Jepang Dilanda Suhu di Atas 40 Derajat Celsius Selama Lima Hari Berturut-turut
RAU - Monday, 27 July 2026 | 12:50 PM


Tokyo – Jepang kembali menghadapi cuaca panas ekstrem dengan suhu di atas 40 derajat Celsius selama lima hari berturut-turut hingga Sabtu (25/7/2026). Kondisi tersebut mendorong pemerintah mengeluarkan peringatan mengenai risiko serangan panas di sejumlah wilayah.
Rentetan suhu ekstrem ini menjadi periode terpanjang dengan temperatur di atas 40 derajat Celsius secara berturut-turut sejak pencatatan dimulai pada 2010.
Untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap suhu yang sangat tinggi, Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperkenalkan istilah meteorologi baru, yakni "kokushobi", yang digunakan untuk menggambarkan hari dengan suhu sangat panas di atas 40 derajat Celsius.
Menurut JMA, sejumlah kota di Jepang bagian tengah, termasuk wilayah Aichi dan Gifu, telah mengalami suhu yang melampaui ambang batas tersebut.
JMA menyatakan istilah "kokushobi" diperkenalkan untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko cuaca panas ekstrem. Namun, penggunaan istilah tersebut tidak secara otomatis memicu penerapan kebijakan atau tindakan resmi secara nasional.
Dampak cuaca panas ekstrem juga mulai dirasakan pada sektor kesehatan. Berdasarkan data Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang, hampir 11.000 orang mendapatkan perawatan medis darurat akibat gangguan yang berkaitan dengan panas selama periode 13 hingga 19 Juli.
Dari jumlah tersebut, 14 orang dilaporkan meninggal dunia setelah tiba di rumah sakit.
Badan tersebut mengingatkan masyarakat agar memperlakukan kondisi panas ekstrem sebagai situasi yang serius. Warga diimbau untuk memperhatikan kondisi tubuh, menghindari paparan panas berlebihan, serta mengambil langkah pencegahan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.
Jepang diketahui mengalami sekitar 1.300 kematian akibat cuaca panas setiap tahunnya. Pemerintah negara tersebut menargetkan dapat menekan angka kematian akibat panas hingga separuhnya pada 2030.
Di Tokyo, dampak gelombang panas juga terlihat dari meningkatnya jumlah warga yang membutuhkan penanganan medis. Pada 23 Juli, sebanyak 453 orang dilaporkan mendapatkan perawatan di rumah sakit akibat masalah kesehatan yang berkaitan dengan panas dalam satu hari. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak pencatatan dimulai lebih dari satu dekade lalu.
Para ilmuwan mengaitkan meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas ekstrem dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi juga menjadi perhatian di berbagai wilayah dunia.
Jepang sendiri mencatat musim panas terpanas dalam sejarah pada 2025. Rekor suhu tertinggi mencapai 41,8 derajat Celsius pada 5 Agustus 2025 di Isesaki, wilayah utara Tokyo.
Rentetan suhu ekstrem yang terjadi pada 2026 kembali menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca panas. Warga diimbau menjaga asupan cairan, membatasi aktivitas berat di luar ruangan ketika suhu sangat tinggi, serta memperhatikan kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Next News

Amerika Serikat Sempat Menunda Serangan ke Iran, Jalur Diplomasi Masih Terbuka
13 days ago

Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Kyushu Jepang, Korban Meninggal Bertambah 13 Orang
13 days ago

Gempa M 7,1 Guncang Selatan Jepang, Berpotensi Tsunami
15 days ago

Prancis-Spanyol Berjibaku Padamkan Kebakaran Hutan yang Kian Meluas
15 days ago

Kebakaran Hutan Meluas di Spanyol dan Prancis, Lebih dari 250 Ribu Orang Dievakuasi
16 days ago

Spanyol Tetapkan Darurat Nasional, Ribuan Warga Dievakuasi akibat Kebakaran Hutan
18 days ago

Prancis Setujui RUU Pembatasan Media Sosial bagi Anak di Bawah 15 Tahun
20 days ago

Resmi! Andy Burnham Jadi PM Baru Inggris, Siapkan Kebijakan Ini
22 days ago

Korban tewas gempa Venezuela tembus 5.278 orang, 23.500 mengungsi
22 days ago

Gempa M 5,5 Guncang Peru Tengah, Lima Orang Tewas dan Puluhan Terluka
23 days ago





