Rabu, 25 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Serba Serbi Ramadhan

Berbuka dengan Gorengan, Emang Boleh?

Liaa - Wednesday, 25 February 2026 | 09:55 AM

Background
Berbuka dengan Gorengan, Emang Boleh?

Gorengan: Takjil Sejuta Umat yang Bikin Dilema, Enak tapi Kok Gini Amat?

Bayangkan suasananya jam menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit. Langit mulai berubah warna jadi oranye estetik, dan di pinggir jalan, aroma gurih mulai menusuk hidung. Di depan mata, ada abang-abang yang lagi sibuk membolak-balikkan bakwan, tahu isi, tempe mendoan, sampai pisang goreng yang warnanya kuning keemasan. Godaan ini jujurly lebih berat daripada nungguin balasan chat dari gebetan yang cuma di-read doang.

Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, berbuka puasa tanpa gorengan itu rasanya kayak ada yang hilang. Ibarat nonton konser tapi nggak ada sound system-nya hambar. Gorengan sudah jadi kasta tertinggi dalam piramida takjil. Murah, gampang dicari, dan tekstur krispinya itu lho, yang selalu berhasil bikin kita khilaf. Tapi, di balik kenikmatan yang haqiqi itu, terselip sebuah pertanyaan besar yang sering kita abaikan demi kepuasan lidah: bolehkah sebenarnya berbuka dengan gorengan? Dan apa sih dampaknya buat badan kita yang sudah "istirahat" seharian?

Mari kita bicara jujur. Secara medis, berbuka dengan gorengan itu sebenarnya masuk kategori "boleh tapi sangat tidak disarankan." Kenapa? Karena saat kita berpuasa selama belasan jam, perut kita itu kosong dan sistem pencernaan sedang dalam mode istirahat. Begitu adzan maghrib berkumandang, perut kita butuh sesuatu yang lembut dan mudah diserap untuk mengembalikan energi. Nah, gorengan yang penuh minyak dan tepung ini justru sifatnya berkebalikan.

Dampak pertama yang paling langsung terasa adalah rasa begah atau kembung. Kamu pasti pernah kan, habis makan dua bakwan dan segelas es teh manis, tiba-tiba perut rasanya penuh banget sampai mau shalat maghrib aja rasanya berat? Itu karena lemak dalam gorengan butuh waktu lama buat dicerna. Lambung yang tadinya mengerut kaget karena tiba-tiba harus kerja keras mengolah minyak. Belum lagi kandungan tepung terigu yang tinggi karbohidrat sederhana, bikin gula darah melonjak drastis lalu turun dengan cepat, yang akhirnya bikin kita malah merasa lemas setelah makan.

Masalah berikutnya adalah soal kualitas minyaknya. Kita semua tahu, gorengan pinggir jalan yang rasanya "nagih" banget itu biasanya digoreng pakai minyak yang sudah dipakai berkali-kali sampai warnanya hitam pekat. Dalam bahasa kerennya, minyak ini sudah mengandung banyak lemak trans dan radikal bebas. Lemak trans inilah yang jadi biang kerok kolesterol jahat (LDL) naik. Kalau kebiasaan ini diteruskan selama sebulan penuh, jangan kaget kalau pas lebaran nanti, bukan cuma baju baru yang nambah, tapi kadar kolesterol juga ikut "lebaran".



Selain soal perut dan kolesterol, gorengan juga bisa memicu masalah tenggorokan. Pernah ngerasa tenggorokan gatal atau serak setelah beberapa hari puasa? Bisa jadi itu karena iritasi dari kandungan lemak dan suhu minyak pada gorengan. Apalagi kalau pas buka kita langsung menghajar gorengan panas-panas. Kombinasi minyak dan panas ini adalah kombinasi maut buat mukosa tenggorokan kita. Alhasil, niatnya mau ibadah lancar, malah jadi batuk-batuk pas tarawih.

Namun, hidup kan nggak harus sekaku itu. Kita nggak perlu jadi anti-gorengan garis keras sampai-sampai musuhan sama abang penjualnya. Kuncinya ada di moderasi dan strategi. Kalau kamu memang nggak bisa hidup tanpa gorengan saat berbuka, coba deh pakai aturan "satu saja cukup". Jangan langsung kalap beli sepuluh ribu dapat lima terus dihabiskan sendiri. Mulailah dengan minum air putih hangat dan makan kurma terlebih dahulu. Kurma mengandung serat dan gula alami yang pelan-pelan menyiapkan lambung kamu sebelum menerima "serangan" gorengan tadi.

Alternatif lainnya, kalau kamu punya waktu lebih, coba bikin gorengan sendiri di rumah. Dengan bikin sendiri, kamu bisa mengontrol kualitas minyaknya. Gunakan minyak yang baru, atau kalau mau lebih sehat lagi, pakai air fryer. Memang sih, rasanya mungkin nggak se-berdosa gorengan pinggir jalan yang minyaknya melimpah, tapi setidaknya jantung dan lambung kamu bakal berterima kasih di masa depan.

Sebagai pengamat budaya jajan, saya melihat gorengan ini sudah jadi bagian dari identitas sosial kita. Kita senang berkumpul, berbagi sekantong gorengan sambil nunggu adzan. Tapi ingat, esensi puasa adalah menahan diri. Kalau kita berhasil menahan lapar dan haus seharian, masa kita kalah sama godaan bakwan satu biji? Jangan sampai kenikmatan sesaat di lidah malah bikin kita tumbang di tengah jalan sebelum mencapai hari kemenangan.

Kesimpulannya, berbuka dengan gorengan itu boleh-boleh saja asal tahu batasan. Jangan jadikan gorengan sebagai menu utama, tapi jadikan sebagai pelengkap saja. Perbanyak minum air putih dan imbangi dengan buah-buahan supaya nutrisi yang masuk ke tubuh tetap seimbang. Tetap jaga kesehatan, supaya nanti pas lebaran bisa makan opor dan rendang dengan tenang tanpa drama asam lambung naik. Jadi, sore ini mau beli gorengan berapa biji, nih? Satu aja ya, inget kesehatan!