Jumat, 10 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Berat Badan Bayi Susah Naik? Waspada Gejala Penyakit Jantung Bawaan

Tata - Friday, 10 April 2026 | 06:40 PM

Background
Berat Badan Bayi Susah Naik? Waspada Gejala Penyakit Jantung Bawaan

Berat Badan Bayi Seret? Jangan-Jangan Si Kecil Lagi Kasih Kode Soal Jantungnya

Pernah nggak sih, lagi asyik scrolling media sosial, terus tiba-tiba lewat video bayi yang pipinya tumpah-tumpah alias gembul banget? Sebagai orang tua, atau calon orang tua, pasti ada perasaan gemas sekaligus sedikit rasa "iri" dalam hati. Kita pun otomatis melirik ke arah anak sendiri yang mungkin badannya nggak segempal itu. Padahal, urusan makan sudah diperjuangkan habis-habisan. Dari mulai MPASI yang menunya sudah kayak restoran bintang lima sampai drama kejar-kejaran pakai sendok, tapi kok timbangannya kayak lagi mogok kerja?

Nah, di momen inilah biasanya para orang tua mulai overthinking. Apakah ini karena genetik? Apa karena susunya nggak cocok? Atau jangan-jangan, anak saya memang tipe yang "langsing" dari sananya? Memang sih, pertumbuhan tiap anak itu unik dan nggak bisa disamaratakan. Tapi, ada satu hal yang seringkali luput dari radar kita: pertumbuhan yang lambat atau berat badan yang susah naik—yang sering disebut failure to thrive—bisa jadi merupakan kode keras atau gejala tersembunyi dari Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Kenapa Jantung Bisa Bikin Pertumbuhan Jadi "Lambat"?

Mungkin banyak yang bingung, apa hubungannya pompa darah sama timbangan berat badan? Analoginya sederhana saja. Bayangkan jantung itu adalah mesin dari sebuah mobil. Kalau mesinnya punya masalah, misalnya ada kebocoran atau ada komponen yang nggak pas, maka mesin itu harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras supaya mobilnya tetap bisa jalan. Nah, kerja keras mesin ini butuh bahan bakar (kalori) yang jauh lebih banyak daripada mobil normal.

Pada bayi dengan PJB, jantung mereka bekerja sangat ekstra hanya untuk memastikan oksigen tersalurkan ke seluruh tubuh. Masalahnya, energi atau kalori yang seharusnya dipakai untuk pertumbuhan—seperti buat nambah tinggi badan, nambah massa otot, atau bikin pipi jadi gembul—malah habis dipakai cuma buat "napas" dan "bertahan hidup". Jadi, meskipun asupan nutrisinya sudah cukup menurut standar umum, buat bayi dengan masalah jantung, jumlah itu tetap kurang. Mereka selalu dalam mode defisit kalori karena "mesin" mereka terlalu boros energi.

Gejala yang Sering Dianggap "Biasa Saja"

Banyak orang tua yang baru menyadari ada masalah ketika anak mereka sudah menunjukkan gejala yang agak berat. Padahal, tubuh bayi itu komunikator yang hebat kalau kita tahu cara membacanya. Selain berat badan yang jalan di tempat, ada beberapa tanda lain yang biasanya menemani:



  • Ngos-ngosan Saat Menyusu: Ini gejala yang paling sering muncul. Bayangkan kamu disuruh makan sambil lari maraton. Capek banget, kan? Begitu juga bayi PJB. Mereka sering berhenti menyusu untuk ambil napas, berkeringat jagung di dahi padahal ruangan sejuk, atau bahkan sampai tertidur karena kelelahan saking beratnya usaha mereka untuk menghisap susu.
  • Warna Kebiruan (Sianosis): Kadang ini nggak terlalu kelihatan jelas. Coba cek area bibir, lidah, atau ujung kuku. Kalau warnanya agak kebiruan atau gelap, terutama saat si kecil menangis atau beraktivitas, itu tandanya kadar oksigen di darahnya lagi nggak beres.
  • Gampang Sakit: Bayi dengan PJB biasanya punya daya tahan tubuh yang lebih ringkih. Mereka lebih gampang kena infeksi saluran pernapasan kayak batuk atau pilek yang lama sembuhnya.
  • Napas Cepat: Bahkan saat tidur, napasnya terlihat buru-buru. Dada mereka tampak bergerak naik-turun dengan kencang seolah-olah habis olahraga berat.

Opini: Jangan Terjebak Stigma "Anak Kurus Pasti Kurang Gizi"

Di masyarakat kita, ada stigma yang agak menyakitkan buat para ibu: kalau anaknya kurus, berarti ibunya nggak pintar kasih makan. Opini ini seringkali bikin orang tua merasa gagal dan akhirnya cuma fokus gonta-ganti menu MPASI atau nambah vitamin nafsu makan, tanpa curiga ada masalah medis yang lebih serius di baliknya. Padahal, mau dikasih suplemen sebanyak apa pun, kalau akar masalahnya adalah jantung yang bocor atau penyempitan pembuluh darah, timbangannya tetap akan susah naik.

Kita perlu mulai menormalisasi untuk melakukan medical check-up yang lebih mendalam kalau grafik pertumbuhan anak di buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) mulai menunjukkan tanda "kuning" atau melandai. Jangan cuma mentok di diagnosis "susah makan". Memang sih, dengar kata "penyakit jantung" itu rasanya kayak disambar petir di siang bolong. Seram banget. Tapi, kabar baiknya adalah teknologi medis zaman sekarang sudah sangat canggih.

Deteksi Dini Adalah Kunci

Penyakit Jantung Bawaan itu bukan akhir dari segalanya. Banyak kok kasus PJB yang kalau ketahuan sejak dini, penanganannya jauh lebih simpel dan hasilnya sangat memuaskan. Ada yang bisa sembuh hanya dengan prosedur kateterisasi tanpa perlu bedah terbuka, ada juga yang memang butuh operasi tapi setelah itu pertumbuhan anak langsung "balap" alias ngebut mengejar ketertinggalannya.

Kuncinya cuma satu: peka. Kalau merasa ada yang "off" dengan pola napas dan pertumbuhan anak, jangan ragu buat minta rujukan ke dokter spesialis jantung anak (pediatric cardiologist). Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, mendengarkan bising jantung (murmur) pakai stetoskop, dan kalau perlu dilakukan ekokardiografi atau USG jantung. Prosedurnya nggak sakit kok, persis kayak USG saat hamil dulu.

Kesimpulan

Jadi, buat kalian para orang tua yang lagi galau gara-gara berat badan anak nggak kunjung naik, take a deep breath. Jangan langsung menyalahkan diri sendiri atau terobsesi bikin anak gembul demi validasi orang lain. Fokuslah pada kualitas kesehatan organ dalamnya. Pertumbuhan yang lambat itu adalah cara tubuh si kecil berbisik bahwa ada sesuatu yang butuh perhatian lebih.



PJB mungkin terdengar menakutkan, tapi ketidaktahuan jauh lebih berbahaya. Dengan deteksi dini, kita memberikan kesempatan bagi si kecil untuk punya jantung yang kuat, supaya nantinya mereka bisa lari-larian dengan bebas tanpa perlu ngos-ngosan lagi. Yuk, lebih peduli dengan setiap detail perkembangan anak, karena setiap gram yang bertambah dan setiap detak jantung yang sehat adalah investasi masa depan mereka.