Senin, 26 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Judul: Mengapa Tubuh Bisa Mengalami Alergi terhadap Makanan Tertentu?

Laila - Monday, 26 October 2026 | 12:20 PM

Background
Judul: Mengapa Tubuh Bisa Mengalami Alergi terhadap Makanan Tertentu?

Alergi makanan merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menganggap zat tertentu dalam makanan sebagai ancaman. Padahal, zat tersebut umumnya aman dikonsumsi oleh sebagian besar orang. Reaksi ini dapat muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan tertentu, bahkan dalam jumlah yang sedikit.

Pada dasarnya, sistem kekebalan tubuh berfungsi melindungi tubuh dari berbagai ancaman, seperti virus dan bakteri. Namun, pada orang yang memiliki alergi makanan, sistem pertahanan ini keliru mengenali protein dalam makanan sebagai zat berbahaya. Akibatnya, tubuh melepaskan zat kimia, termasuk histamin, yang memicu munculnya gejala alergi.

Makanan yang Sering Memicu Alergi

Ada sejumlah makanan yang cukup sering menyebabkan reaksi alergi. Beberapa di antaranya adalah susu sapi, telur, kacang tanah, kacang pohon, ikan, udang, kerang, gandum, dan kedelai.

Meski demikian, tidak semua orang memiliki pemicu alergi yang sama. Seseorang mungkin mengalami alergi setelah mengonsumsi udang, sedangkan orang lain dapat mengonsumsi makanan tersebut tanpa mengalami masalah.



Reaksi alergi juga tidak selalu muncul sejak pertama kali seseorang mencoba suatu makanan. Sensitisasi terhadap alergen dapat terjadi tanpa gejala yang langsung disadari, kemudian reaksi muncul ketika tubuh kembali terpapar zat pemicu tersebut.

Faktor yang Membuat Seseorang Mengalami Alergi Makanan

Penyebab pasti alergi makanan belum sepenuhnya dipahami. Namun, faktor genetik dan riwayat alergi dalam keluarga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini. Orang yang memiliki alergi lain, seperti eksim atau asma, juga dapat memiliki risiko lebih tinggi terhadap kondisi alergi tertentu.

Selain faktor keturunan, sistem kekebalan tubuh dan interaksinya dengan lingkungan turut berperan dalam perkembangan alergi. Akan tetapi, alergi makanan tidak berarti seseorang memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Kondisi ini justru berkaitan dengan respons kekebalan yang tidak sesuai terhadap zat tertentu.

Penting diketahui bahwa alergi makanan berbeda dari intoleransi makanan. Intoleransi biasanya berkaitan dengan kesulitan tubuh mencerna atau memproses suatu zat, seperti laktosa pada susu. Sementara itu, alergi melibatkan sistem kekebalan tubuh dan berpotensi menimbulkan reaksi yang lebih serius.



Gejala Alergi Makanan yang Perlu Dikenali

Gejala alergi makanan dapat muncul dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Tingkat keparahannya berbeda-beda, tergantung pada kondisi individu dan jenis reaksinya.

Gejala yang umum meliputi gatal-gatal, ruam kemerahan, pembengkakan pada bibir atau wajah, mual, muntah, sakit perut, dan diare. Pada sebagian orang, alergi juga dapat menyebabkan batuk, mengi, atau kesulitan bernapas.

Reaksi yang paling berbahaya adalah anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang dapat mengancam nyawa. Tandanya bisa berupa pembengkakan pada lidah atau tenggorokan, kesulitan bernapas, pusing berat, hingga pingsan. Kondisi ini membutuhkan pertolongan medis darurat.

Cara Menghindari dan Menangani Alergi Makanan



Langkah utama untuk menghindari reaksi alergi adalah mengenali makanan pemicu dan tidak mengonsumsinya. Membaca label kemasan, menanyakan komposisi makanan, serta memperhatikan kemungkinan kontaminasi silang saat pengolahan dapat membantu mengurangi risiko paparan alergen.

Jika seseorang mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan alergi makanan, pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Dokter dapat melakukan evaluasi riwayat kesehatan dan, bila diperlukan, pemeriksaan alergi yang sesuai. Hindari menyimpulkan alergi hanya berdasarkan satu gejala atau hasil tes tanpa penilaian medis.

Bagi orang yang telah didiagnosis memiliki alergi berat, dokter dapat meresepkan epinefrin untuk digunakan saat terjadi anafilaksis. Jika muncul tanda reaksi alergi berat, segera gunakan epinefrin sesuai petunjuk yang diberikan dan cari pertolongan medis darurat. Antihistamin tidak dapat menggantikan epinefrin dalam menangani anafilaksis.

Alergi makanan tidak selalu dapat dicegah, tetapi risikonya dapat dikelola dengan mengenali pemicu, memahami gejala, dan mengikuti saran tenaga kesehatan. Dengan penanganan yang tepat, seseorang dapat lebih berhati-hati dalam memilih makanan sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya reaksi alergi yang berbahaya.