Manisnya Sejarah Donat Sedunia dan Kisah Unik di Balik Bolong Tengahnya
RAU - Tuesday, 02 June 2026 | 09:41 AM


Aroma adonan mentega yang digoreng wangi, taburan gula halus yang putih bersih, lelehan cokelat yang mengilat, hingga jajaran warna-warni sprinkles di atasnya ya, sulit rasanya untuk menolak pesona sepotong donat hangat. Kue berbentuk bulat dengan lubang khas di tengahnya ini telah sukses menjadi camilan lintas generasi di seluruh penjuru dunia.
Namun, tahukah kamu kalau camilan manis ini punya hari perayaannya sendiri?
Setiap hari Jumat pertama di bulan Juni, dunia merayakan Hari Donat Sedunia (World Donut Day).
Bagi kebanyakan orang, hari ini mungkin terlihat seperti trik pemasaran dari gerai-gerai donat besar untuk memberikan promo diskon atau bagi-bagi donat gratis.
Namun, jika kita menggali lembaran sejarah ke belakang, perayaan ini sebenarnya memiliki latar belakang yang sangat mendalam, menyentuh, dan penuh dengan nilai kepahlawanan.
Para Perempuan Tangguh di Garis Depan Perang
Sejarah Hari Donat Sedunia bermula pada tahun 1938 di kota Chicago, Amerika Serikat.
Organisasi kemanusiaan *The Salvation Army* mencetuskan hari ini bukan untuk merayakan kuenya, melainkan untuk menggalang dana sekaligus menghormati jasa luar biasa dari para perempuan sukarelawan selama masa Perang Dunia I pada tahun 1917.
Kala itu, sekitar 250 perempuan sukarelawan dikirim langsung ke garis depan medan pertempuran di Prancis. Tugas mereka sangat menantang dan berbahaya: memberikan dukungan moral, menyediakan fasilitas ibadah, serta memasak makanan rumahan untuk para tentara yang sedang didera stres perang.
Karena keterbatasan bahan baku dan alat masak di tenda-tenda darurat yang dekat dengan parit pertempuran, para perempuan ini memutar otak. Mereka memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang ada seperti tepung, gula, dan minyak lalu menggoreng adonan kue manis dalam jumlah besar menggunakan helm baja para tentara sebagai wadah daruratnya.
Para sukarelawan tangguh ini kemudian dijuluki sebagai "Donut Lassies"
Bagi para prajurit yang sedang kedinginan dan ketakutan di medan perang, sepotong donat hangat yang manis dan secangkir kopi segar bukan sekadar pengisi perut yang lapar. Kehadiran donat itu adalah suntikan moral luar biasa yang membawa ingatan hangat tentang rumah dan keluarga mereka. Sekembalinya para tentara ini ke tanah air setelah perang usai, kecintaan mereka pada donat menyebar luas dan memicu ledakan popularitas kue ini di seluruh negeri.
Misteri Lubang di Tengah Donat: Dari Mana Asalnya?
Salah satu pertanyaan terbesar yang paling sering muncul saat kita memakan donat adalah: Kenapa harus ada lubang di tengahnya? Mengapa tidak dibuat bulat utuh saja seperti roti pada umumnya? Ada beberapa versi sejarah yang menjelaskan asal-usul keunikan arsitektur kuliner ini, namun kisah Kapten Hanson Gregory adalah yang paling legendaris.
Pada tahun 1847, Hanson Gregory adalah seorang kapten kapal pesiar asal Amerika yang berusia 22 tahun. Ibunya sering membekalinya dengan kue goreng manis yang dibumbui buah pala untuk menemani perjalanannya di laut lepas. Namun, Gregory mengeluhkan satu hal: bagian tengah kue goreng tersebut selalu berakhir mentah, lembek, dan terlalu berminyak karena bagian pinggirannya sudah matang duluan saat digoreng.
Suatu hari, saat sedang berada di dapur kapal, Gregory berinisiatif mengambil adonan kue tersebut lalu melubangi bagian tengahnya menggunakan pipa penutup tempat bumbu lada yang terbuat dari timah. Ketika digoreng kembali, seluruh bagian adonan matang dengan sangat merata, renyah di luar, dan empuk di dalam. Solusi praktis di atas kapal laut itulah yang akhirnya menjadi awal bentuk donat modern yang kita nikmati hari ini.
Evolusi Donat: Dari Tepung Sederhana Hingga Seni Kuliner Tinggi
Memasuki abad ke-20, donat mengalami industrialisasi besar-besaran. Pada tahun 1920, seorang pengungsi asal Rusia bernama *Adolph Levitt* menciptakan mesin pembuat donat otomatis pertama di New York. Mesin ini mampu memproduksi donat dalam jumlah ribuan dengan kecepatan tinggi, membuat harga donat menjadi sangat murah dan bisa dijangkau oleh kaum buruh jelata.
Kini, di abad ke-21, donat telah berevolusi dari sekadar makanan murah menjadi sebuah karya seni kuliner tinggi (artisanal food). Kita tidak lagi hanya menemui donat kampung dengan taburan gula halus atau meses cokelat standar. Gerai-gerai donat modern kini menawarkan variasi rasa gourmet yang sangat berani, seperti donat dengan kombinasi rasa asin-manis (salted caramel), taburan daging asap (bacon glaze), isian krim teh hijau Jepang (matcha), hingga donat vegan yang bebas gluten.
Meskipun rasanya terus berubah mengikuti tren zaman, bentuk lingkarannya yang ikonik tetap tidak tergantikan.
Jadi, saat kamu membeli sekotak donat untuk dinikmati bersama teman atau keluarga hari ini, ingatlah bahwa kamu tidak hanya sedang memakan sepotong kue manis kamu sedang merayakan sebuah tradisi kehangatan yang sudah berusia lebih dari satu abad. Selamat Hari Donat!
Next News

Benarkah Membereskan Tempat Tidur Setelah Bangun Bisa Mengubah Jalannya Hari?
6 hours ago

Gaya Hidup Zero-Waste, Mulai dari Langkah Kecil
6 hours ago

Hari Gangguan Makan Sedunia, Memahami Pentingnya Berdamai dengan Tubuh Sendiri
7 hours ago

Dari Mana Asalnya Lumut di Wadah Air? Misteri Si Hijau yang Tiba-Tiba Muncul
in 3 hours

Chemistry Ikonik SRK & Kajol di Film Dilwale: Obat Rindu Fans
in 2 hours

Lidah Terasa Pahit Pas Sakit? Simak Penyebab dan Solusinya
in 23 minutes

Kenapa Magnet Tidak Nempel di Semua Benda? Cek Faktanya
in 18 minutes

Kenapa Kepala Refleks Geleng-Geleng Saat Makan Enak? Ini Penjelasan Ilmiahnya
2 minutes ago

Rahasia di Balik Hobi Berisiko Pria yang Sering Masuk FYP
7 minutes ago

Alasan Agneepath Jadi Film India Paling Berbeda dan Ikonik
17 minutes ago





