Inilah Alasan Sebenarnya Kenapa Bunglon Bisa Berubah Warna
Laila - Sunday, 28 June 2026 | 12:10 PM


Bunglon: Si Ahli Ganti Kostum yang Ternyata Nggak Cuma Jago Sembunyi
Pernah nggak sih lo lagi nongkrong, terus ada temen yang omongannya berubah-ubah tergantung siapa yang dia ajak bicara? Biasanya, secara otomatis kita bakal nyeletuk, "Wah, bunglon nih orang!" Istilah bunglon memang sudah mendarah daging di bahasa kita sebagai metafora buat orang yang hobi cari aman atau nggak punya pendirian. Tapi, jujur deh, kasihan juga ya si bunglon ini. Nama besarnya dipakai buat konotasi yang agak negatif, padahal alasan dia berubah warna itu jauh lebih kompleks dan keren daripada sekadar urusan politik tongkrongan.
Selama ini, pemahaman kita soal bunglon mungkin mentok di buku pelajaran SD: bunglon berubah warna buat menyamar alias mimikri supaya nggak dimakan predator. Titik. Tapi tahu nggak? Ternyata anggapan itu nggak sepenuhnya bener, lho. Para ilmuwan sudah lama mengulik rahasia di balik kulit reptil unik ini, dan hasilnya cukup bikin kita geleng-geleng kepala. Berubah warna bagi bunglon itu bukan cuma soal sembunyi, tapi soal perasaan, suhu, dan bahkan urusan asmara.
Bukan Sulap, Bukan Sihir: Rahasia Kristal di Balik Kulit
Sebelum kita bahas "kenapa", kita bahas "gimana" dulu. Dulu, orang mikir kalau bunglon itu punya pigmen warna yang bisa mengalir ke sana kemari di bawah kulitnya, mirip kayak tinta pulpen yang tumpah. Tapi ternyata, mekanismenya jauh lebih canggih dari itu. Mereka punya sel khusus yang namanya iridophores.
Di dalam sel ini, ada kristal-kristal nano yang super kecil. Nah, bunglon ini bisa mengatur jarak antar kristal tersebut dengan cara meregangkan atau mengendurkan kulit mereka. Kalau jarak kristalnya berubah, cara mereka memantulkan cahaya juga berubah. Misalnya, kalau kristalnya rapat, mereka bakal memantulkan cahaya biru. Kalau kristalnya renggang, mereka bakal mantulin cahaya merah atau kuning. Jadi, secara teknis, bunglon itu kayak cermin berjalan yang bisa gonta-ganti filter Instagram secara real-time. Gila nggak tuh? Alam emang nggak ada lawan kalau soal teknologi.
Lagi Galau atau Lagi Marah? Liat Aja Warnanya
Nah, alasan utama bunglon berubah warna itu sebenarnya lebih ke arah komunikasi. Bayangkan bunglon itu kayak kita yang pakai baju hitam kalau lagi melow atau pakai baju cerah kalau lagi pengen tebar pesona. Bagi mereka, warna kulit adalah bahasa tubuh. Kalau lo lihat bunglon warnanya tiba-tiba jadi gelap atau kusam, itu tandanya dia lagi stres, takut, atau merasa terancam. Sebaliknya, kalau warnanya berubah jadi terang dan ngejreng, itu biasanya karena dia lagi emosi atau pengen pamer kekuatan.
Misalnya nih, ada dua bunglon jantan ketemu di satu dahan. Bukannya langsung baku hantam pakai tangan kosong, mereka bakal adu mekanik lewat warna kulit. Yang warnanya paling terang dan mencolok biasanya dianggap paling dominan atau paling berani. Yang kalah mental bakal berubah warnanya jadi lebih gelap dan kalem sebagai tanda menyerah. Mirip lah kayak kita yang kalau lagi malu mukanya langsung merah merona, bedanya bunglon bisa mengontrol "malu"-nya itu sampai ke seluruh badan.
Urusan Cinta yang Penuh Warna
Bukan cuma buat berantem, warna juga krusial banget buat urusan cari jodoh. Bunglon jantan bakal ngeluarin warna-warna paling estetik dan mencolok buat menarik perhatian betina. Ya, semacam pakai parfum paling mahal dan baju paling keren pas mau kencan pertama. Kalau si betina tertarik, dia bakal ngerespons. Tapi kalau si betina lagi nggak mood atau sudah punya pasangan, dia bakal berubah warna jadi gelap atau bintik-bintik tertentu sebagai kode halus—atau kasar—biar si jantan menjauh. "Maaf ya, kita temenan aja," versi bunglon itu lewat perubahan warna kulit. Nggak perlu pakai drama blokir WhatsApp.
AC Alami: Antara Panas dan Dingin
Selain soal perasaan, bunglon itu makhluk berdarah dingin (ektoterm). Artinya, mereka nggak bisa mengatur suhu tubuh dari dalam kayak kita manusia. Kalau kita kedinginan, kita menggigil; kalau kepanasan, kita keringatan. Bunglon? Mereka pakai warna kulit sebagai termostat.
Pagi-pagi pas matahari baru muncul dan udara masih dingin, bunglon biasanya bakal berubah warna jadi lebih gelap. Kenapa? Karena warna gelap itu lebih efektif menyerap panas matahari. Begitu matahari sudah di atas kepala dan suhu mulai bikin gerah, mereka bakal berubah jadi warna yang lebih terang buat memantulkan sinar matahari supaya badannya nggak overheat. Jadi, perubahan warna itu adalah cara mereka bertahan hidup secara fisik, bukan cuma visual. Praktis banget, kan? Nggak perlu beli jaket atau pasang AC.
Jadi, Apa Mereka Nggak Menyamar?
Terus, apa teori mimikri yang kita pelajari di sekolah itu salah? Nggak juga sih. Memang ada beberapa spesies bunglon yang warnanya secara alami sudah mirip banget sama lingkungan sekitarnya (kayak hijau daun atau cokelat batang pohon). Dan perubahan warna mereka memang bisa membantu mereka sedikit lebih "nge-blend" dengan latar belakang. Tapi intinya, fungsi utama mereka berubah warna itu bukan buat main petak umpet sama predator, tapi lebih ke respons internal terhadap lingkungan dan interaksi sosial.
Lucunya, kita manusia sering banget salah kaprah. Kita mengira mereka berubah warna biar nggak kelihatan, padahal seringkali mereka berubah warna jadi mencolok justru supaya "kelihatan" oleh musuh atau pasangannya. Ini adalah salah satu bukti kalau alam itu jauh lebih kompleks daripada apa yang tertulis di buku teks singkat.
Pelajaran Hidup dari Seekor Bunglon
Melihat fenomena bunglon ini, sebenarnya ada pesan moral yang bisa kita petik (halah, mulai deh). Bunglon berubah warna bukan karena mereka palsu atau nggak punya identitas. Mereka berubah warna justru untuk bertahan hidup, beradaptasi dengan suhu, dan jujur sama perasaannya sendiri. Kalau mereka lagi marah, ya mereka tunjukin lewat warna. Kalau mereka lagi butuh kehangatan, mereka menyesuaikan diri.
Mungkin kita juga perlu belajar sedikit dari bunglon. Bukan soal jadi orang yang bermuka dua ya, tapi soal kemampuan adaptasi. Dunia ini dinamis, suhu sosial sering berubah, dan tantangan hidup nggak pernah sama setiap harinya. Menjadi fleksibel dan tahu kapan harus menyesuaikan "warna" diri itu adalah skill bertahan hidup yang penting di zaman sekarang.
Jadi, lain kali kalau lo lihat bunglon di pohon atau di Discovery Channel, jangan cuma mikir "Oh, dia lagi nyamar." Coba perhatikan lebih detail. Siapa tahu dia lagi berusaha PDKT, atau mungkin dia lagi kepanasan dan butuh "adem-adem". Dan buat lo yang sering dipanggil bunglon sama temen-temen lo, santai aja. Bilang aja, "Gue bukannya nggak punya pendirian, gue cuma lagi termoregulasi dan menjaga komunikasi sosial yang efektif." Keren, kan?
Kesimpulannya, bunglon itu makhluk yang luar biasa. Di balik matanya yang bisa muter 360 derajat dan lidahnya yang secepat kilat, kemampuan mereka ganti warna adalah salah satu mahakarya evolusi yang paling estetik. Alam emang nggak pernah gagal bikin kita takjub, asalkan kita mau sedikit lebih teliti buat ngelihat melampaui apa yang kelihatan di permukaan.
Next News

Mengapa Bunglon Berubah Warna? Ketahui Penyebabnya
13 minutes ago

Mengapa Sulit Bangun Pagi? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
18 minutes ago

Festival Piala Presiden Grassroot 2026 Resmi Bergulir di Sumut, Diikuti Ratusan Pesepak Bola Usia Dini
30 minutes ago

Mengenal Bunga Rafflesia: Bunga Terbesar di Dunia yang Unik dan Langka
44 minutes ago

Bunga Matahari: Fakta Menarik, Manfaat, dan Alasan Selalu Menghadap Matahari
an hour ago

Mengapa Lebah Sangat Penting bagi Kehidupan? Ini Peran Besarnya bagi Manusia dan Alam
an hour ago

Mengapa Kuku Terus Tumbuh? Ini Penjelasan Ilmiah di Baliknya
an hour ago

Tubuh Berkeringat Meski Tak Berolahraga? Kenali Penyebabnya
13 hours ago

Mengapa Perut Berbunyi Saat Lapar? Ketahui Penyebab dan Faktanya
an hour ago

Sejarah Kalender Gregorian dan Alasan Februari Jadi Bulan Terpendek
7 hours ago





