Tuna: Manfaat, Kandungan Nutrisi, Jenis, Bahaya Merkuri, dan Cara Aman Mengonsumsinya
Tata - Sunday, 13 September 2026 | 01:50 PM


Siapa Sih yang Nggak Kenal Tuna? Superstar di Piring Kita
Pernah nggak sih lo lagi asyik nongkrong di resto sushi atau sekadar bengong di depan rak supermarket, terus mata lo tertuju ke deretan kaleng bergambar ikan besar? Ya, itulah tuna. Si ikan atletis yang kalau di laut bisa renang secepat kilat, dan kalau sudah di piring, rasanya emang nggak ada lawan. Mau dijadiin isian sandwich, topping pizza, sampai irisan sashimi yang lumer di mulut, tuna selalu punya tempat spesial di hati—dan perut—kita semua.
Ikan ini bisa dibilang "anak emas" dunia nutrisi. Kalau lo tanya ke anak gym atau orang-orang yang lagi getol diet, tuna pasti masuk daftar belanjaan wajib. Kenapa? Karena dia adalah definisi nyata dari makanan padat nutrisi. Tapi, seperti pepatah lama yang bilang kalau sesuatu yang berlebihan itu nggak pernah baik, mengonsumsi tuna juga butuh strategi. Kita nggak bisa asal hajar makan tuna tiap hari tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik daging merahnya yang menggoda itu.
Kenapa Tuna Jadi Idola: Protein Level Dewa
Mari kita bicara jujur, alasan utama banyak orang memuja tuna adalah kandungan proteinnya yang nggak main-main. Bayangkan saja, dalam porsi kecil, lo sudah bisa mendapatkan asupan protein yang cukup buat bantu memperbaiki jaringan otot sehabis angkat beban atau sekadar lari sore. Tuna itu rendah lemak, rendah kalori, tapi tinggi protein. Paket lengkap banget buat lo yang mau badan atletis tanpa harus merasa bersalah karena timbunan lemak jenuh.
Nggak cuma protein, tuna juga kaya akan asam lemak Omega-3. Ini nih yang sering disebut-sebut sebagai "makanan otak". Omega-3 punya peran penting buat menjaga kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah, sampai bikin mood lo lebih stabil. Jadi, kalau lo lagi merasa agak lemot atau baperan, mungkin sepotong tuna bisa jadi mood booster alami yang jauh lebih sehat daripada seblak level 10. Selain itu, ada juga vitamin B12 dan selenium yang fungsinya buat menjaga daya tahan tubuh biar lo nggak gampang tumbang kena flu pas cuaca lagi nggak menentu.
Sisi Gelap di Balik Kelezatan: Isu Merkuri yang Menghantui
Tapi tunggu dulu, jangan langsung borong semua stok tuna di pasar. Ada satu hal yang sering jadi bahan perdebatan: merkuri. Sebagai predator yang nangkring di posisi atas rantai makanan, tuna punya hobi makan ikan-ikan kecil. Masalahnya, ikan-ikan kecil ini mengandung merkuri dalam jumlah sedikit dari polusi laut. Semakin besar dan semakin tua seekor tuna, semakin banyak pula merkuri yang terakumulasi di dalam tubuhnya. Fenomena ini kerennya disebut biomagnifikasi.
Kalau kita terlalu sering makan tuna yang tinggi merkuri, dampaknya nggak main-main buat sistem saraf. Gejalanya mungkin nggak langsung kerasa, tapi jangka panjang bisa bikin koordinasi tubuh terganggu atau gangguan penglihatan. Terutama buat ibu hamil dan anak-anak, urusan merkuri ini harus benar-benar diperhatikan karena bisa ganggu perkembangan otak janin atau balita. Jadi, pilih-pilih jenis tuna itu krusial banget, bukan cuma soal harga murah atau mahal.
Mengenal Jenis Tuna: Nggak Semuanya Sama
Kalau lo teliti, tuna itu jenisnya banyak banget. Di Indonesia, kita sering dengar nama Cakalang atau Skipjack. Nah, kabar baiknya, Skipjack ini biasanya punya kadar merkuri yang paling rendah karena ukurannya yang relatif kecil dan siklus hidupnya yang pendek. Kalau lo beli tuna kalengan yang tulisannya "Light Tuna", biasanya isinya ya si Skipjack ini. Aman banget buat dikonsumsi beberapa kali seminggu.
Beda cerita kalau lo ketemu sama Albacore atau Bigeye Tuna. Jenis ini biasanya lebih gede, dagingnya lebih putih atau pink pucat, dan harganya juga lebih premium. Tapi karena ukurannya besar, kadar merkurinya pun lebih tinggi. Jadi kalau lo doyan banget sama jenis ini, sebaiknya batasi porsinya. Jangan tiap hari makan steak Albacore kalau nggak mau risiko kesehatan lo meningkat. Intinya, "size matters" di dunia tuna, dan dalam hal keamanan merkuri, yang kecil biasanya lebih oke buat dikonsumsi rutin.
Etika di Balik Piring: Isu Lingkungan dan Overfishing
Selain soal kesehatan badan, ada lagi satu hal yang sering luput dari perhatian kita: kesehatan laut kita. Tuna adalah salah satu komoditas paling laku di dunia, dan itu artinya mereka diburu secara masif. Beberapa spesies tuna, seperti Bluefin (tuna sirip biru) yang harganya bisa selangit itu, statusnya sudah sangat terancam karena overfishing atau penangkapan berlebih. Belum lagi soal metode penangkapan yang kadang nggak ramah lingkungan, di mana lumba-lumba atau kura-kura ikut terjaring secara nggak sengaja.
Sebagai konsumen yang bijak, kita punya power buat mengubah ini. Caranya gimana? Cari produk tuna yang punya label "Dolphin Safe" atau bersertifikasi "MSC" (Marine Stewardship Council). Dengan memilih produk yang bertanggung jawab, kita ikut memastikan kalau anak cucu kita nanti masih bisa ngerasain nikmatnya tuna, nggak cuma denger ceritanya doang dari buku sejarah atau nonton dokumenter di Netflix.
Tips Bijak Menikmati Tuna Tanpa Was-was
Terus, gimana caranya biar kita tetap bisa makan enak tapi aman? Pertama, variasi adalah kunci. Jangan cuma mengandalkan tuna sebagai sumber protein tunggal. Masih banyak ikan lain yang merkurinya rendah tapi gizinya juara, kayak sarden atau kembung. Kedua, perhatikan frekuensi. Kalau lo pecinta tuna kalengan, usahakan pilih yang versinya "in water" daripada "in oil" buat memangkas kalori tambahan yang nggak perlu.
Ketiga, jangan malas baca label. Lihat dari mana tuna itu berasal dan gimana cara mereka menangkapnya. Memang sih, kadang harganya sedikit lebih mahal, tapi hitung-hitung itu investasi buat kesehatan lo dan kelestarian bumi. Terakhir, kombinasikan tuna dengan sayur-sayuran segar. Serat dari sayuran bisa bantu metabolisme tubuh tetap lancar.
Kesimpulannya, tuna itu emang juara, tapi bukan berarti dia tanpa cela. Kita perlu jadi "smart eater". Menikmati sepotong tuna steak atau seporsi tuna mayo di hari Minggu itu sah-sah saja dan menyehatkan banget, asalkan kita tahu batasannya. Sehat itu bukan cuma soal apa yang masuk ke perut, tapi juga soal pemahaman kita tentang apa yang kita makan. Jadi, sudah siap makan tuna hari ini dengan cara yang lebih bijak?
Next News

Mengapa Kutu Begitu Berhasil Beradaptasi? Mengenal Rahasia Bertahan Hidup dan Evolusinya
in 6 hours

Saffron: Manfaat, Kandungan, Harga, Cara Membedakan Asli dan Mitos Kesehatan
in 6 hours

Mengenal Spageti: Sejarah, Asal Usul, Jenis, dan Perjalanannya hingga Populer di Indonesia
in 6 hours

Mengenal Awapuhi, Si Jahe Wangi yang Jadi Rahasia Kecantikan Rambut hingga Incaran Brand Skincare Dunia
in 6 hours

Menjaga Kesehatan Tidak Harus Mahal: Kembali pada Kebiasaan Dasar
in 2 hours

Peringatan Dini BMKG 13 September 2026: Waspada Hujan Lebat & Angin Kencang
in 3 hours

Kesehatan Bukan Hanya Soal Tidak Sakit: Makna Sehat yang Sering Terlupakan
in 2 hours

Mengapa Stres Bisa Membuat Tubuh Terasa Lelah?
in an hour

Tidak Semua yang Viral Itu Sehat: Cara Bijak Menilai Tren Makanan
in an hour

Makan Malam Terlambat: Kebiasaan Sepele atau Perlu Diperhatikan?
in an hour





