Minggu, 31 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bumi Terlalu Sesak: Studi Ungkap Populasi Ideal Manusia Hanya 2,5 Miliar Jiwa

Tata - Thursday, 07 May 2026 | 09:52 AM

Background
Bumi Terlalu Sesak: Studi Ungkap Populasi Ideal Manusia Hanya 2,5 Miliar Jiwa

Krisis Overpopulasi dan Limitasi Sumber Daya

Tim peneliti dari Flinders University, Australia, merilis temuan yang mengkhawatirkan: populasi manusia saat ini telah jauh melampaui kapasitas planet Bumi untuk menopang kehidupan secara berkelanjutan. Jika pola konsumsi sumber daya alam terus berlanjut tanpa perubahan signifikan, ancaman terhadap stabilitas sosial dan lingkungan akan semakin nyata di masa depan.

Berdasarkan analisis data dari tahun 1000 M hingga saat ini, keseimbangan antara kebutuhan manusia dan regenerasi alam mulai goyah pasca-Perang Dunia II. Sejak tahun 1950-an, lonjakan penduduk (boomer) mulai memutus siklus di mana kemajuan teknologi biasanya dapat mengimbangi permintaan pangan dan energi.

Fase Negatif Demografis dan Bahan Bakar Fosil

Sejak tahun 1962, dunia memasuki fase "negatif demografis", yakni kondisi di mana pertumbuhan jumlah penduduk tidak lagi berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi yang sehat. Meski laju pertumbuhan melambat, populasi dunia diprediksi akan mencapai puncaknya pada akhir 2060-an atau 2070-an dengan angka 11,7 hingga 12,4 miliar jiwa.

Faktor utama yang menyamarkan kerusakan alam ini adalah penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak, dan gas). Sumber daya ini telah memicu produksi pangan dan industri secara masif, namun sifatnya terbatas. Para ilmuwan memperingatkan bahwa ketergantungan pada energi fosil hanyalah solusi jangka pendek yang menutupi tanda-tanda kerusakan ekologis.

Mencari Titik Keseimbangan Baru

Agar manusia dapat hidup stabil dalam jangka panjang tanpa merusak batas-batas ekologi, peneliti menghitung bahwa Bumi sebenarnya hanya mampu menampung sekitar 2,5 miliar orang.



Meskipun angka ini memicu perdebatan di kalangan ilmuwan lain—yang percaya teknologi dapat meningkatkan daya tampung Bumi—penulis studi menekankan bahwa fokus utama bukanlah pengendalian populasi secara ekstrem. Sebaliknya, yang mendesak adalah transformasi radikal dalam cara manusia mengelola lahan, air, material, dan energi demi menjaga keberlangsungan ekosistem global bagi generasi mendatang.