Senin, 6 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Nggak Disebut Cerita Bohong? Ini Rahasia Kata Dongeng

Liaa - Monday, 06 April 2026 | 03:35 PM

Background
Kenapa Nggak Disebut Cerita Bohong? Ini Rahasia Kata Dongeng

Mengulik Asal-Usul Kata 'Dongeng': Lebih dari Sekadar Pengantar Tidur yang Bikin Ngantuk

Kalau kita balik lagi ke memori masa kecil, rasanya nggak mungkin deh kalau kita nggak punya kenangan sama yang namanya dongeng. Entah itu cerita si Kancil yang cerdiknya kebangetan sampai bikin buaya kelihatan bloon, atau kisah Bawang Merah Bawang Putih yang plot twist-nya sudah kita hafal di luar kepala. Tapi, pernah nggak sih kalian kepikiran, dari mana sih sebenarnya kata "dongeng" itu berasal? Kenapa nggak disebut "cerita bohong" saja atau "omongan iseng"?

Mari kita tarik napas dalam-dalam dan menyelam ke dalam tumpukan kamus lama serta sejarah lisan kita yang super kaya. Secara harfiah, kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dongeng diartikan sebagai cerita yang tidak benar-benar terjadi. Singkat, padat, dan agak sedikit menusuk ya, seolah-olah dongeng itu cuma sekadar fiksi tanpa guna. Padahal, kalau kita bedah akarnya, kata ini punya nyawa yang jauh lebih dalam dari sekadar teks di atas kertas.

Etimologi yang Berakar dari Tradisi Lisan

Secara linguistik, kata "dongeng" disinyalir kuat berasal dari bahasa Jawa. Dalam khazanah bahasa Jawa, kita mengenal istilah ndongeng. Akar katanya mungkin terdengar sederhana, tapi maknanya adalah proses menuturkan sesuatu secara lisan. Menariknya, dalam beberapa dialek nusantara, ada kemiripan bunyi antara "dong" dengan suara-suara repetitif. Ada semacam irama di sana. Ingat kan, kalau orang tua kita mendongeng, suaranya pasti punya intonasi yang naik turun kayak wahana di Dufan? Nah, aspek auditif inilah yang menjadi nyawa dari dongeng.

Di masa lalu, sebelum gadget mengambil alih fungsi hiburan, dongeng adalah "Netflix" bagi nenek moyang kita. Bedanya, dongeng nggak butuh langganan bulanan, cuma butuh kemauan untuk duduk melingkar dan mendengarkan. Kata "dongeng" sendiri perlahan terserap ke dalam bahasa Melayu dan akhirnya menjadi bahasa Indonesia baku yang kita kenal sekarang. Ia menjadi payung besar bagi segala jenis narasi imajiner, mulai dari fabel, legenda, hingga mite.

Kenapa Harus 'Dongeng'? Bukan 'Hikayat' atau 'Babad'?

Mungkin kalian bertanya, "Eh, terus bedanya sama hikayat atau babad apa dong?" Nah, di sinilah letak serunya. Kalau hikayat itu biasanya punya kesan yang lebih megah, aristokratis, dan sering kali membawa unsur sejarah yang dicampur aduk dengan kesaktian para raja. Sementara babad, lebih dekat ke arah kronik sejarah meskipun bumbunya juga nggak kalah banyak.



Sedangkan dongeng? Dia itu lebih merakyat. Dongeng itu "low profile". Dia bisa tumbuh di dapur sambil ibu memasak, atau di pematang sawah saat bapak-bapak beristirahat. Dongeng nggak butuh validasi sejarah. Ia bebas sebas-bebasnya. Justru karena sifatnya yang "nggak benar-benar terjadi" inilah, dongeng punya kekuatan untuk menyisipkan pesan moral tanpa terkesan sedang menceramahi. Dongeng itu ibarat obat yang dibungkus cokelat; manis di mulut, tapi ada khasiat di dalamnya.

Evolusi Makna: Dari Pesan Moral ke 'Cerita Ngadi-Ngadi'

Lucunya, zaman sekarang makna kata dongeng mulai mengalami pergeseran yang cukup drastis di pergaulan anak muda. Sering banget kita dengar celetukan, "Ah, itu mah dongeng doang!" atau "Nggak usah mendongeng deh lo!". Di sini, dongeng sudah berubah konotasinya menjadi sinonim dari omong kosong atau alasan yang dibuat-buat (excuse). Sedih sih sebenarnya, melihat kata yang dulunya punya posisi sakral sebagai sarana transfer ilmu, sekarang malah jadi bahan ejekan buat orang yang suka membual.

Padahal, kalau kita mau jujur, hidup kita ini penuh dengan dongeng. Branding produk yang kita beli, narasi politik yang kita dengar di TV, sampai profil LinkedIn kita yang kadang terlalu "indah" itu, bukankah semuanya adalah bentuk dongeng modern? Kita semua adalah pendongeng dalam kapasitas kita masing-masing. Kita merangkai kata agar orang lain percaya pada sebuah narasi.

Fungsi Sosial: Lebih dari Sekadar Pengantar Tidur

Balik lagi ke soal asal-usul, dongeng tercipta karena adanya kebutuhan manusia untuk menjelaskan hal-hal yang tidak masuk akal atau terlalu berat untuk dijelaskan secara logika pada zamannya. Kenapa pelangi itu ada? Oh, itu selendang bidadari. Kenapa gunung itu meletus? Oh, penunggunya lagi marah.

  • Sarana Edukasi: Lewat dongeng, anak-anak belajar soal konsekuensi. Kalau nakal kayak Si Kancil, suatu saat bakal kena batunya.
  • Pelestarian Budaya: Dongeng membawa kode-kode budaya yang nggak tertulis dalam buku sejarah formal.
  • Koping Mekanisme: Di masa sulit, dongeng tentang pahlawan yang menang melawan raksasa memberikan harapan bahwa masalah sebesar apa pun pasti ada jalan keluarnya.

Jadi, meskipun secara etimologis ia berakar dari tradisi lisan yang sederhana, dongeng sebenarnya adalah fondasi dari cara kita memandang dunia. Tanpa dongeng, dunia mungkin bakal terasa sangat kering dan membosankan. Isinya cuma angka, data, dan fakta yang bikin kepala pening.




Akhir kata, asal-usul kata dongeng mengajarkan kita bahwa manusia adalah makhluk naratif. Kita butuh cerita untuk bisa bertahan hidup. Meski sekarang bentuknya sudah berubah jadi thread di Twitter (X) atau video pendek di TikTok, esensinya tetap sama: mendongeng.

Jadi, lain kali kalau kalian mendengar kata dongeng, jangan langsung berpikir itu cuma buat anak kecil yang belum tumbuh gigi. Dongeng adalah warisan kecerdasan nenek moyang kita dalam mengemas realita menjadi sesuatu yang bisa dinikmati siapa saja. Dan buat kalian yang hobinya "mendongeng" alias ngarang alasan ke gebetan, ya tolong dikurangi lah ya. Gunakanlah kemampuan mendongeng kalian untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, misalnya bikin naskah film atau nulis artikel keren kayak gini. Hehe.

Terima kasih sudah mau menyimak perjalanan singkat kita menelusuri jejak kata yang satu ini. Semoga setelah baca ini, kalian nggak lagi melihat dongeng sebagai sekadar cerita bohong, tapi sebagai bagian dari identitas kita sebagai manusia yang suka bercerita.