Senin, 26 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Dari Nagasari hingga Putu Ayu, Kue Tradisional yang Mengingatkan pada Masa Kecil

Liaa - Monday, 26 October 2026 | 10:00 AM

Background
Dari Nagasari hingga Putu Ayu, Kue Tradisional yang Mengingatkan pada Masa Kecil

Kue tradisional Indonesia memiliki daya tarik yang tidak hanya berasal dari rasa, tetapi juga dari kenangan yang menyertainya. Bagi sebagian orang, jajanan seperti nagasari, putu ayu, klepon, dan kue lapis mengingatkan pada masa kecil ketika camilan sederhana mudah ditemukan di pasar tradisional, warung, atau meja makan di rumah.

Berbagai kue tersebut umumnya dibuat menggunakan bahan yang mudah dijumpai, seperti tepung beras, tepung terigu, singkong, santan, gula, dan kelapa. Meski bahan pembuatannya sederhana, setiap jenis kue memiliki tekstur, aroma, serta cita rasa yang berbeda.

Hingga sekarang, kue tradisional masih dapat ditemukan dalam berbagai acara keluarga, pertemuan masyarakat, hingga kegiatan adat. Keberadaannya menjadi salah satu cara untuk mempertahankan kekayaan kuliner Indonesia sekaligus memperkenalkan makanan khas kepada generasi muda.

1.Nagasari, Kue Lembut dengan Isian Pisang

Nagasari merupakan salah satu jajanan tradisional yang dikenal melalui teksturnya yang lembut dan rasa manis yang tidak berlebihan. Kue ini umumnya dibuat dari campuran tepung beras, santan, dan gula, kemudian diisi dengan potongan pisang sebelum dibungkus menggunakan daun pisang.

Proses pengukusan membuat adonan matang dan menghasilkan tekstur yang lembut. Sementara itu, aroma daun pisang memberikan sentuhan khas yang membuat nagasari mudah dikenali.



Kue ini sering dijumpai dalam sajian jajanan pasar maupun acara keluarga. Bagi sebagian orang, nagasari mengingatkan pada camilan yang disiapkan orang tua atau dibeli ketika berkunjung ke pasar tradisional.

Kesederhanaan bahan dan cara penyajiannya menjadikan nagasari sebagai salah satu kue yang tetap digemari hingga saat ini.

2.Putu Ayu, Kue Hijau dengan Taburan Kelapa

Putu ayu dikenal melalui tampilannya yang berwarna hijau dengan lapisan kelapa parut pada bagian atas. Kue ini biasanya dibuat menggunakan tepung terigu, telur, gula, santan, dan bahan pemberi aroma atau warna, seperti pandan.

Adonannya dikukus dalam cetakan kecil hingga mengembang dan matang. Sebelum adonan dimasukkan, kelapa parut ditempatkan pada dasar cetakan sehingga setelah kue dikeluarkan, kelapa terlihat berada di bagian atas.

Perpaduan rasa manis dari kue dan gurihnya kelapa menciptakan cita rasa yang khas. Teksturnya yang lembut juga membuat putu ayu cocok dinikmati sebagai teman minum teh atau kopi.



Warna hijau dan bentuknya yang menarik membuat kue ini mudah dikenali di antara beragam jajanan pasar.

3.Klepon, Sensasi Manis dari Gula Merah

Klepon merupakan jajanan tradisional berbentuk bulat kecil yang umumnya dibuat dari tepung ketan. Adonan diberi warna hijau menggunakan pandan atau bahan pewarna yang sesuai, kemudian diisi gula merah sebelum direbus hingga matang.

Salah satu ciri khas klepon adalah gula merah yang mencair ketika terkena panas. Saat digigit, bagian dalamnya menghadirkan sensasi manis yang berpadu dengan tekstur kenyal dari tepung ketan.

Setelah matang, klepon biasanya dilapisi kelapa parut agar menghasilkan perpaduan rasa manis dan gurih. Ukurannya yang kecil membuat kue ini mudah disantap dalam beberapa gigitan.

Bagi banyak pencinta jajanan tradisional, klepon memiliki daya tarik tersendiri karena cara menikmatinya memberikan pengalaman berbeda dibandingkan kue lainnya.



4.Kue Lapis, Berwarna-warni dan Kenyal

Kue lapis merupakan jajanan tradisional yang mudah dikenali melalui susunan lapisannya. Kue ini umumnya dibuat dari tepung beras, tepung tapioka, santan, dan gula, kemudian dibagi menjadi beberapa adonan dengan warna berbeda.

Setiap lapisan dikukus secara bertahap hingga matang sebelum lapisan berikutnya ditambahkan. Proses tersebut menghasilkan bentuk berlapis yang menjadi ciri utama kue ini.

Teksturnya cenderung kenyal dan sedikit lengket, sehingga sebagian orang menikmati kue lapis dengan cara memisahkan lapisannya satu per satu. Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari kenangan masa kecil yang melekat hingga dewasa.

Selain menarik dari segi tampilan, kue lapis juga menunjukkan kreativitas dalam pengolahan bahan sederhana menjadi makanan dengan bentuk yang khas.

5.Getuk, Olahan Singkong yang Lembut

Getuk merupakan jajanan tradisional berbahan dasar singkong yang telah direbus atau dikukus, lalu dihaluskan bersama gula. Makanan ini dikenal memiliki tekstur lembut dengan rasa manis yang dapat disesuaikan menurut selera.



Getuk dapat disajikan dalam bentuk potongan, cetakan memanjang, atau bentuk lain sesuai jenisnya. Beberapa variasi juga menggunakan pewarna makanan untuk menghasilkan tampilan yang lebih menarik.

Taburan kelapa parut sering ditambahkan sebagai pelengkap yang memberikan rasa gurih. Perpaduan singkong, gula, dan kelapa menjadikan getuk sebagai camilan sederhana yang cukup mengenyangkan.

Karena menggunakan bahan pangan lokal, getuk juga menjadi contoh bagaimana masyarakat mengolah hasil pertanian menjadi makanan yang memiliki nilai ekonomi dan budaya.

6.Cenil, Jajanan Kenyal dengan Warna Menarik

Cenil merupakan jajanan pasar yang dikenal melalui bentuknya yang kecil dan teksturnya yang kenyal. Kue ini umumnya dibuat dari tepung tapioka atau bahan berpati lainnya, kemudian dibentuk dan dimasak hingga matang.

Cenil sering disajikan dalam beragam warna, seperti merah muda, hijau, dan putih. Sebelum disantap, jajanan ini biasanya diberi taburan kelapa parut dan gula, atau disajikan bersama gula merah cair.



Rasa cenil cenderung sederhana, tetapi perpaduan tekstur kenyal dan kelapa yang gurih membuatnya memiliki karakter tersendiri.

Kehadirannya di pasar tradisional memperlihatkan bahwa jajanan dengan bahan sederhana tetap memiliki penggemar di tengah semakin banyaknya pilihan camilan modern.

7.Onde-Onde, Camilan dengan Taburan Wijen

Onde-onde merupakan kue berbentuk bulat yang bagian luarnya dilapisi biji wijen. Adonannya biasanya dibuat dari tepung ketan, sedangkan bagian dalamnya dapat diisi pasta kacang hijau atau isian lainnya.

Ketika digoreng dengan tepat, bagian luar onde-onde menghasilkan tekstur yang sedikit renyah, sementara bagian dalamnya terasa lembut dan kenyal. Perpaduan tersebut memberikan pengalaman makan yang berbeda dari kue kukus.

Onde-onde banyak dijumpai di toko kue, pasar tradisional, dan penjual jajanan. Ukurannya yang praktis membuatnya cocok disajikan sebagai camilan dalam berbagai kesempatan.



Bagi sebagian orang, onde-onde juga mengingatkan pada kebiasaan membeli kue bersama keluarga ketika berbelanja atau menghadiri acara tertentu.

Mengapa Kue Tradisional Sering Mengingatkan pada Masa Kecil?

Kenangan terhadap makanan sering terbentuk melalui pengalaman yang berulang. Aroma, rasa, dan tekstur tertentu dapat mengingatkan seseorang pada suasana rumah, orang-orang terdekat, atau kegiatan yang pernah dilakukan pada masa lalu.

Kue tradisional sering hadir dalam berbagai momen sehari-hari, seperti sarapan, waktu istirahat, acara keluarga, dan kunjungan ke pasar. Ketika makanan yang sama kembali dinikmati setelah bertahun-tahun, seseorang dapat teringat pada pengalaman yang pernah menyertainya.

Selain itu, proses pembuatan kue tradisional juga kerap melibatkan kebersamaan. Ada keluarga yang menyiapkan jajanan untuk acara tertentu, membuat kue bersama, atau membeli camilan sebagai teman berkumpul.



Meski setiap orang memiliki pengalaman berbeda, hubungan antara makanan dan kenangan menunjukkan bahwa kuliner tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Makanan juga dapat menjadi bagian dari pengalaman sosial dan cerita kehidupan seseorang.

Kue tradisional seperti nagasari, putu ayu, klepon, kue lapis, getuk, cenil, dan onde-onde merupakan bagian dari kekayaan kuliner Indonesia yang tetap bertahan di tengah perkembangan zaman. Setiap jenis memiliki ciri khas dari segi bahan, tekstur, rasa, dan cara pengolahan.

Bagi sebagian orang, jajanan tersebut menghadirkan kenangan tentang masa kecil dan kebersamaan bersama keluarga. Sementara itu, bagi generasi muda, mengenal kue tradisional menjadi kesempatan untuk memahami ragam kuliner Nusantara.

Dengan tetap membuat, membeli, dan memperkenalkan jajanan tradisional, masyarakat turut menjaga warisan kuliner agar tidak kehilangan tempat di tengah perubahan selera dan tren makanan modern.

Tags