Senin, 20 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Regional & Nasional

Evaluasi Diplomasi 95 Hari Prabowo: Antara Investasi Strategis dan Kritik Efisiensi

Nanda - Monday, 20 April 2026 | 03:40 PM

Background
Evaluasi Diplomasi 95 Hari Prabowo: Antara Investasi Strategis dan Kritik Efisiensi

Nyaris 100 Hari Lawatan Luar Negeri Presiden Prabowo Disorot

Durasi waktu selama 95 hari telah dihabiskan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan rangkaian kunjungan kenegaraan ke berbagai belahan dunia. Sejak periode November 2024 hingga April 2026, sebanyak 49 kali perjalanan dinas ke 28 negara tercatat telah ditempuh oleh kepala negara.

Capaian Investasi dan Kerja Sama Ekonomi

Berbagai hasil konkret diklaim telah diraih melalui serangkaian lawatan tersebut. Data dari Sekretariat Kabinet menunjukkan bahwa sejumlah komitmen besar berhasil disepakati:

Sektor Energi dan Infrastruktur: Kerja sama bisnis senilai Rp35 triliun berhasil dijalin antara Danantara dengan Russian Direct Investment Fund (RDIF) untuk pengembangan energi terbarukan.

Sektor Maritim: Investasi sebesar Rp90 triliun disepakati dengan Britania Raya, yang di dalamnya mencakup pembangunan 1.500 kapal nelayan di dalam negeri.

Manufaktur dan Teknologi: Perjanjian bisnis dengan valuasi mencapai Rp575 triliun berhasil diamankan melalui kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan.



Negosiasi Tarif: Tarif dagang dari Amerika Serikat yang semula dipatok sebesar 32% berhasil ditekan hingga menjadi 19% melalui proses diplomasi.

Keamanan Energi dan Jalur Logistik

Tujuan utama dari intensitas kunjungan yang tinggi ini ditegaskan sebagai upaya pengamanan kepentingan nasional. Di tengah hambatan pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz, langkah-langkah diplomasi diambil guna memastikan kebutuhan energi dalam negeri tidak terganggu. Kepentingan bangsa diposisikan sebagai alasan utama di balik aktivitas mancanegara yang padat tersebut.

Sorotan dan Kritik Pakar Hubungan Internasional

Meski komitmen investasi terus diumumkan, berbagai catatan kritis diajukan oleh para akademisi. Prinsip politik luar negeri "bebas aktif" dinilai oleh sebagian pakar mulai kehilangan titik pijak yang kokoh.

Keputusan Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace (Dewan Perdamaian) bentukan Donald Trump di Gaza menjadi salah satu poin yang dipertanyakan. Melalui partisipasi tersebut, posisi Indonesia dinilai tidak lagi leluasa dalam melontarkan kritik terhadap kebijakan Amerika Serikat. Selain itu, kecenderungan diplomasi yang bersifat sangat individualistik dan bertumpu pada hubungan bilateral dianggap perlu dikaji ulang efektivitasnya terhadap pemasukan APBN.

Citra Kepemimpinan di Panggung Dunia

Karakter kepemimpinan yang kuat terlihat berusaha dibangun melalui kehadiran langsung dalam berbagai parade militer dan forum internasional. Kehadiran tersebut disejajarkan dengan para pemimpin dunia lainnya seperti Xi Jinping dan Vladimir Putin. Penempatan Sugiono sebagai Menteri Luar Negeri juga dipandang sebagai langkah strategis agar kebijakan luar negeri dapat dikendalikan sepenuhnya di bawah arahan langsung presiden.



Hingga saat ini, anggaran kunjungan luar negeri yang sepenuhnya ditanggung oleh APBN terus menjadi objek pemantauan publik. Efektivitas antara biaya yang dikeluarkan dengan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat luas tetap menjadi indikator utama keberhasilan diplomasi ini.