Kamis, 25 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Anak Sering Berantem dengan Saudaranya? Ini Penyebab yang Sering Terjadi

Liaa - Thursday, 25 June 2026 | 11:53 AM

Background
Kenapa Anak Sering Berantem dengan Saudaranya? Ini Penyebab yang Sering Terjadi

Bagi banyak orang tua, pertengkaran antara anak-anak di rumah mungkin sudah jadi pemandangan yang cukup akrab. Baru saja bermain bersama, beberapa menit kemudian kakak dan adik sudah saling rebut mainan, saling ngambek, bahkan menangis karena merasa diperlakukan tidak adil. Situasi seperti ini memang bisa melelahkan, tetapi sebenarnya cukup umum terjadi dalam hubungan saudara kandung.

Dalam dunia parenting, kondisi ini sering disebut sibling rivalry, yaitu persaingan, kecemburuan, atau konflik yang muncul antara saudara kandung. Sibling rivalry bukan berarti anak-anak tidak saling sayang. Justru dalam banyak kasus, pertengkaran itu muncul karena mereka sedang belajar memahami perasaan, batasan, perhatian, dan posisi masing-masing di dalam keluarga. Kondisi ini paling sering terlihat pada anak-anak yang jarak usianya berdekatan atau sama-sama sedang membutuhkan banyak perhatian dari orang tua.

Salah satu penyebab paling umum adalah rasa cemburu dan keinginan untuk mendapatkan perhatian orang tua. Anak bisa merasa saudaranya lebih disayang, lebih sering dipuji, atau lebih banyak dibela. Perasaan seperti ini mudah muncul, terutama jika salah satu anak sedang lebih sering dibantu, misalnya karena masih kecil, sedang sakit, atau baru saja punya adik baru di rumah. Dari sudut pandang anak, perhatian yang terbagi bisa terasa seperti ancaman, sehingga pertengkaran pun lebih mudah terjadi.

Selain itu, anak-anak juga sering bertengkar karena kemampuan mengelola emosi dan menyelesaikan konflik mereka belum matang. Anak kecil belum selalu bisa mengungkapkan rasa kesal, kecewa, iri, atau marah dengan kata-kata yang tepat. Akibatnya, emosi tersebut lebih sering keluar dalam bentuk rebutan, teriakan, tangisan, atau dorongan fisik. Hal-hal yang bagi orang dewasa terlihat sepele—seperti rebutan remote, giliran main, tempat duduk, atau siapa yang lebih dulu dipeluk ibu—bisa terasa sangat besar bagi anak.

Perbedaan kepribadian dan kebutuhan tiap anak juga ikut berpengaruh. Ada anak yang dominan dan suka mengatur, ada yang sensitif, ada yang mudah tersinggung, ada pula yang sulit berbagi. Saat dua atau lebih karakter ini bertemu setiap hari di rumah, gesekan kecil jadi lebih mudah muncul. Apalagi jika mereka berada di fase perkembangan yang berbeda—misalnya kakak ingin privasi, sementara adik masih ingin ikut ke mana-mana—konflik bisa makin sering terjadi karena masing-masing punya kebutuhan yang tidak sama.



Faktor lain yang sering tidak disadari adalah cara orang tua bersikap di rumah. Membanding-bandingkan anak, memberi label seperti "si kakak yang penurut" atau "adik yang paling pintar", memuji satu anak di depan yang lain, atau tanpa sadar lebih sering membela salah satu pihak bisa memperkuat rasa saing di antara saudara kandung. Bahkan suasana rumah yang penuh ketegangan, termasuk kebiasaan orang tua bertengkar di depan anak, juga bisa memengaruhi emosi anak dan membuat mereka lebih mudah melampiaskan kekesalan kepada saudaranya.

Meski begitu, penting dipahami bahwa bertengkar sesekali bukan berarti hubungan saudara kandung selalu buruk. Dalam batas wajar, konflik kecil justru bisa menjadi bagian dari proses belajar anak untuk bernegosiasi, memahami batasan, belajar berbagi, dan mengenali perasaan orang lain. Yang perlu diperhatikan adalah jika pertengkaran terjadi terlalu sering, selalu berujung kekerasan fisik, salah satu anak tampak terus-menerus tertekan, atau hubungan mereka makin memburuk dari waktu ke waktu. Kondisi seperti ini sebaiknya tidak dianggap sepele.

Untuk membantu mengurangi pertengkaran, orang tua bisa mulai dengan menghindari perbandingan, memberi waktu khusus untuk masing-masing anak, membantu mereka menyebutkan perasaan dengan kata-kata, serta membuat aturan rumah yang adil soal berbagi, bergiliran, dan saling menghormati. Saat anak bertengkar, usahakan menjadi penengah yang tenang, bukan hakim yang langsung menentukan siapa yang paling salah. Dengan pendekatan seperti ini, anak bukan hanya belajar berdamai dengan saudaranya, tetapi juga belajar mengelola konflik dengan lebih sehat.

Pada akhirnya, alasan anak sering berantem dengan saudaranya bukan semata-mata karena mereka nakal atau tidak akur. Sering kali, itu adalah campuran dari rasa cemburu, kebutuhan akan perhatian, emosi yang belum stabil, dan dinamika keluarga yang sedang mereka pelajari. Selama orang tua hadir untuk membimbing, pertengkaran antarsaudara bisa menjadi bagian dari proses tumbuh yang sehat, bukan sekadar sumber keributan di rumah.