Mengapa Down Syndrome Bisa Terjadi pada Bayi Baru Lahir? Kenali Penyebab dan Faktor Risikonya
Tata - Saturday, 01 August 2026 | 09:55 AM


Down syndrome merupakan salah satu kelainan genetik yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir. Kondisi ini terjadi ketika bayi memiliki salinan tambahan kromosom 21, sehingga jumlah kromosom menjadi 47, bukan 46 seperti pada umumnya. Kelebihan materi genetik tersebut memengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh sejak masih berada di dalam kandungan.
Sebagian besar kasus Down syndrome terjadi secara spontan akibat kesalahan pembelahan sel saat pembentukan sel telur atau sperma, atau pada tahap awal perkembangan embrio. Kondisi ini dikenal sebagai trisomi 21, yaitu penyebab paling umum dari Down syndrome. Kesalahan tersebut umumnya terjadi secara acak dan bukan akibat tindakan atau kebiasaan tertentu yang dilakukan orang tua selama kehamilan.
Selain trisomi 21, terdapat dua bentuk Down syndrome yang lebih jarang, yaitu translokasi, ketika kromosom 21 tambahan menempel pada kromosom lain, dan mosaik, ketika hanya sebagian sel tubuh yang memiliki kromosom tambahan. Bentuk mosaik umumnya memiliki gejala yang dapat bervariasi pada setiap individu.
Salah satu faktor yang diketahui dapat meningkatkan peluang terjadinya Down syndrome adalah usia ibu saat hamil, terutama pada usia 35 tahun atau lebih. Meski demikian, sebagian besar bayi dengan Down syndrome justru lahir dari ibu berusia di bawah 35 tahun karena kelompok usia tersebut memiliki angka kelahiran yang lebih tinggi secara keseluruhan.
Beberapa faktor lain, seperti riwayat kehamilan sebelumnya dengan Down syndrome atau adanya translokasi kromosom yang diturunkan dari salah satu orang tua, juga dapat meningkatkan risiko pada sebagian kecil kasus. Oleh karena itu, pasangan dengan riwayat kelainan kromosom dapat mempertimbangkan konseling genetik sebelum merencanakan kehamilan.
Bayi yang lahir dengan Down syndrome umumnya memiliki ciri fisik tertentu, seperti wajah yang cenderung datar, mata sedikit miring ke atas, leher lebih pendek, tonus otot yang lebih lemah, serta telapak tangan dengan satu garis melintang. Namun, tidak semua bayi menunjukkan ciri yang sama, sehingga diagnosis dipastikan melalui pemeriksaan kromosom.
Selain memengaruhi perkembangan intelektual, Down syndrome juga dapat disertai kondisi kesehatan lain, seperti kelainan jantung bawaan, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, masalah tiroid, atau gangguan saluran pencernaan. Karena itu, bayi dengan Down syndrome memerlukan pemantauan kesehatan secara berkala agar berbagai kondisi penyerta dapat dideteksi dan ditangani sejak dini.
Saat ini belum ada cara untuk mencegah Down syndrome karena kondisi ini merupakan kelainan genetik. Namun, pemeriksaan kehamilan secara rutin, skrining prenatal, dan pemeriksaan diagnostik bila diperlukan dapat membantu mendeteksi kondisi ini sejak masa kehamilan. Setelah lahir, penanganan yang tepat, terapi tumbuh kembang, dukungan keluarga, dan layanan kesehatan yang berkesinambungan dapat membantu anak dengan Down syndrome mencapai potensi terbaiknya.
Next News

Tenggorokan Penuh Lendir? Gini Cara Ngusirnya Pakai Makanan dan Minuman yang Gampang Dicari
in 7 hours

Hobi Gonta-ganti Warna Rambut: Ekspresi Diri atau Investasi Penyakit?
in 7 hours

Hamster Nggak Cuma Butuh Makan, Ini Cara Merawatnya Biar Tetap Sehat
in 7 hours

Sering Muncul Lebam Padahal Nggak Terbentur? Jangan Langsung Diabaikan
in 6 hours

Gunung Everest Ternyata Terus Berubah, Ini Fakta Menariknya
in 6 hours

Ritual Hemat Air Biar Nggak Panik Saat Sumur Kering di Musim Kemarau
in 6 hours

Kucing Kamu Cuek? Ini 5 Cara Melatih Si Anabul Biar Datang Saat Dipanggil
in 6 hours

Cuma Modal Paspor, 5 Negara Ini Bisa Jadi Destinasi Liburan Tanpa Ribet
in 6 hours

Pernah Keracunan Makanan, Apakah Bisa Memengaruhi Daya Ingat Anak?
in 6 hours

Dilema Roti Berjamur: Dipotong atau Dibuang Semua? Ini yang Perlu Kamu Tahu
in 6 hours





