Senin, 6 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Wajah Gradakan? Kenali Penyebab Beruntusan dan Cara Mengatasinya

Liaa - Monday, 06 April 2026 | 03:55 PM

Background
Wajah Gradakan? Kenali Penyebab Beruntusan dan Cara Mengatasinya

Dibalik Tekstur Gradakan: Kenapa Sih Wajah Kita Hobi Banget Beruntusan?

Pernah nggak sih, kamu bangun pagi, sudah niat mau memulai hari dengan penuh semangat, eh pas ngaca malah disambut sama pemandangan yang kurang mengenakkan? Bukannya wajah yang glowing dan mulus kayak porselen, yang ada malah tekstur kecil-kecil yang kalau diraba rasanya mirip aspal jalanan yang baru diperbaiki. Yup, itulah si "beruntusan". Si tamu nggak diundang yang hobi banget mampir ke jidat, pipi, atau dagu tanpa permisi.

Beruntusan itu ibarat mantan yang tiba-tiba nge-chat pas kita lagi merasa cantik-cantiknya: ngerusak mood. Fenomena ini sebenarnya adalah salah satu curhatan paling umum di forum-forum kecantikan atau grup WhatsApp pertemanan. Masalahnya, beruntusan itu nggak segede jerawat batu yang bisa kita "tembak" pakai obat totol lalu kempes besoknya. Beruntusan itu lebih licin, kecil-kecil tapi ramai, dan seringkali bikin kita jadi overthinking—ini gara-gara nggak cocok skincare, atau gara-gara kemarin kebanyakan makan gorengan, ya?

Sebenarnya, Apa Sih Beruntusan Itu?

Secara medis, beruntusan itu istilah awam. Di dunia dermatologi, dia bisa jadi apa saja. Bisa jadi itu comedonal acne (komedo putih yang terjebak di bawah kulit), atau bisa juga Fungal Acne alias Malassezia Folliculitis. Nah, yang terakhir ini sering banget salah didiagnosis. Kita sangka jerawat biasa, kita kasih obat jerawat keras, eh malah makin merajalela karena ternyata penyebabnya adalah jamur, bukan bakteri. Lucu ya, kulit kita kadang punya drama yang lebih rumit daripada sinetron prime time.

Tapi secara umum, beruntusan terjadi karena pori-pori kita tersumbat. Campuran antara minyak berlebih (sebum), sel kulit mati yang males luruh, plus kotoran dari polusi udara Jakarta atau kota besar lainnya yang makin hari makin nggak masuk akal. Ketika mereka semua "pesta pora" di dalam pori-pori dan terjebak, muncullah benjolan kecil-kecil itu.

Dosa-Dosa Kecil dalam Ritual Skincare

Salah satu penyebab paling umum beruntusan di kalangan anak muda zaman sekarang justru berasal dari sesuatu yang tujuannya baik: skincare. Gini lho, kita sering banget termakan tren "10 step skincare" atau langsung pengen coba bahan aktif persentase tinggi kayak retinol atau AHA/BHA padahal kulit kita lagi capek. Akhirnya apa? Skin barrier rusak. Kalau benteng pertahanan kulit sudah jebol, hal sekecil debu aja bisa bikin kulit protes lewat beruntusan.



Belum lagi urusan "double cleansing". Banyak yang mikir kalau nggak pakai makeup tebal, cuci muka pakai sabun aja cukup. Padahal, sunscreen yang kita pakai seharian itu formulanya dirancang buat nempel kuat di kulit. Kalau cuma dibilas sabun muka biasa, sisa-sisanya masih bakal nangkring di pori-pori. Besoknya? Ya selamat datang, beruntusan!

Gaya Hidup: Kopi Susu dan Kurang Tidur

Mari kita jujur-jujuran. Siapa yang tiap sore harus pesan kopi susu gula aren biar tetap waras pas ngerjain tugas atau kerjaan kantor? Gula dan produk olahan susu (dairy) adalah pemicu utama inflamasi bagi banyak orang. Lonjakan insulin gara-gara asupan gula berlebih bisa memicu kelenjar minyak buat kerja rodi. Hasilnya? Minyak makin banyak, pori-pori makin sumbat, beruntusan makin subur.

Ditambah lagi pola tidur yang berantakan. Istilah "beauty sleep" itu bukan mitos marketing. Saat kita tidur, kulit kita melakukan regenerasi dan memperbaiki kerusakan. Kalau kita baru merem jam 3 pagi gara-gara asyik scrolling TikTok atau maraton serial, kulit kita nggak punya waktu buat "healing". Stres karena kurang tidur juga meningkatkan hormon kortisol yang lagi-lagi ujung-ujungnya bikin kulit jadi rewel.

Faktor Lingkungan yang Nggak Bisa Kita Kontrol

Kadang kita sudah rajin cuci muka, diet sudah dijaga, tapi kok tetap gradakan? Coba cek bantal kamu. Kapan terakhir kali kamu ganti sarung bantal? Sarung bantal itu adalah sarang bakteri, keringat, dan sisa produk rambut yang kita pakai. Nempel di muka selama 7-8 jam setiap malam tentu ada konsekuensinya. Begitu juga dengan layar handphone yang sering kita tempelkan ke pipi pas lagi teleponan. Kelihatannya bersih, padahal bakterinya mungkin lebih banyak dari dudukan toilet umum.

Cuaca tropis yang lembap juga jadi faktor krusial. Keringat yang bercampur dengan debu jalanan itu adalah kombinasi maut buat pori-pori. Kalau kamu orangnya gampang keringatan, risiko beruntusan memang bakal lebih tinggi kalau nggak segera dibersihkan dengan benar.



Gimana Caranya Biar Wajah Kembali Mulus?

Kunci utama buat ngatasin beruntusan bukanlah beli produk paling mahal di mall, tapi "back to basic". Seringkali, kulit kita cuma butuh istirahat. Kurangi dulu produk-produk aneh yang klaimnya bisa bikin cerah dalam semalam. Fokus ke pembersihan yang maksimal (double cleansing itu wajib, titik), pakai pelembap yang nggak menyumbat pori (non-comedogenic), dan jangan pernah skip sunscreen.

Kalau kamu curiga itu Fungal Acne, coba pakai produk yang mengandung ketoconazole atau bahan antijamur, tapi jangan asal tebak—konsultasi ke dokter spesialis kulit itu selalu jadi jalan ninja yang paling aman. Jangan juga hobi memencet beruntusan sendiri. Bukannya mulus, yang ada malah iritasi atau meninggalkan bekas hitam yang hilangnya bisa berbulan-bulan.

Terakhir, belajarlah buat nggak terlalu keras sama diri sendiri. Standar kulit di media sosial yang mulus tanpa pori-pori itu seringkali hanyalah hasil filter dan lighting yang pas. Memiliki tekstur kulit itu manusiawi. Beruntusan adalah cara kulit kita berkomunikasi bahwa ada yang nggak beres di dalam tubuh atau rutinitas kita. Jadi, bukannya kesel, mending coba didengarkan: apa kulit kamu butuh minum air lebih banyak? Atau mungkin butuh tidur lebih awal malam ini? Yuk, lebih sayang sama kulit kita sendiri!