Rabu, 29 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Fakta Unik! Alasan Ikan Laut Tidak Otomatis Asin Saat Ditangkap

Liaa - Wednesday, 29 April 2026 | 01:05 PM

Background
Fakta Unik! Alasan Ikan Laut Tidak Otomatis Asin Saat Ditangkap

Misteri Ikan Laut: Berenang di Kuah Asin Seumur Hidup, Tapi Kok Dagingnya Nggak Ikutan Asin?

Pernah nggak sih kamu lagi santai di pinggir pantai, terus nggak sengaja kena semprot air laut yang masuk ke mulut? Rasanya? Asin banget, sampai bikin haus seketika. Di saat itu juga, mungkin terlintas satu pertanyaan random bin filosofis di kepala: "Ini ikan-ikan di laut kan hidup, tidur, bahkan bernapas di dalam air yang kadar garamnya segambreng itu. Tapi kenapa pas kita tangkap terus kita masak, dagingnya nggak otomatis asin kayak air lautnya ya?"

Maksud saya begini, coba bayangkan kalau kamu merendam sepotong tahu atau tempe di air garam selama satu jam saja. Pas digoreng, rasanya pasti sudah asin sampai ke pori-pori terdalam. Nah, si ikan ini sudah ribuan tahun, dari zaman nenek moyangnya masih pakai celana monyet sampai sekarang, hidupnya di air asin. Logikanya kan mereka harusnya sudah jadi ikan asin alami tanpa perlu dijemur nelayan, kan? Tapi nyatanya, kalau kita mau makan ikan bakar di Jimbaran atau Muara Angke, kita tetap butuh garam tambahan biar rasanya nggak hambar.

Nah, buat kamu yang rasa penasarannya lebih tinggi daripada saldo rekening di akhir bulan, mari kita bedah secara santai kenapa fenomena "keajaiban dunia" ini bisa terjadi. Siapkan kopi atau es teh manis dulu, biar obrolannya makin mengalir.

Pertarungan Melawan Hukum Alam Bernama Osmosis

Dunia ini punya aturan main yang namanya osmosis. Buat yang dulu waktu pelajaran Biologi malah asyik main sosmed atau tidur di pojokan, tenang, saya jelasin simpelnya. Osmosis itu adalah kecenderungan cairan buat mengalir dari tempat yang konsentrasinya rendah ke tempat yang konsentrasinya tinggi. Tujuannya? Biar seimbang atau istilah kerennya equilibrium.

Nah, air laut itu punya kadar garam yang jauh lebih tinggi daripada cairan di dalam tubuh ikan. Secara hukum alam, air di dalam tubuh ikan seharusnya "tertarik" keluar menuju laut yang lebih asin, dan garam dari laut seharusnya "memaksa" masuk ke dalam tubuh ikan. Kalau ikan diam saja tanpa perlawanan, mereka bakal mengalami dehidrasi parah meskipun hidup di tengah lautan luas. Ibaratnya, mereka bakal mengkerut kayak kerupuk yang kelamaan kena angin.



Tapi untungnya, ikan bukan benda mati kayak tahu atau tempe tadi. Mereka punya mekanisme pertahanan yang luar biasa canggih yang disebut osmoregulasi. Ini adalah cara ikan buat menjaga agar kadar garam di tubuh mereka tetap stabil, nggak peduli seberapa "brutal" kadar garam di lingkungan sekitar mereka.

Ikan Laut Itu "Pabrik Desalinasi" Berjalan

Cara kerja ikan laut buat tetap tawar itu sebenarnya cukup melelahkan kalau dipikir-pikir. Pertama, karena air di tubuh mereka terus-menerus tersedot keluar akibat osmosis tadi, ikan laut itu sebenarnya kehausan sepanjang waktu. Jadi, mereka memang minum air laut dalam jumlah yang banyak banget. Tapi tunggu dulu, kalau mereka minum air laut, bukannya malah makin banyak garam yang masuk?

Di sinilah letak kejeniusan desain alam. Ikan laut punya sel khusus di insang mereka yang namanya sel klorida. Sel ini fungsinya kayak satpam galak di kelab malam. Dia bakal menyaring garam yang masuk lewat air minum tadi, lalu membuangnya kembali ke laut secara aktif. Jadi, airnya masuk ke perut, tapi garamnya langsung "ditendang" keluar lewat insang.

Nggak cuma lewat insang, ginjal ikan laut juga bekerja ekstra keras. Mereka memproses sisa-sisa garam di dalam tubuh dan mengeluarkannya lewat urine yang konsentrasinya sangat pekat. Volume urinenya sedikit, tapi kandungan sampahnya (garam) luar biasa tinggi. Dengan kombinasi filter di insang dan kerja keras ginjal, kadar garam di dalam daging ikan tetap terjaga di angka sekitar satu persen saja. Jauh di bawah kadar garam air laut yang rata-rata mencapai 3,5 persen.

Kenapa Daging Ikan Tetap Terasa Gurih?

Meskipun nggak asin, daging ikan laut itu punya cita rasa yang khas dan cenderung lebih gurih dibanding ikan air tawar. Ternyata, ini ada hubungannya dengan cara mereka menyeimbangkan tekanan di dalam sel. Supaya sel mereka nggak rusak karena tekanan dari luar, ikan laut menyimpan banyak asam amino dan senyawa organik di dalam jaringan ototnya. Salah satu yang paling terkenal adalah trimetilamina oksida (TMAO).



Senyawa ini berfungsi sebagai penyeimbang tanpa harus bikin daging jadi asin. Nah, TMAO inilah yang memberikan aroma "laut" yang khas. Namun, hati-hati ya, kalau ikan sudah mulai nggak segar, TMAO ini bakal berubah jadi trimetilamina (TMA), yang baunya amis banget dan menusuk hidung. Jadi kalau ikan di pasar sudah bau amis yang nggak enak, itu tandanya sistem kimianya sudah kacau karena sudah terlalu lama mati.

Jadi, secara teknis, ikan laut itu punya sistem penyaringan air sendiri yang lebih hebat daripada alat filter air mahal yang ada di dapur-dapur rumah mewah. Mereka melakukan desalinasi alias pemisahan garam dari air secara otomatis selama mereka masih hidup dan bernapas.

Nasib Ikan yang "Kalah" Sama Garam

Lalu, kenapa ada ikan asin? Ya itu mah beda cerita, kawan. Ikan asin itu ikan yang sudah mati, lalu dibelah dan ditaburi garam dalam jumlah masif oleh tangan manusia. Pas ikan sudah mati, sistem osmoregulasi yang kita bahas tadi otomatis berhenti berfungsi. Sel-sel tubuh ikan nggak punya lagi "satpam" buat menendang keluar garam.

Akibatnya, garam masuk tanpa hambatan, menarik keluar semua air dari dalam daging ikan sampai kering, dan akhirnya jadilah ikan asin yang enak dimakan pakai sambal terasi dan sayur asem itu. Jadi, kuncinya ada pada kehidupan. Selama ikan itu hidup, dia punya kendali penuh atas rasa dagingnya sendiri.

Pelajaran Hidup dari Seekor Ikan

Kalau kita mau sedikit melankolis atau sok bijak, sebenarnya fenomena ikan laut ini punya pesan moral yang cukup dalam buat kehidupan kita sehari-hari. Ikan laut mengajarkan kita bahwa kita bisa hidup di lingkungan yang "keras", "pahit", atau "asin" sekalipun, tanpa harus terpengaruh dan ikutan jadi asin.



Bayangkan lingkungan laut itu sebagai pengaruh buruk di luar sana. Ikan tetap menjadi dirinya sendiri, tetap tawar dan bermanfaat, meskipun sekelilingnya menawarkan rasa asin yang bisa merusak. Mereka punya sistem filter internal yang kuat. Kita pun harusnya begitu; punya prinsip yang kuat biar nggak gampang kebawa arus lingkungan yang kadang nggak sehat.

Tapi ya sudahlah, nggak usah kejauhan mikir ke sana. Yang jelas, sekarang kamu sudah tahu kalau ikan laut itu bukan berarti ikan yang sudah dibumbui secara alami dari alam. Mereka adalah pejuang dehidrasi yang sangat disiplin menjaga keseimbangan cairan tubuhnya.

Jadi, besok-besok kalau lagi makan ikan bakar dan rasanya kurang asin, jangan komplain ke lautnya ya. Komplainlah ke tukang bakarnya karena mungkin mereka lupa kasih bumbu olesan atau garam saat proses pembakaran. Karena secara kodrat, ikan laut itu memang tawar, setawar janji-janji manis mantan yang nggak pernah terealisasi. Selamat makan ikan!