Minggu, 1 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Serba Serbi Ramadhan

Berburu Gorengan dan Es Buah: Serunya War Takjil di Bulan Puasa

Tata - Saturday, 28 February 2026 | 04:25 PM

Background
Berburu Gorengan dan Es Buah: Serunya War Takjil di Bulan Puasa

Waspada 'War' Takjil: Jangan Sampai Buka Puasa Malah Berujung Petaka

Ramadan tahun ini rasanya makin seru dengan tren "war takjil" yang lagi ramai di media sosial. Dari yang muda sampai yang tua, bahkan teman-teman non-muslim pun nggak mau ketinggalan berburu gorengan atau es buah sejak jam 3 sore. Memang sih, melihat barisan pedagang dengan warna-warni makanan yang menggoda mata itu rasanya seperti melihat oase di tengah padang pasir. Estetik banget buat di-update di Instagram Story.

Tapi, di balik keseruan berburu takjil yang "cakep" secara visual itu, ada satu hal yang sering kita lupakan: keamanan pangan. Nggak semua yang terlihat glowing itu sehat, lho. Kadang, warna pink yang menyala banget atau bakso yang teksturnya kenyal abis itu bukan hasil keajaiban resep rahasia, melainkan campur tangan bahan kimia yang seharusnya nggak masuk ke perut manusia. Jadi, sebelum kamu kalap borong semua dagangan di pinggir jalan, yuk kita bedah gimana caranya membedakan takjil yang murni enak dengan takjil yang mengandung "bumbu" berbahaya.

Warna 'Neon' yang Terlalu Mencolok

Pernah nggak sih kamu melihat es delima atau sirup yang warnanya pink terang banget sampai hampir terlihat neon? Atau kue mangkok yang kuningnya benar-benar tajam? Secara psikologis, warna cerah memang menggugah selera. Tapi kalau warnanya sudah nggak masuk akal alias terlalu mencolok, kamu wajib curiga. Biasanya, pedagang nakal menggunakan Rhodamin B (pewarna tekstil merah) atau Metanil Yellow (pewarna kuning untuk cat atau kertas).

Ciri khas pewarna tekstil ini biasanya meninggalkan bekas di tenggorokan. Kalau setelah minum es kamu merasa tenggorokan gatal atau ada rasa pahit yang tertinggal (aftertaste), itu fiks bukan pewarna makanan alami. Selain itu, pewarna buatan ini biasanya nggak merata dan meninggalkan bintik-bintik warna yang nggak larut sempurna. Jadi, kalau warnanya kelihatan "nge-jreng" banget sampai bikin mata silau, mending cari lapak sebelah aja deh.

Tekstur Kenyal yang 'Gak Normal'

Siapa sih yang nggak suka bakso, siomay, atau tahu yang teksturnya kenyal? Tapi ada batasannya antara kenyal alami dari tepung tapioka dengan kenyal yang "ajaib" karena tambahan Boraks. Boraks atau yang sering disebut pijer ini sering disalahgunakan supaya makanan lebih awet dan punya tekstur yang membal kayak bola karet.



Gimana cara mengenalinya? Coba kamu lempar sedikit ke meja (oke, ini agak ekstrem, tapi efektif). Kalau dia membalnya nggak wajar, kamu patut waspada. Selain itu, tahu yang mengandung formalin atau boraks biasanya nggak mudah hancur dan punya masa simpan yang nggak masuk akal. Tahu normal itu biasanya kalau ditaruh di suhu ruang selama seharian bakal mulai bau asam atau berlendir. Kalau tahu jualan si abang tetap kokoh dan "segar" meskipun sudah dipajang dari siang sampai malam di pinggir jalan yang panas, itu jelas ada yang nggak beres.

Aroma yang Menipu dan Absennya Lalat

Ini adalah tips paling klasik yang sering diajarkan orang tua kita: lihat lalatnya. Lalat, meskipun kita anggap sebagai hewan yang jorok, ternyata punya insting yang kuat soal bahan kimia. Lalat biasanya ogah hinggap di makanan yang mengandung formalin tinggi. Jadi kalau kamu melihat deretan ikan asin atau tahu yang terbuka lebar tapi nggak ada satu pun lalat yang berani mendekat, bisa jadi itu karena kandungan pengawetnya terlalu keras sampai serangga pun takut.

Selain itu, perhatikan aromanya. Makanan yang segar harusnya punya aroma khas bahan bakunya. Gorengan ya bau tepung dan minyak, tahu ya bau kedelai. Kalau aromanya malah tajam seperti obat atau nggak ada aromanya sama sekali (plain banget), itu pertanda kuat adanya penggunaan bahan kimia. Formalin punya aroma yang sangat spesifik dan menusuk kalau digunakan dalam dosis tinggi.

Kenapa Kita Harus Peduli?

Mungkin kamu mikir, "Ah, cuma makan dikit doang, nggak bakal kenapa-napa." Masalahnya, bahan kimia kayak boraks, formalin, dan pewarna tekstil itu sifatnya akumulatif. Mereka nggak langsung bikin kamu pingsan hari itu juga (kecuali kalau kamu alergi parah), tapi mereka bakal menumpuk di organ tubuh, terutama hati dan ginjal. Dalam jangka panjang, ini bisa jadi pemicu kanker alias karsinogenik.

Lagipula, niat kita puasa kan buat sehat lahir batin. Sayang banget kalau seharian sudah menahan lapar dan haus, tapi pas buka malah memasukkan "racun" ke tubuh. Alih-alih dapat pahala dan tubuh yang fit, malah jadi langganan apotek.



Tips Menjadi Hunter Takjil yang Smart

Bukannya mau bikin kamu parno dan berhenti jajan takjil, ya. Jajan takjil itu sudah jadi budaya yang seru banget. Tapi, jadilah pembeli yang cerdas. Berikut beberapa tips singkatnya:

  • Cari Langganan Tetap: Kalau sudah nemu pedagang yang masakannya jujur dan rasanya enak natural, mending langganan di situ terus.
  • Perhatikan Kebersihan Lapak: Biasanya, pedagang yang peduli sama kebersihan tempat jualan juga lebih peduli sama kualitas bahan makanan yang mereka pakai.
  • Pilih Warna yang Kalem: Takjil dengan warna alami (seperti hijau dari pandan atau merah dari gula jawa) memang nggak se-estetik warna neon, tapi jauh lebih aman buat perut.
  • DIY Takjil: Kalau punya waktu, bikin takjil sendiri di rumah itu paling aman. Selain lebih hemat, kamu bisa kontrol sendiri apa yang masuk ke dalam panci kamu.

Akhir kata, selamat melanjutkan "war" takjil buat teman-teman semua. Tetap semangat puasanya, tetap seru-seruan cari jajanan, tapi jangan lupa buat selalu pasang mata dan pakai logika sebelum membeli. Jangan sampai tergoda penampilan luar yang glowing tapi ternyata isinya bikin boncos kesehatan. Stay safe and happy breakfasting!