Selasa, 2 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Hari Gangguan Makan Sedunia, Memahami Pentingnya Berdamai dengan Tubuh Sendiri

RAU - Tuesday, 02 June 2026 | 09:36 AM

Background
Hari Gangguan Makan Sedunia, Memahami Pentingnya Berdamai dengan Tubuh Sendiri

Bagi sebagian besar orang, makanan adalah sumber energi, kesenangan, atau sarana hangat untuk berkumpul bersama keluarga di akhir pekan. Namun, bagi sebagian lainnya, setiap suapan makanan yang masuk ke mulut bisa menjadi sumber kecemasan yang hebat, rasa bersalah yang mendalam, dan pertempuran batin yang sangat melelahkan. Kondisi inilah yang dihadapi oleh para penyintas gangguan makan (eating disorders).

Untuk meningkatkan kesadaran global, meruntuhkan stigma keliru, serta menyatukan para ahli medis di seluruh dunia, tanggal 2 Juni secara resmi disepakati sebagai Hari Gangguan Makan Sedunia (World Eating Disorders Action Day).


Banyak orang di sekitar kita yang masih menganggap remeh masalah ini.

Di masyarakat, sering kali terdengar selentingan bahwa gangguan makan hanyalah bentuk dari sifat manja, fase remaja yang terlalu pilih-pilih makanan, atau sekadar obsesi berlebihan terhadap penampilan agar terlihat kurus mirip model di majalah. Padahal, jika kita menilik dari sudut pandang sains dan medis, gangguan makan adalah gangguan mental dan fisik serius yang sangat kompleks, bahkan memiliki angka kematian tertinggi di antara semua jenis gangguan kesehatan jiwa jika tidak ditangani dengan tepat.




Mengenal Jenis-Jenis Gangguan Makan yang Paling Umum

​Gangguan makan tidak hanya terdiri dari satu jenis. Ada beberapa variasi kondisi yang masing-masing memiliki karakteristik dan dampak kesehatan yang berbeda:

1.​Anoreksia Nervosa

Penderita kondisi ini memiliki ketakutan yang sangat intens terhadap kenaikan berat badan. Akibatnya, mereka akan membatasi asupan kalori secara ekstrem hingga berada di ambang kelaparan. Meskipun tubuh mereka sudah sangat kurus secara medis, saat melihat cermin, otak mereka mengalami distorsi yang membuat mereka tetap merasa "terlalu gemuk".



2.Bulimia Nervosa

Berbeda dengan anoreksia, penderita bulimia sering kali makan dalam porsi yang sangat besar dalam waktu singkat (binge eating). Namun, setelah makan, mereka dikuasai oleh rasa bersalah dan ketakutan yang hebat. Untuk mengatasinya, mereka akan memaksa tubuh mengeluarkan kembali makanan tersebut, baik dengan cara memicu muntah secara sengaja, menggunakan obat pencahar, atau berolahraga secara berlebihan hingga pingsan.

3.Binge Eating Disorder (BED)

Penderita BED juga sering mengonsumsi makanan dalam jumlah besar secara cepat hingga perut terasa sangat sakit. Bedanya dengan bulimia, mereka tidak melakukan tindakan untuk mengeluarkan makanan tersebut. Akibatnya, mereka sering kali harus berjuang menghadapi obesitas, diabetes, serta rasa malu dan depresi yang mendalam setelah siklus makan berlebihan itu selesai.




Akar Masalah: Bukan Cuma Soal Makanan

​Mengapa seseorang bisa mengalami gangguan makan? Riset sosiologi dan psikologi menunjukkan bahwa akar masalahnya hampir tidak pernah murni soal makanan itu sendiri. Makanan hanyalah medium yang digunakan oleh penderita untuk meluaskan kontrol diri mereka ketika aspek kehidupan lainnya terasa kacau atau tidak bisa dikendalikan.

​Faktor pemicunya sangat beragam.

Mulai dari faktor genetik (adanya riwayat keluarga dengan kondisi serupa), ketidakseimbangan senyawa kimia di otak, hingga tekanan sosial yang masif. Di era digital saat ini, algoritma media sosial sering kali membombardir pengguna dengan standar kecantikan yang tidak realistis—kulit tanpa cela, tubuh super ramping, dan perut rata. Paparan konstan ini, jika bertemu dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah atau trauma masa lalu (seperti pernah menjadi korban perundungan), bisa menjadi pemicu utama munculnya gangguan makan.




Pentingnya Memutus Rantai Komentar Fisik

​Peringatan Hari Gangguan Makan Sedunia setiap tanggal 2 Juni hadir sebagai pengingat keras bagi kita semua untuk mengevaluasi cara kita berkomunikasi sehari-hari. Sadar atau tidak, basa-basi yang paling sering diucapkan saat bertemu teman atau kerabat di Indonesia adalah seputar fisik, seperti: " Eh, kamu sekarang gemukan ya?"atau " Kok kurus banget sekarang, kayak orang sakit."

​Bagi orang dengan sistem psikologis yang stabil, ucapan itu mungkin terdengar seperti angin lalu. Namun, bagi seseorang yang sedang berjuang di ambang gangguan makan, komentar singkat tersebut bisa menjadi pematik (trigger) yang merusak seluruh proses pemulihan mereka selama berbulan-bulan. Memutus rantai komentar fisik dan beralih menanyakan kabar emosional adalah bentuk kepedulian paling nyata yang bisa kita lakukan.


Langkah Menuju Pemulihan



​Menyembuhkan gangguan makan membutuhkan waktu, kesabaran yang luar biasa, serta pendekatan multidisiplin. Penderita tidak bisa sekadar disuruh " Ayo dong, makan yang banyak" atau " Sudah, jangan muntah lagi".

Mereka membutuhkan bantuan dari tim profesional yang terdiri dari psikolog atau psikiater untuk mengurai masalah emosional di kepala mereka, dokter spesialis dalam untuk memantau kesehatan fisik, serta ahli gizi untuk membantu menyusun kembali pola makan yang aman dan seimbang tanpa memicu rasa takut.

​Dukungan terbaik dari lingkungan terdekat adalah menciptakan ruang aman yang bebas dari penghakiman. Berdamai dengan makanan dan tubuh sendiri adalah sebuah perjalanan panjang. Melalui momen 2 Juni ini, mari kita gaungkan pesan bahwa setiap bentuk tubuh berhak untuk dihormati, dirawat, dan dicintai apa adanya.