Kamis, 26 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Antara Benci dan Rindu, Inilah Daya Tarik Magis Jengkol

Liaa - Thursday, 26 February 2026 | 06:20 AM

Background
Antara Benci dan Rindu, Inilah Daya Tarik Magis Jengkol

Antara Aroma yang Menguji Nyali dan Sejuta Nutrisi: Mengapa Jengkol Layak Jadi Superfood Lokal

Pernah nggak sih kamu lagi asyik nongkrong di Warteg, terus tiba-tiba ada aroma tajam yang menusuk hidung, yang saking ikoniknya, kamu nggak perlu nanya itu bau apa? Yak, bener banget. Siapa lagi kalau bukan jengkol. Buat sebagian orang, bau ini adalah "polusi udara" yang harus dihindari sejauh mungkin. Tapi buat sekte pemuja jengkol, aroma ini adalah aba-aba bahwa kebahagiaan hakiki sebentar lagi mendarat di atas piring nasi hangat.

Jengkol, atau Archidendron pauciflorum, memang punya reputasi yang agak kontradiktif di Indonesia. Dia sering dihujat karena baunya yang bikin minder kalau mau ngobrol sama gebetan, tapi di sisi lain, dia adalah primadona yang selalu dicari. Jujurly, makan jengkol itu ibarat hubungan toxic yang bikin nagih: kita tahu risikonya (bau mulut dan bau toilet), tapi sensasi kenyalnya itu, lho, nggak ada lawan. Namun, di balik stigma "si bau" ini, ternyata jengkol menyimpan rahasia kesehatan yang nggak main-main. Bahkan, kalau kita bedah lebih dalam, jengkol bisa dibilang sebagai superfood kearifan lokal yang tersembunyi.

Bukan Sekadar Teman Nasi, Tapi Penjaga Imun Tubuh

Mari kita bicara fakta, bukan sekadar opini pecinta semur jengkol. Banyak yang belum tahu kalau jengkol itu kaya akan antioksidan. Ya, kamu nggak salah baca. Jengkol mengandung polifenol, flavonoid, dan terpenoid yang bertugas sebagai tameng buat tubuh kita dari serangan radikal bebas. Di zaman sekarang yang isinya polusi dan stres kerjaan yang numpuk, kita butuh asupan yang bisa menjaga sel-sel tubuh biar nggak cepat rusak. Jengkol hadir menawarkan solusi itu dengan harga yang jauh lebih murah dibanding suplemen mahal di apotek.

Selain antioksidan, jengkol juga merupakan sumber protein yang cukup tinggi. Buat para penganut gaya hidup vegetarian yang mungkin bosan dengan tempe dan tahu, jengkol bisa jadi alternatif sumber protein nabati yang mantap. Protein ini penting banget buat pembentukan jaringan tubuh dan otot. Jadi, kalau ada temanmu yang hobi nge-gym tapi diam-diam doyan jengkol, jangan diketawain. Siapa tahu ototnya terbentuk berkat bantuan nutrisi dari si bau ini.

Senjata Ampuh Buat Lawan Anemia dan Diabetes

Pernah merasa gampang lemes, pusing, atau wajah pucat? Bisa jadi kamu kurang darah alias anemia. Nah, jengkol ini ternyata mengandung zat besi yang lumayan tinggi. Zat besi adalah komponen kunci dalam pembentukan sel darah merah. Dengan mengonsumsi jengkol dalam batas wajar, produksi hemoglobin dalam tubuh bisa terjaga, sehingga oksigen tersalurkan dengan baik ke seluruh organ. Hasilnya? Kamu jadi lebih bertenaga dan nggak gampang ngantuk pas lagi rapat di kantor.



Nggak berhenti sampai di situ, ada penelitian yang menyebutkan bahwa jengkol punya potensi untuk membantu penderita diabetes. Beberapa zat aktif di dalamnya diklaim mampu membantu menurunkan kadar gula darah. Memang sih, ini bukan berarti kamu bisa makan jengkol sepuasnya terus berhenti minum obat dokter, tapi jengkol bisa menjadi pendukung diet sehat yang membantu metabolisme gula di tubuh jadi lebih stabil. Sebuah kabar baik buat kita yang hidup di tengah gempuran minuman boba dan kopi susu kekinian yang gulanya minta ampun itu.

Tulang Kuat dan Pencernaan Lancar: Jengkol Is The Key

Banyak anak muda sekarang yang sudah mulai mengeluh sakit pinggang atau tulang berasa "jompo" padahal umur baru kepala dua. Coba deh, sesekali lirik jengkol. Tanaman ini mengandung kalsium dan fosfor yang cukup melimpah. Dua mineral ini adalah duet maut yang dibutuhkan buat menjaga kepadatan tulang dan gigi. Jadi, daripada cuma sekadar tren minum susu kalsium, makan jengkol juga bisa jadi cara nikmat buat investasi masa tua biar nggak cepat keropos tulang.

Masalah klasik lainnya adalah pencernaan. Karena jengkol termasuk golongan biji-bijian, dia otomatis mengandung serat. Serat ini yang bikin pencernaan kamu jadi lancar jaya. Tapi ingat, kuncinya adalah moderasi. Jangan karena tahu manfaatnya, kamu langsung kalap makan satu kilogram jengkol sendirian. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, dan dalam kasus jengkol, berlebihan bisa bikin kamu kena "jengkolan" atau gangguan pada saluran kemih akibat asam jengkolat yang mengkristal.

Tips Menikmati Jengkol Tanpa Harus "Dibuang" dari Pergaulan

Kita semua setuju kalau satu-satunya kekurangan jengkol adalah baunya yang awet banget, baik di mulut maupun di kamar mandi. Tapi tenang, orang Indonesia itu kreatif. Biar nggak dijauhi teman kantor setelah makan siang, ada beberapa trik yang bisa dicoba. Pertama, saat memasak, rendam jengkol dengan air kapur sirih atau air rebusan kopi untuk menetralisir aromanya. Kedua, setelah makan, jangan lupa sikat gigi, pakai mouthwash, atau kunyah permen karet.

Sebenarnya, bau jengkol itu muncul karena kandungan asam jengkolat yang mengandung sulfur. Itu alami banget, kok. Malah beberapa orang bilang, makin bau jengkolnya, makin mantap rasanya. Tapi ya itu tadi, kita hidup di tengah masyarakat yang hidungnya sensitif. Jadi, tetaplah jadi penikmat jengkol yang bertanggung jawab.



Kesimpulan: Jangan Pandang Sebelah Mata si Bau yang Berjasa

Pada akhirnya, jengkol adalah bukti nyata bahwa jangan menilai sesuatu hanya dari "bungkus" atau aromanya saja. Di balik baunya yang intimidatif, jengkol menyimpan segudang manfaat yang luar biasa buat kesehatan tubuh kita. Mulai dari urusan darah, tulang, hingga pencegahan penyakit kronis, jengkol siap pasang badan.

Jadi, buat kamu yang selama ini masih gengsi buat makan jengkol, mungkin ini saatnya buat berdamai dengan rasa penasaranmu. Nggak perlu malu, karena banyak pesohor hingga pejabat yang diam-diam juga penggemar berat makanan ini. Jengkol bukan cuma soal rasa, tapi soal identitas kuliner yang unik dan berkhasiat. Selama kita tahu cara mengolahnya dan tahu batas makannya, jengkol bakal tetap jadi "superfood" yang paling mengerti lidah orang Indonesia. Mari kita makan, tapi jangan lupa siram toilet yang bersih ya!