Batuk 100 Hari , Bukan Mitos.
RAU - Wednesday, 04 March 2026 | 05:06 AM


Suara batuk yang tak henti-henti, terutama di malam hari, sering membuat orang tua cemas. Awalnya tampak seperti flu ringan. Pilek. Demam tipis. Batuk kecil. Namun perlahan, batuk itu berubah menjadi serangan panjang yang membuat dada sesak dan tubuh lemas.
Itulah yang dikenal sebagai Pertussis, atau batuk rejan — penyakit yang sering dijuluki "batuk 100 hari" karena durasinya bisa mencapai dua hingga tiga bulan.
Apa Penyebabnya?
Pertusis disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Bakteri ini menyerang saluran pernapasan dan menghasilkan toksin yang merusak lapisan pelindung saluran napas.
Menurut penjelasan dari World Health Organization, infeksi ini sangat menular dan menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin.
Yang membuatnya berbeda dari batuk biasa adalah fase penyakitnya:
••Fase awal (1–2 minggu)
Gejala ringan seperti flu: pilek, batuk ringan, demam rendah.
••Fase paroksismal (2–6 minggu atau lebih)
Batuk menjadi sangat hebat, terjadi berulang-ulang tanpa jeda.
Pada anak-anak sering terdengar bunyi "whoop" saat menarik napas setelah batuk panjang.
Tidak jarang sampai muntah atau wajah memerah karena kekurangan oksigen sementara.
••Fase pemulihan
Batuk perlahan berkurang, tetapi bisa tetap sensitif berminggu-minggu.
Kenapa Batuknya Bisa Selama Itu?
Ahli penyakit infeksi menjelaskan bahwa toksin dari bakteri membuat refleks batuk menjadi sangat sensitif.
Meskipun antibiotik dapat membunuh bakterinya, kerusakan dan sensitivitas saluran napas dapat bertahan lama. Itulah sebabnya batuk tetap ada meski infeksi sudah teratasi.
Pada bayi, pertusis bisa sangat berbahaya karena:
Bisa menyebabkan henti napas sementara (apnea), pneumonia, Kejang, bahkan komplikasi fatal.
Data dari WHO menunjukkan bayi di bawah 6 bulan adalah kelompok paling rentan terhadap komplikasi berat.
Bukankah Sudah Ada Vaksin?
Ada. Vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) sudah lama menjadi bagian imunisasi dasar anak.
Namun ada beberapa hal penting:
-Kekebalan bisa menurun seiring waktu
-Remaja dan orang dewasa tetap bisa tertular
-Mereka bisa menjadi pembawa dan menularkan ke bayi
WHO merekomendasikan booster pertusis untuk ibu hamil agar antibodi dapat ditransfer ke bayi sejak dalam kandungan.
Apakah Semua Batuk Lama Itu Pertusis?
Tidak.
Batuk lebih dari 3 minggu bisa juga disebabkan oleh Infeksi virus berkepanjangan, Asma,Alergi,Refluks asam lambung, atau Paparan polusi.
Karena itu, batuk yang tidak membaik sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk diagnosis yang tepat.
Batuk 100 hari bukan mitos. Ia nyata, menular, dan bisa berbahaya — terutama bagi anak-anak kecil.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, kadang kita menganggap batuk hanyalah gangguan kecil. Namun pada beberapa kasus, ia adalah sinyal tubuh yang perlu perhatian lebih.
Mengenali gejalanya, menjaga imunisasi tetap lengkap, dan tidak menunda pemeriksaan adalah bentuk perlindungan sederhana — tapi sangat berarti.
Next News

Apakah Manusia Bisa Hidup di Planet Mars?
7 hours ago

Kota yang Tidak Pernah Gelap di Musim Panas: Fenomena Midnight Sun
7 hours ago

Kenapa Nyamuk Lebih Suka Menggigit Orang Tertentu?
11 hours ago

10 Trik Kecil yang Berdampak Besar Bagi Produktivitas dan Ketenangan Mental
11 hours ago

7 Kebiasaan Sehari-hari yang Tanpa Disadari Bisa Meningkatkan Risiko Kanker
11 hours ago

Shizuoka: Kota Cantik di Jepang yang Sering Terlupakan Wisatawan
in 28 minutes

Cara Bikin Nastar Lembut, Bukan Keras Seperti Kelereng
in 23 minutes

5 Area Rumah yang Wajib Dicek sebelum Ditinggal Mudik agar Perjalanan Lebih Tenang
in 18 minutes

Haruskah Memberi THR ke Keponakan Tiap Tahun? Ini Hal yang Perlu Dipertimbangkan
in 13 minutes

Cara Jaga Lambung Tetap Sehat Selama Bulan Ramadhan
in 3 minutes





