Kamis, 17 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Gunung Everest Ternyata Terus Berubah, Ini Fakta Menariknya

Tata - Thursday, 17 September 2026 | 09:55 AM

Background
Gunung Everest Ternyata Terus Berubah, Ini Fakta Menariknya

Gunung Everest Ternyata Terus Berubah, Ini Fakta Menariknya

Siapa sih yang nggak kenal Gunung Everest? Dari zaman kita masih pakai seragam merah-putih sampai sekarang sudah sibuk cari cuan, nama Everest selalu nangkring di buku geografi sebagai atap dunia. Tingginya yang mencapai 8.848 meter di atas permukaan laut bikin gunung ini jadi semacam "piala dunia" bagi para pendaki profesional. Tapi, tahu nggak sih kalau Everest itu sebenarnya nggak cuma sekadar gundukan batu raksasa yang diam membisu? Ternyata, gunung ini "hidup" dan terus berubah setiap detiknya.

Bayangkan saja, Everest itu ibarat selebriti yang hobi gonta-ganti penampilan, tapi prosesnya butuh waktu ribuan tahun. Buat kalian yang mengira Everest itu benda mati yang statis, siap-siap buat kaget. Dari soal tingginya yang nambah terus sampai rahasia di balik suaranya yang menyeramkan saat malam hari, Everest menyimpan banyak plot twist yang lebih seru daripada drama Korea.

Pertama, Everest Ternyata Masih "Masa Pertumbuhan"

Kalau kita manusia berhenti tumbuh setelah masa puber lewat, Everest justru sebaliknya. Gunung ini makin tua makin tinggi. Gila nggak tuh? Pada tahun 2020 kemarin, China dan Nepal sepakat melakukan pengukuran ulang setelah sekian lama berdebat soal tinggi pastinya. Hasilnya? Tinggi Everest sekarang resmi berada di angka 8.848,86 meter. Ada tambahan sekitar 86 sentimeter dari pengukuran legendaris sebelumnya.

Kenapa bisa nambah tinggi? Jawabannya ada di bawah tanah. Lempeng tektonik India terus-terusan "nyeruduk" lempeng Eurasia dengan kecepatan yang sangat lambat—kira-kira setara dengan kecepatan kuku jari kita tumbuh. Tabrakan pelan tapi pasti ini mendorong daratan di atasnya makin menjulang ke langit. Jadi, kalau kalian nanya tinggi Everest sepuluh tahun lagi, angkanya pasti sudah beda lagi. Istilahnya, Everest itu lagi proses glow up tanpa henti.

Suara Misterius yang Bikin Merinding

Pernah dengar cerita pendaki yang merasa Everest itu "berteriak" atau mengeluarkan suara retakan yang keras banget pas malam hari? Banyak yang mengaitkan ini dengan hal-hal mistis, tapi sains punya penjelasan yang lebih logis (meskipun tetap bikin merinding). Para peneliti menemukan bahwa Everest mengalami aktivitas seismik mikro setiap malam.



Saat matahari terbenam, suhu di sana anjlok drastis. Perubahan suhu yang ekstrem ini bikin lapisan es di puncak mengalami kontraksi atau menyusut secara tiba-tiba. Proses penyusutan es ini menimbulkan suara retakan yang menggelegar di keheningan malam. Bayangin lagi tidur di tenda yang tipis, terus dengar suara bumi seolah lagi retak di bawah kaki kalian. Nggak heran kalau banyak pendaki yang bilang suasana di sana itu magis sekaligus intimidatif.

Masalah Sampah dan "Microplastic" di Atap Dunia

Nah, ini fakta yang agak menyedihkan. Karena statusnya sebagai ikon dunia, Everest jadi korban popularitasnya sendiri. Setiap tahun, ratusan orang mencoba mendaki ke puncaknya, dan sayangnya, mereka nggak cuma meninggalkan jejak kaki. Everest sekarang sering dijuluki sebagai tempat pembuangan sampah tertinggi di dunia. Dari tabung oksigen bekas, tenda yang robek, sampai kotoran manusia, semuanya menumpuk di sana.

Bahkan yang lebih parah, penelitian terbaru menemukan adanya mikroplastik di dekat puncak Everest. Padahal, itu adalah salah satu tempat paling terpencil di bumi. Ini membuktikan kalau polusi manusia sudah sampai ke titik tertinggi yang bisa kita capai. Rasanya miris ya, tempat seindah dan sekeren itu harus tercemar gara-gara ego manusia yang pengen eksis tapi lupa caranya menjaga alam.

Gletser yang Mencair Mengungkap Rahasia Kelam

Efek pemanasan global juga nggak main-main dampaknya ke Everest. Gletser di sana mencair lebih cepat dari yang diperkirakan. Tapi, mencairnya es ini malah membuka kotak pandora yang selama ini tertutup rapat. Banyak jasad pendaki dari puluhan tahun lalu yang dulunya tertimbun es, sekarang mulai muncul ke permukaan.

Bagi komunitas pendaki, ini adalah pengingat betapa mematikannya Everest. Di beberapa jalur pendakian, jasad-jasad ini bahkan dijadikan "penanda jalan" oleh para pendaki lain. Kedengarannya memang dark banget, tapi itulah realita di gunung tertinggi ini. Perubahan iklim nggak cuma mengubah bentuk fisik gunung, tapi juga memunculkan kembali sejarah-sejarah kelam yang seharusnya sudah terkubur selamanya.



Kesimpulan: Everest yang Tak Lagi Sama

Everest bukan lagi sekadar tantangan fisik bagi para petualang. Dia adalah cermin dari kondisi planet kita saat ini. Dia terus tumbuh karena kekuatan tektonik, tapi di saat yang sama, dia "terluka" karena aktivitas manusia dan perubahan iklim. Melihat Everest terus berubah bikin kita sadar kalau alam itu dinamis banget. Nggak ada yang abadi, bahkan untuk gunung setinggi Everest sekalipun.

Jadi, kalau kalian punya mimpi buat menaklukkan Everest, ingatlah kalau gunung yang kalian lihat di foto hari ini mungkin sudah beda dengan gunung yang akan kalian daki sepuluh tahun lagi. Everest bakal terus berubah, entah itu makin tinggi menjulang atau makin rapuh karena esnya hilang. Tugas kita sebagai penghuni bumi cuma satu: minimal jangan nambahin beban buat si atap dunia ini dengan sampah-sampah kita sendiri. Biarkan Everest tetap jadi legenda yang megah, bukan sekadar monumen sampah yang menyedihkan.