Kenapa Kita Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain? Ternyata Ada Penjelasan Psikologisnya
Tata - Wednesday, 09 September 2026 | 09:15 AM


Gak Perlu Insecure: Kenapa Sih Kita Hobi Banget Membandingkan Diri sama Orang Lain?
Bayangkan skenario ini: Kamu baru saja bangun tidur, nyawa belum terkumpul sepenuhnya, tapi tangan sudah otomatis meraih smartphone. Niatnya cuma mau cek jam, eh malah kebablasan buka Instagram. Di story pertama, teman SMA kamu baru saja posting foto tunangan dengan dekorasi estetik. Scroll lagi, ada teman kantor yang lagi flexing liburan ke Jepang. Pindah ke LinkedIn, malah makin parah—si X baru saja diangkat jadi Manager di usia 25 tahun.
Tiba-tiba, kopi sachet yang baru kamu seduh rasanya jadi hambar. Perasaan hangat yang tadinya ada, berubah jadi sesak kecil di dada yang kita kenal dengan istilah keren: insecure. Pertanyaannya, kenapa sih otak kita kayak punya hobi masokis buat ngebanding-bandingin hidup kita yang begini-begini saja dengan hidup orang lain yang kelihatannya "wah" banget? Apakah kita memang ditakdirkan untuk jadi iri hati, atau ada penjelasan ilmiah di baliknya?
Warisan Nenek Moyang yang Masih Nyantol
Kalau kamu merasa bersalah karena sering membandingkan diri, tenang dulu. Jangan keburu menganggap diri kamu orang jahat atau kurang bersyukur. Secara biologis dan evolusioner, membandingkan diri itu sebenarnya adalah mekanisme bertahan hidup. Zaman dulu, nenek moyang kita harus tahu posisi mereka di dalam kelompok. Kalau mereka terlalu lemah dibanding yang lain, mereka harus berusaha lebih keras supaya gak ditinggal rombongan atau dimakan predator.
Masalahnya, otak kita masih memakai "software" lama itu di zaman modern. Dulu, saingan kita cuma orang-orang satu gua yang jumlahnya paling belasan. Sekarang? Saingan kita adalah seluruh dunia. Berkat internet, kita membandingkan diri dengan selebgram di Los Angeles, pengusaha sukses di Jakarta, sampai teman SD yang tiba-tiba jadi sultan kripto. Standar "sukses" di otak kita jadi kegeser terlalu jauh ke kanan, sampai-sampai pencapaian kecil kita sendiri rasanya gak ada harganya sama sekali.
Teori Perbandingan Sosial: Kompas yang Sering Error
Seorang psikolog bernama Leon Festinger pernah mencetuskan Social Comparison Theory pada tahun 1954. Intinya, manusia punya dorongan bawaan untuk mengevaluasi diri mereka sendiri. Karena kita gak punya penggaris yang pasti buat ngukur kesuksesan atau kebahagiaan, kita pakai orang lain sebagai tolok ukur. Ada dua jenis perbandingan yang biasanya kita lakukan.
Pertama, Upward Comparison, yaitu membandingkan diri dengan orang yang kita anggap lebih hebat. Ini sebenarnya bisa jadi motivasi kalau porsinya pas. Tapi kalau overdosis, jadinya malah bikin rendah diri. Kedua, Downward Comparison, yaitu membandingkan diri dengan orang yang nasibnya kurang beruntung dari kita. Biasanya ini dilakukan buat bikin kita merasa lebih baik atau lebih bersyukur. Tapi ayolah, jujur saja, kita lebih sering terjebak di jenis yang pertama, kan?
Perangkap "Highlights" vs "Behind the Scenes"
Ini adalah penyakit paling kronis di era media sosial. Kita sering lupa kalau apa yang kita lihat di layar itu cuma cuplikan terbaik (highlight reel) dari hidup seseorang. Gak ada orang yang posting foto pas mereka lagi nangis karena tagihan paylater menumpuk, atau pas mereka lagi berantem hebat sama pasangan. Semua yang muncul sudah dikurasi, difilter, dan diberi caption bijak sesuka hati.
Kesalahannya adalah kita membandingkan "behind the scenes" hidup kita yang berantakan dengan "trailer film" hidup orang lain yang penuh efek CGI. Ya jelas kalah, Bos! Kita tahu seberapa susahnya kita bangun pagi dan rasa capeknya lembur, tapi kita cuma lihat hasil akhir orang lain yang kelihatannya didapat dengan segelas kopi cantik dan senyuman lebar. Ini adalah perbandingan yang gak adil sejak dalam pikiran.
Budaya Hustle dan Standar Sukses yang Seragam
Selain faktor internal, lingkungan sosial kita juga punya andil besar. Kita hidup di era yang mendewakan "hustle culture". Kalau belum punya side hustle, belum punya aset di usia 20-an, atau belum bisa self-healing ke Bali tiap bulan, rasanya kita gagal jadi manusia. Media populer sering banget jualan narasi "Young and Rich", yang bikin kita ngerasa dikejar waktu.
Padahal, setiap orang punya timeline yang beda-beda. Ada yang sukses di umur 20 tapi burnout di umur 30. Ada yang baru nemu passion-nya di umur 40 tapi awet bahagianya sampai tua. Sayangnya, narasi kayak gini jarang laku dijual. Kita lebih suka konsumsi cerita sukses kilat yang akhirnya malah jadi beban buat diri sendiri.
Gimana Cara Biar Gak Terus-terusan Membandingkan?
Menghilangkan kebiasaan ini secara total mungkin hampir mustahil karena sudah jadi bagian dari insting. Tapi, kita bisa menjinakkan "monster" ini. Langkah pertama adalah sadar (mindful). Pas kamu mulai ngerasa insecure gara-gara postingan orang, tanya ke diri sendiri: "Apakah informasi ini berguna buat pertumbuhanku, atau cuma bikin aku sakit hati?" Kalau cuma bikin sakit hati, silakan klik tombol mute atau unfollow. Serius, itu hak asasi kamu demi kesehatan mental.
Kedua, mulailah fokus pada "Me vs Past Me", bukan "Me vs Them". Bandingkan diri kamu hari ini dengan diri kamu tahun lalu. Apakah kamu sudah belajar hal baru? Apakah kamu sudah lebih bisa mengelola emosi? Meskipun progresnya cuma satu senti, itu tetaplah progres yang layak dirayakan.
Terakhir, ingatlah bahwa hidup bukan kompetisi lari yang garis finishnya sama. Kita semua lari di lintasan yang berbeda, dengan beban tas yang berbeda, dan tujuan yang berbeda pula. Jadi, buat apa sibuk melirik ke lintasan sebelah sampai lupa cara lari di lintasan sendiri? Lagipula, di balik postingan mewah itu, setiap orang punya "perang" masing-masing yang gak mereka ceritakan. Jadi, berbaik hatilah pada dirimu sendiri. Kamu sudah berjuang sejauh ini, dan itu sudah lebih dari cukup.
Next News

Kenapa Kebakaran Hutan dan Lahan Lebih Sering Terjadi Saat Kemarau? Ini Faktor Penyebabnya
in 5 hours

Kenapa Pasir Cepat Melewatkan Air? Ternyata Ini Rahasia di Balik Pori-pori Tanah
in 5 hours

Mengapa Bebek Suka Berendam di Air? Ternyata Bukan Sekadar untuk Bersenang-senang
in 5 hours

Kenapa Gigi Tupai Tidak Pernah Habis? Ternyata Ini Rahasia di Balik Gigi Depannya yang Terus Tumbuh
in 5 hours

Kenapa Buah Bisa Cepat Menghitam Setelah Dipotong? Ini Penjelasan di Balik Apel yang Berubah Warna
in 5 hours

Madu vs Gula, Mana yang Lebih Baik? Kenali Perbedaannya Sebelum Memilih Pemanis
in 5 hours

Bolehkah Mentega Disimpan di Suhu Ruang? Ini Cara Aman agar Tidak Cepat Rusak
in 5 hours

Kenapa Badan Sering Pegal-pegal? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Sering Dialami Anak Muda
in 5 hours

5 Buah Kaya Nutrisi yang Mendukung Tumbuh Kembang dan Kesehatan Tulang Anak
7 hours ago

Waspada! Kenali 5 Gejala Pecah Pembuluh Darah di Otak yang Bisa Muncul Tiba-tiba
7 hours ago





