Minggu, 13 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Tidak Semua yang Viral Itu Sehat: Cara Bijak Menilai Tren Makanan

Laila - Sunday, 13 September 2026 | 09:00 AM

Background
Tidak Semua yang Viral Itu Sehat: Cara Bijak Menilai Tren Makanan

Tidak Semua yang Viral Itu Sehat: Cara Bijak Menilai Tren Makanan

Pernah nggak sih, pas lagi asyik scrolling TikTok atau Reels tengah malam, tiba-tiba lewat video estetik yang nampilin keju lumer, cokelat melimpah, atau seblak dengan bumbu merah merona yang bikin air liur hampir netes? Jujurly, godaan konten makanan viral itu emang nggak ada obatnya. Rasanya kalau belum nyobain apa yang lagi "fyp", kita kayak kurang gaul atau ketinggalan zaman. Istilah kerennya sih FOMO alias Fear of Missing Out.

Tapi, mari kita tarik napas sebentar dan berpikir pakai logika sehat sebelum langsung pesan ojek online. Masalahnya, dunia kuliner internet belakangan ini sering kali lebih mengedepankan visual daripada nutrisi. Pokoknya asal kelihatan cantik di kamera, unik cara penyajiannya, atau ekstrem porsinya, pasti langsung meledak. Padahal, kalau kita bedah isinya, belum tentu tubuh kita bakal berterima kasih setelah melahapnya.

Dopamine Hit di Balik Layar HP

Kenapa sih kita gampang banget kegoda? Secara psikologis, melihat video makanan yang "menggoda" itu memicu pelepasan dopamine di otak kita. Itulah kenapa istilah food porn itu ada. Kita merasa senang hanya dengan melihatnya, dan rasa penasaran itu mendorong kita buat beli. Belum lagi tekanan sosial. Kalau teman-teman kantor atau geng nongkrong udah pada posting foto Cromboloni atau es teh jumbo kekinian, masa kita diam aja? Gengsi dong!

Sayangnya, tren sering kali nggak berjalan beriringan dengan kesehatan. Ingat zaman Dalgona Coffee yang viral pas awal pandemi? Enak sih, tapi bayangin berapa sendok gula yang masuk ke tubuh cuma buat dapet tekstur creamy itu. Atau tren makanan yang serba disiram saus keju instan atau bubuk cabai level setan. Kelihatannya memang seru buat konten, tapi buat lambung? Bisa jadi itu adalah awal mula dari drama sakit perut berkepanjangan.

Waspada "Hidden Danger" dalam Porsi dan Bahan

Satu hal yang sering luput dari perhatian kita adalah kandungan tersembunyi di balik makanan viral. Banyak dari makanan ini yang sebenarnya adalah bom kalori. Misalnya, minuman kekinian yang isinya campuran susu kental manis, sirup, boba, ditambah cheese foam di atasnya. Sekali minum, asupan gula kamu mungkin sudah melewati batas harian yang disarankan WHO. Padahal, gula berlebih itu investasi buat diabetes di masa depan.



Lalu ada tren makanan pedas yang nggak masuk akal. Cabai memang bagus buat metabolisme, tapi kalau sudah pakai ekstrak kapsaisin atau bubuk cabai kiloan yang warnanya merah neon, itu namanya cari penyakit. Usus kita itu bukan terbuat dari besi, kawan. Memaksakan diri makan yang ekstrem cuma demi konten atau pembuktian diri itu rasanya agak kurang bijak, ya nggak sih?

Gimana Cara Menilai Tren Makanan Secara Bijak?

Bukannya nggak boleh jajan atau nyobain hal baru, ya. Hidup tanpa jajan itu hambar, kayak sayur tanpa garam. Tapi, kita perlu punya filter. Berikut beberapa cara biar kamu nggak cuma sekadar jadi korban tren:

  • Cek Bahannya, Bukan Cuma Visualnya: Sebelum beli, coba lihat dulu review atau komposisinya. Kalau isinya cuma tepung, gula, dan minyak goreng dalam porsi raksasa, mungkin kamu bisa mikir dua kali. Atau minimal, bagi dua sama teman biar kalorinya nggak masuk ke kamu sendirian.
  • Dengarkan Sinyal Tubuh: Tubuh kita itu pintar. Kalau baru lihat fotonya aja perut udah kerasa mual atau gigi udah kerasa ngilu, ya jangan dipaksa. Jangan demi validasi media sosial, kesehatan jangka panjang dikorbankan.
  • Jangan Terpaku pada Label "Sehat" Viral: Kadang ada makanan yang dilabeli "diet friendly" atau "organic" tapi ternyata kandungan natriumnya selangit. Tetap kritis dan jangan telan mentah-mentah klaim marketing.
  • Moderasi adalah Kunci: Mau nyobain seblak Rafael atau latte yang lagi hits? Boleh banget! Tapi jadikan itu sebagai treat sekali-kali, bukan makanan pokok harian. Istilahnya, cheat day boleh, tapi jangan cheat life.

Menjadi Konsumen yang Lebih Mindful

Dunia digital memang nggak akan berhenti memproduksi tren-tren baru yang bikin kita ngiler. Besok mungkin ada lagi kombinasi makanan aneh lainnya yang bakal viral. Namun, menjadi dewasa itu berarti tahu mana yang cuma "lapar mata" dan mana yang memang kita butuhkan. Menghargai tubuh sendiri itu jauh lebih keren daripada dapet ratusan likes di postingan makanan yang sebenarnya bikin kita lemas setelah memakannya.

Kesimpulannya, nggak semua yang viral itu harus masuk ke mulut kita. Kadang, cara terbaik menikmati tren adalah dengan cukup menonton videonya sampai habis, lalu balik lagi makan masakan rumah yang lebih terjamin kebersihannya. Sehat itu mahal, tapi jajan sembarangan juga nggak murah kalau ujung-ujungnya harus ke dokter. Jadi, besok mau jajan apa? Pastikan itu pilihan yang bijak, ya!

Tags