabut asap berminggu-minggu.
Faktor "Tangan Jahil" dan Kebiasaan Lama
Oke, alam memang menyediakan kondisinya, tapi jarang banget ada kebakaran yang terjadi murni karena faktor alam kayak petir—kecuali kalau kita bicara hutan di Amerika atau Australia. Di sini, mayoritas kebakaran lahan terjadi karena ada pemicu dari manusia. Entah itu karena niat membuka lahan dengan cara membakar biar murah (slash and burn), atau sekadar keteledoran yang hakiki.
Pernah lihat orang buang puntung rokok sembarangan dari kaca mobil atau saat lagi jalan di dekat semak-semak? Di musim hujan, itu puntung rokok bakal langsung mati kena air atau tanah lembap. Tapi di musim kemarau? Itu puntung rokok adalah "bom waktu". Satu percikan kecil di atas hamparan rumput kering yang sudah kita bahas tadi adalah awal dari bencana besar. Belum lagi urusan orang yang bakar sampah terus ditinggal masuk rumah buat nonton sinetron, eh tahu-tahu apinya sudah merembet ke kebun sebelah.
Angin Kencang yang Jadi Kipas Raksasa
Jangan lupa, musim kemarau di Indonesia sering dibarengi dengan angin yang bertiup lebih kencang dari biasanya. Angin ini punya peran ganda yang menyebalkan dalam urusan kebakaran. Pertama, angin mempercepat proses penguapan air di tanaman (bikin tanaman makin cepat kering). Kedua, saat api sudah muncul, angin bertindak sebagai kipas raksasa yang menyuplai oksigen segar dan membawa bara api terbang ke tempat lain.
Fenomena ini sering disebut "spotting". Bara api dari satu pohon yang terbakar ditiup angin, lalu hinggap di area kering yang jaraknya ratusan meter. Tiba-tiba saja, titik apinya jadi ada di mana-mana. Ini yang bikin tim pemadam sering merasa seperti lagi main kucing-kucingan yang nggak ada habisnya.
El Niño: Sang Booster Bencana
Kadang-kadang, kemarau kita nggak cuma kemarau biasa, tapi kemarau yang "plus-plus" gara-gara fenomena El Niño. Kalau El Niño sudah datang, musim kemarau jadi jauh lebih panjang dan lebih kering dari biasanya. Ini kayak ngasih bensin ke api yang sudah menyala. Suhu jadi lebih panas, cadangan air tanah makin habis, dan risiko kebakaran lahan meningkat berkali-kali lipat. Dalam catatan sejarah kita, tahun-tahun dengan kabut asap terparah biasanya selalu berbarengan dengan fenomena El Niño yang kuat.
Kesimpulan yang Agak Serius Tapi Santai
Jadi, kenapa kebakaran lahan lebih mudah terjadi saat kemarau? Ya karena alam sedang menyediakan panggung yang sempurna: bahan bakar yang kering (tanaman), kondisi tanah yang siap bakar (gambut), dan kipas yang kencang (angin). Tapi ingat, panggung ini nggak bakal jadi pertunjukan api kalau nggak ada yang menyalakan koreknya.
Kita nggak bisa mengatur kapan hujan turun atau kapan angin bertiup, tapi kita bisa banget mengatur kelakuan kita sendiri. Berhenti mikir kalau membakar sampah di pinggir lahan kering itu aman-aman saja. Berhenti juga ngeremehin satu puntung rokok kecil. Musim kemarau harusnya jadi waktu buat kita lebih waspada, bukan malah makin abai. Jangan sampai gara-gara pengen praktis atau sekadar malas, kita malah jadi kontributor asap yang bikin sesak napas satu negara. Stay safe, stay hydrated, dan tolong, jangan main api kalau nggak mau kebakar!
Next News

Kenapa Pasir Cepat Melewatkan Air? Ternyata Ini Rahasia di Balik Pori-pori Tanah
in 5 hours

Mengapa Bebek Suka Berendam di Air? Ternyata Bukan Sekadar untuk Bersenang-senang
in 5 hours

Kenapa Gigi Tupai Tidak Pernah Habis? Ternyata Ini Rahasia di Balik Gigi Depannya yang Terus Tumbuh
in 5 hours

Kenapa Buah Bisa Cepat Menghitam Setelah Dipotong? Ini Penjelasan di Balik Apel yang Berubah Warna
in 5 hours

Madu vs Gula, Mana yang Lebih Baik? Kenali Perbedaannya Sebelum Memilih Pemanis
in 5 hours

Bolehkah Mentega Disimpan di Suhu Ruang? Ini Cara Aman agar Tidak Cepat Rusak
in 5 hours

Kenapa Kita Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain? Ternyata Ada Penjelasan Psikologisnya
in 5 hours

Kenapa Badan Sering Pegal-pegal? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Sering Dialami Anak Muda
in 5 hours

5 Buah Kaya Nutrisi yang Mendukung Tumbuh Kembang dan Kesehatan Tulang Anak
7 hours ago

Waspada! Kenali 5 Gejala Pecah Pembuluh Darah di Otak yang Bisa Muncul Tiba-tiba
7 hours ago





