Mengenal Spageti: Sejarah, Asal Usul, Jenis, dan Perjalanannya hingga Populer di Indonesia
Tata - Sunday, 13 September 2026 | 01:55 PM


Mengenal Spageti: Sejarah, Bentuk, dan Perjalanannya hingga Jadi Makanan Sejuta Umat
Siapa sih yang nggak kenal spageti? Rasanya, hampir di setiap sudut kota, mulai dari kafe estetik ala-ala senja sampai warung steak pinggir jalan yang harganya ramah di kantong mahasiswa, menu ini pasti nongol. Spageti sudah kayak "nasi kedua" bagi banyak orang. Bentuknya yang panjang, teksturnya yang kenyal kalau dimasak dengan benar, ditambah guyuran saus merah atau krim putih, bikin siapa pun susah buat nolak.
Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran pas lagi asyik ngegulung mi panjang ini pakai garpu, "Ini makanan sebenarnya asalnya dari mana ya?" Apakah benar Marco Polo yang bawa dari China, atau jangan-jangan ini memang murni hasil kreativitas orang Italia yang gabut? Yuk, kita bedah perjalanannya yang ternyata nggak sesederhana cuma rebus mi lalu kasih saus instan.
Mitos Marco Polo dan Benang Merah Sejarahnya
Ada satu cerita populer yang sering banget lewat di buku-buku sejarah jadul: katanya Marco Polo membawa pulang mi dari China ke Italia pada abad ke-13, lalu terciptalah spageti. Kedengarannya heroik, ya? Tapi maaf banget, banyak sejarawan makanan yang bilang kalau itu cuma strategi marketing biar jualan pasta makin laku di Amerika zaman dulu. Faktanya, jejak "mi" di Italia sudah ada jauh sebelum Marco Polo menginjakkan kaki di daratan Tiongkok.
Konon, nenek moyang spageti ini punya hubungan erat dengan bangsa Arab yang menduduki Sisilia. Mereka membawa teknik mengeringkan adonan tepung gandum supaya bisa awet dibawa perjalanan jauh melintasi gurun. Nah, di sinilah kuncinya. Kalau mi di Asia biasanya pakai beras atau gandum lunak yang harus langsung dimakan, orang Italia (lewat pengaruh Arab ini) pakai gandum durum yang teksturnya lebih keras dan bisa disimpan berbulan-bulan. Inilah cikal bakal pasta kering yang sekarang memenuhi rak supermarket.
Dulu, spageti itu makanan rakyat jelata. Makannya pun unik, nggak pakai garpu cantik kayak sekarang, melainkan pakai tangan langsung! Bayangin, orang-orang di pinggir jalan Napoli mengangkat tinggi-tinggi untaian mi ini lalu memasukkannya ke mulut. Baru sekitar abad ke-19, ketika saus tomat mulai "berjodoh" dengan pasta, penggunaan garpu jadi wajib biar tangan nggak belepotan merah-merah.
Kenapa Namanya Spageti?
Secara bahasa, nama "spaghetti" itu berasal dari kata "spaghetto" yang dalam bahasa Italia berarti tali kecil atau benang. Memang pas banget, kan? Bentuknya yang silinder panjang dan tipis itu yang membedakannya dari jenis pasta lain yang jumlahnya ada ratusan. Ada yang bentuknya kayak dasi kupu-kupu (farfalle), ada yang kayak tabung (penne), sampai yang kayak kerang (conchiglie).
Tapi jujur saja, di antara semua bentuk itu, spageti adalah rajanya. Dia itu kayak "base" yang paling fleksibel. Mau dimasak apa saja masuk. Mau dibikin ala Aglio e Olio yang cuma pakai bawang putih dan minyak zaitun (cocok buat akhir bulan), atau dibikin ala Carbonara yang creamy-nya bikin dosa, spageti tetap jadi pilihan nomor satu.
Seni Memasak: Al Dente atau Lembek Sekalian?
Di negara asalnya, memasak spageti itu ada aturannya. Istilahnya "Al Dente," yang artinya "sampai ke gigi." Maksudnya, pas digigit itu masih ada sedikit perlawanan atau tekstur kenyal di tengahnya, nggak lembek kayak mi ayam yang kelamaan direndam kuah. Buat orang Italia, makan spageti yang terlalu matang alias benyek itu adalah sebuah penistaan kuliner.
Satu lagi aturan yang sering dilanggar orang kita: mematahkan spageti sebelum dimasukkan ke air mendidih. Wah, kalau orang Italia lihat, mereka mungkin bakal nangis di pojokan. Spageti itu diciptakan panjang supaya bisa digulung sempurna di garpu. Kalau dipatahkan, esensi makannya jadi hilang. Jadi, biarkan saja dia tenggelam perlahan di panci, jangan dipaksa patah kalau memang bukan jodohnya.
Perjalanan Menuju Indonesia: Dari Mewah ke Lokal
Masuknya spageti ke Indonesia tentu lewat jalur kolonial dan pengaruh budaya Barat yang makin masif. Dulu, makan spageti itu simbol status. Kamu harus ke restoran hotel atau resto mahal cuma buat sepiring pasta. Tapi sekarang? Spageti sudah ter-Indonesiasi dengan sukses.
Kita kenal yang namanya spageti "tek-tek" atau spageti yang dijual di kantin sekolah dengan bumbu yang disesuaikan lidah lokal. Sausnya kadang pakai saus sambal botolan yang pedasnya nendang, bukannya saus tomat murni yang asam segar. Bahkan, ada yang menambahkan irisan bakso, sosis, sampai kornet. Aneh? Mungkin bagi orang Italia iya, tapi bagi kita, itulah seni adaptasi rasa. Spageti sudah jadi makanan yang merakyat, bahkan bersaing dengan mi instan dalam hal kemudahan penyajian.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Mi
Spageti adalah bukti bagaimana sebuah tradisi bisa melintasi batas negara dan waktu. Dari makanan darurat para pelancong di gurun, jadi makanan pinggir jalan di Napoli, hingga akhirnya mendarat di meja makan kita di Indonesia. Dia nggak cuma sekadar karbohidrat, tapi juga soal cerita tentang bagaimana manusia bereksperimen dengan rasa.
Jadi, lain kali kalau kamu lagi makan spageti, coba rasakan setiap gulungannya. Ingatlah kalau makanan simpel ini punya sejarah ribuan tahun yang panjangnya melebihi untaian mi di piringmu. Dan yang paling penting, jangan pelit kasih keju parut, karena hidup sudah pahit, jangan sampai spagetimu kurang gurih juga!
Next News

Mengapa Kutu Begitu Berhasil Beradaptasi? Mengenal Rahasia Bertahan Hidup dan Evolusinya
in 6 hours

Saffron: Manfaat, Kandungan, Harga, Cara Membedakan Asli dan Mitos Kesehatan
in 6 hours

Tuna: Manfaat, Kandungan Nutrisi, Jenis, Bahaya Merkuri, dan Cara Aman Mengonsumsinya
in 6 hours

Mengenal Awapuhi, Si Jahe Wangi yang Jadi Rahasia Kecantikan Rambut hingga Incaran Brand Skincare Dunia
in 6 hours

Menjaga Kesehatan Tidak Harus Mahal: Kembali pada Kebiasaan Dasar
in 2 hours

Peringatan Dini BMKG 13 September 2026: Waspada Hujan Lebat & Angin Kencang
in 3 hours

Kesehatan Bukan Hanya Soal Tidak Sakit: Makna Sehat yang Sering Terlupakan
in 2 hours

Mengapa Stres Bisa Membuat Tubuh Terasa Lelah?
in an hour

Tidak Semua yang Viral Itu Sehat: Cara Bijak Menilai Tren Makanan
in an hour

Makan Malam Terlambat: Kebiasaan Sepele atau Perlu Diperhatikan?
in an hour





